Radikalisme Anak: Ancaman Digital dari Game dan Media Sosial
ORBITINDONESIA.COM – Peristiwa mengejutkan terjadi ketika seorang anak di Medan tega menghabisi nyawa ibunya karena game online dihapus. Ini adalah satu dari banyak contoh dampak radikalisme digital pada anak-anak di Indonesia.
Sepanjang tahun 2025, BNPT melaporkan 112 anak di 26 provinsi terpapar radikalisme melalui media sosial dan game online. Anak-anak, terutama yang berasal dari keluarga broken home, menjadi sasaran empuk ideologi ekstrem.
Radikalisasi digital berlangsung cepat, hanya membutuhkan 3 hingga 6 bulan. Algoritma media sosial menciptakan ekosistem yang memperkuat paparan radikal. Interaksi sederhana seperti likes atau shares bisa memicu rekomendasi konten ekstrem.
Peran orang tua dan pendidikan literasi digital menjadi kunci pencegahan. Ketidakpedulian terhadap aktivitas online anak bisa berakibat fatal. Sosialisasi bahaya radikalisme digital harus digencarkan.
Kita harus bertanya, bagaimana masa depan anak-anak jika ancaman digital ini tidak segera diatasi? Literasi digital bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan mendesak untuk melindungi generasi penerus.