Ali Samudra: Ramadan Sebagai Bulan Internasional - Ketika Bulan Suci Diuji oleh Perang dan Kepentingan Politik
Oleh Ali Samudra
ORBITINDONESIA.COM - Ramadan bukan hanya milik satu bangsa atau satu negara. Dengan lebih dari dua miliar Muslim di seluruh dunia—sekitar seperempat penduduk bumi—yang menjalankan puasa, Ramadan telah berubah menjadi ritme global yang dirasakan dari Jakarta sampai New York, dari Lagos sampai London.
Lembaga-lembaga internasional seperti United Nations dan berbagai badan PBB rutin menyampaikan pesan khusus menyambut Ramadan, menekankan nilai harapan, perdamaian, dan solidaritas kemanusiaan.
Di banyak negara Barat, Ramadan bahkan sudah masuk dalam kalender resmi diplomasi — dari White House Iftar di Amerika Serikat hingga Ramadan Lights di pusat kota London.
Dimensi Positif: Diplomasi, Ekonomi, dan Solidaritas Global
Selama dua dekade terakhir, kita menyaksikan bagaimana Ramadan menjadi: Musim Diplomasi Spiritual. Pemerintah negara-negara mayoritas non-Muslim, seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Jepang, menyelenggarakan iftar diplomacy — mengundang para tokoh Muslim, duta besar, dan pemimpin agama lain untuk berbuka puasa bersama.
PBB dan organisasi internasional memanfaatkan momentum Ramadan untuk mengeluarkan seruan perdamaian dan penghentian kekerasan di berbagai zona konflik.
Badan UNESCO dan United Nations Alliance of Civilizations secara rutin merilis pernyataan Ramadan yang menekankan nilai belas kasih, saling menghormati, dan persatuan sebagai ‘One Humanity’. Ramadan dengan demikian bukan hanya bagian dari kalender keagamaan, tetapi juga kalender diplomasi kemanusiaan global.
Musim Ekonomi Global
Ramadan juga menjadi penggerak ekonomi: Laporan State of the Global Islamic Economy menunjukkan bahwa belanja konsumen Muslim di sektor makanan, fesyen, pariwisata halal, dan gaya hidup bernilai triliunan dolar per tahun, dengan puncak aktivitas pada Ramadan dan Idul Fitri
Di Indonesia, data lembaga riset ekonomi mencatat bahwa konsumsi rumah tangga meningkat signifikan di kuartal Ramadan, didorong oleh persiapan puasa dan Idhul Fitri—sekaligus menggerakkan sektor UMKM, ritel, dan jasa.
Musim Filantropi Internasional
Ramadan juga dikenal sebagai “global season of giving”: Dana zakat, infak, dan sedekah mengalir lintas negara: dari Asia Tenggara ke Palestina, dari Eropa ke pengungsi Suriah, dari komunitas diaspora ke kamp-kamp pengungsi di Afrika.
Lembaga-lembaga kemanusiaan Muslim dan non-Muslim sama-sama menjadikan Ramadan sebagai momentum penguatan solidaritas dan kepedulian.
Dalam gambaran ideal ini, Ramadan tampak sebagai bulan yang menyatukan dunia dalam nilai-nilai luhur: empati, keadilan sosial, dan perdamaian.
Ketika Bulan Suci Ditembus Serangan Militer
Semua gambaran ideal tadi diguncang secara brutal pada hari Sabtu, 10 Ramadan 1447 / 28 Februari 2026. Pada hari itu, Israel dan Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran — sebuah operasi yang dilaporkan oleh berbagai media sebagai upaya “regime change” dan penghancuran infrastruktur militer serta nuklir Iran.
Serangan melibatkan 200 jet tempur, rudal jelajah, dan drone yang menargetkan 500 titik sasaran di berbagai kota seperti Tehran, Isfahan, Qom, dan instalasi militer penting lainnya.
Target Kepemimpinan Tertinggi Iran
Berbagai laporan internasional (Al Jazeera, CNN, Reuters dan media besar lainnya) mengonfirmasi bahwa Ayatullah Ali Khamenei (86 th), Pemimpin Tertinggi Iran, tewas dalam serangan terhadap kompleks kepemimpinannya di Tehran. bersama ratusan korban sipil yang tersebar di berbagai lokasi di Iran.
Perlu digarisbawahi, serangan brutal ini yang dikomandoi oleh perdana mentri Israel, Netanyahu dan presiden Amerika, Donal Trump ini diluncurkan di tengah Ramadan, pada saat jutaan orang di Iran — dan miliaran di dunia — sedang berpuasa, berdoa, dan berharap ada sedikit jeda dari kekerasan.
Ramadan, Perang, dan Runtuhnya Ilusi “Penghormatan terhadap Bulan Suci”
Dalam diskursus publik, sering muncul ungkapan bahwa sebagian pihak — termasuk pemerintah negara-negara besar — akan “menghormati Ramadan” dengan menahan diri dari eskalasi militer di bulan suci.
Bahkan, sebelum serangan ini, ada sejumlah analis dan tokoh politik yang memperkirakan bahwa jika pun akan ada serangan besar terhadap Iran, kemungkinan besar dilakukan setelah Ramadan, dengan dalih menghormati sensitivitas umat Islam.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, serangan diluncurkan justru pada 10 Ramadan, bukan setelahnya.
Sejumlah organisasi dan tokoh Muslim dunia mengutuk keras penyerangan negara Muslim di bulan suci, menyebutnya sebagai tindakan yang “melukai perasaan umat Islam” dan bahkan “membangkitkan spirit Badr”—yakni semangat perlawanan moral dan spiritual terhadap agresi di bulan Ramadan.
Ramadan sebagai Bulan Internasional: Antara Cita-cita dan Kenyataan Pahit
Ironi ini justru menegaskan bahwa Ramadan memang bulan internasional —bukan hanya karena disambut di ratusan negara, tetapi juga karena menjadi titik ujian bagi nurani internasional:
Apakah dunia benar-benar menghormati nilai-nilai suci yang ia ucapkan di podium-podium resmi, ataukah nilai itu hanya dihormati selama tidak mengganggu kepentingan strategis?
Spirit Ramadan: Dari Kemarahan ke Kesadaran Global
Pertanyaannya: Bagaimana seharusnya umat Islam dan masyarakat dunia merespons?
Tidak terjebak dalam glorifikasi perang. Spirit Badr bukan romantisasi kekerasan, tetapi keteguhan moral menghadapi kezaliman. Mengubah kemarahan menjadi kesadaran dan solidaritas.
Ramadan adalah peluang menyatukan umat dan manusia dalam menolak standar ganda, menguatkan dukungan kepada korban sipil, dan menuntut akuntabilitas pelaku kekerasan — siapapun mereka.
Penutup: Ramadan, Cermin Wajah Peradaban
Ramadan 1447/2026 akan tercatat dalam sejarah bukan hanya sebagai bulan di mana miliaran manusia kembali menata diri, tetapi juga sebagai bulan ketika: bom dan rudal jatuh di negeri yang penduduknya sedang berpuasa, pemimpin spiritual-politik sebuah negara Muslim besar tewas, dan dunia dipaksa bercermin: sejauh mana kita sungguh-sungguh menghormati nilai kemanusiaan, bukan hanya simbol agama.
jika yang tampak dari dunia adalah perang, kezaliman, dan standar ganda, maka itu bukan karena Ramadannya yang kurang mulia, melainkan karena kita—manusia dan penguasa—yang gagal jujur terhadap makna kesuciannya.
Semoga, di tengah gelap asap perang yang mengepung sebagian dunia Muslim, cahaya Ramadan tetap menemukan jalan ke hati-hati yang tulus, dan mengubah kemarahan menjadi kesadaran, doa, dan kerja nyata bagi perdamaian.#
*Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin Jakarta Timur. ***