Krisis Budaya di Co-op: Tantangan dan Dampaknya
ORBITINDONESIA.COM – Sejumlah manajer senior di Co-op mengungkapkan adanya 'budaya toksik' yang mengancam kinerja dan etos bisnis yang selama ini dijunjung tinggi perusahaan.
Co-op, grup makanan dan layanan yang dimiliki anggota, menghadapi tudingan dari dalam terkait budaya kerja yang menakutkan. Manajer senior merasa takut menyuarakan kekhawatiran mereka di depan para eksekutif, termasuk CEO Shirine Khoury-Haq. Situasi ini disebut-sebut menurunkan moral dan menyebabkan serangkaian keputusan buruk.
Kritik ini muncul di tengah penurunan laba dan peningkatan limbah makanan yang signifikan. Keputusan manajemen, seperti restrukturisasi besar-besaran, dinilai mengabaikan saran staf berpengalaman dan menyebabkan kebingungan di kalangan pemasok. Penurunan kinerja operasional Co-op tidak lagi bisa semata-mata disalahkan pada serangan siber tahun lalu.
Banyak pihak dalam Co-op merasa bahwa keputusan-keputusan yang diambil cenderung mengabaikan masukan dan disampaikan dengan buruk. Ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana sebuah organisasi dengan sejarah panjang etika dan nilai-nilai luhur dapat terperosok ke dalam situasi ini. Ada yang merasa ini seperti 'gaslighting' korporat dengan manajemen puncak yang menyangkal masalah yang jelas terlihat.
Co-op berakar pada prinsip menyediakan makanan berkualitas dengan harga wajar bagi kelas pekerja. Namun, tantangan internal ini mempertanyakan komitmen tersebut. Apakah Co-op dapat kembali ke akar dan prinsipnya atau justru akan semakin kehilangan arah? Ini mungkin saatnya bagi anggota untuk bertindak dan memastikan bahwa suara dan nilai mereka benar-benar dihargai.
(Orbit dari berbagai sumber, 1 Maret 2026)