Iyek Aghnia: Untuk Negeri yang Lebih Baik, Menulislah

Oleh Iyek Aghnia

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.”
— Seno Gumira Ajidarma

ORBITINDONESIA.COM - Kamis malam, 12 Februari 2026, saya dihubungi Ketua PWI Bangka Selatan, Dedy Irawan. Di ujung telepon, ia menyampaikan undangan dari Ustaz Bachtiar untuk mengisi kelas menulis bagi para guru dan tenaga pendidik di Sekolah Islam Terpadu (IT) Cahaya, Toboali.

Ustaz Bachtiar adalah Sekretaris Yayasan IT Cahaya, sekaligus seorang penulis buku yang memiliki perhatian besar pada penguatan literasi di lingkungan pendidikan. Undangan itu bukan sekadar agenda berbagi teknik menulis, melainkan ajakan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa menulis adalah kerja peradaban.

Jumat siang, 13 Februari 2026, bersama Dedy Irawan dan penulis buku Lawang Uma, Rapi Pradipta, kami berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang pentingnya membangun budaya menulis di kalangan guru dan tenaga kependidikan IT Cahaya Toboali. Percakapan mengalir hangat, menyentuh persoalan klasik: bagaimana menjadikan menulis sebagai kebiasaan, bukan sekadar tugas.

Budaya menulis sejatinya telah hadir sejak manusia mengenal simbol dan bahasa. Dari lukisan gua prasejarah hingga naskah kuno, peradaban dibangun oleh jejak tulisan. Maka, generasi muda negeri ini seharusnya tidak sekadar mewarisi, tetapi juga mengembangkan tradisi itu agar lahir generasi yang cerdas, reflektif, dan kreatif.

Tak ada kata terlambat untuk mulai menulis. Andrea Hirata, misalnya, mulai menulis secara serius di usia yang tidak lagi muda. Karyanya, Laskar Pelangi, bukan hanya menjadi buku laris, tetapi juga diangkat ke layar lebar dan menginspirasi jutaan pembaca tentang mimpi, pendidikan, dan perjuangan anak bangsa di Belitong.

Para pendiri bangsa pun meninggalkan jejak melalui tulisan. Di tengah penjara dan keterbatasan, Bung Karno dan Bung Hatta tetap menulis. Gagasan mereka melampaui dinding sel, menggerakkan kesadaran kolektif, dan menjadi inspirasi bagi generasi sesudahnya. Tulisan-tulisan itu bukan sekadar catatan sejarah, melainkan suluh yang menerangi arah bangsa.

Budaya membaca dan menulis merupakan fondasi proses belajar-mengajar, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat. Kita menjadi cerdas bukan hanya karena mendengar dan melihat, tetapi karena merenung, menafsir, dan menuangkannya kembali dalam bentuk tulisan. Di sanalah daya pikir diasah dan karakter dibentuk.

Lebih jauh, menulis juga memperlancar interaksi sosial. Melalui tulisan, gagasan dapat dipertukarkan secara jernih, perbedaan dapat dijembatani, bahkan konflik dapat diredakan. Dalam skala yang lebih luas, tulisan menjadi medium diplomasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan—semua bermuara pada peningkatan kesejahteraan manusia.

Di era teknologi informasi yang berkembang pesat, tulisan tetap menjadi medium komunikasi yang efektif dan terpercaya. Platform boleh berubah, tetapi esensinya tetap: tulisan adalah wadah gagasan dan warisan pemikiran.

Ketika ditanya apa motivasi mereka menulis, para pendiri bangsa menjawab tegas: agar Indonesia menjadi lebih baik. Sebuah jawaban yang sederhana, tetapi sarat makna.

Maka, jika kita ingin menjadikan negeri ini lebih baik, sebagaimana pesan Bung Karno dan Bung Hatta, mulailah dengan menulis. Karena menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan ikhtiar untuk meninggalkan jejak.

Seperti dikatakan Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Menulislah. Sebab dari sanalah gagasan hidup, sejarah tercatat, dan masa depan dirintis.

(*Iyek Aghnia adalah nama pena Rusmin Sopian.) ***