AS Bersiap Mengerahkan Kapal Induk Ketiga ke Wilayah Timur Tengah untuk Serangan terhadap Iran
ORBITINDONESIA.COM - AS sedang bersiap mengerahkan kapal induk ketiga ke Timur Tengah untuk serangan terhadap Iran, menurut laporan media pada hari Jumat, 6 Maret 2026.
Kapal induk Angkatan Laut AS USS George H.W. Bush telah menyelesaikan persiapan untuk berangkat ke Mediterania Timur, menurut Fox News.
Kapal tersebut, yang menyelesaikan persiapannya di lepas pantai Pulau Hatteras, Carolina Utara, diperkirakan akan segera berlayar.
Kapal induk tersebut memiliki puluhan pesawat tempur dan akan didampingi oleh kapal perusak rudal.
USS Gerald R. Ford saat ini beroperasi di Laut Merah, sementara kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) aktif di Laut Oman.
Ketegangan di Timur Tengah telah meningkat sejak akhir pekan lalu, ketika AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran, menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi, dan pejabat militer senior.
Iran telah membalas dengan serangan gencar yang menargetkan pangkalan AS, fasilitas diplomatik, dan personel militer di seluruh wilayah tersebut, serta beberapa kota di Israel.
Klaim Iran
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bahwa kapal induk AS USS Abraham Lincoln mundur dari perairan dekat Selat Hormuz setelah apa yang mereka sebut sebagai pertemuan dengan drone angkatan laut Iran.
Menurut kantor berita Iran Mizan, seorang juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya IRGC mengatakan bahwa kapal induk tersebut telah mendekati selat hingga sekitar 340 kilometer sebelum drone Iran menyerangnya.
“Kapal induk USS Abraham Lincoln, yang mendekati perairan teritorial Iran, diserang oleh drone Angkatan Laut Iran dan melarikan diri dengan kecepatan tinggi ditem ditemani oleh kapal perusaknya,” kata juru bicara tersebut.
Belum ada konfirmasi langsung tentang insiden tersebut dari otoritas militer AS.
Dalam perkembangan terpisah, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kepada NBC News bahwa sebuah kapal yang dilaporkan ditenggelamkan oleh pasukan AS di Samudra Hindia tidak bersenjata dan membawa petugas pelatihan. Araqchi menyebut serangan itu sebagai kejahatan perang.
Sebelumnya pada hari Rabu, angkatan laut Sri Lanka mengatakan telah menemukan 87 jenazah dari laut setelah tenggelamnya kapal perang Iran di Samudra Hindia.
Insiden-insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dan pertukaran militer yang sedang berlangsung yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel di seluruh wilayah tersebut.***