Hampers Eco Print dari Kudus: Hadiah Lebaran Ramah Lingkungan
Menjelang Lebaran, ada satu kebiasaan kecil yang selalu terasa hangat: saling mengirim hampers. Bukan sekadar hadiah, tetapi cara sederhana untuk menyampaikan perhatian, menjaga silaturahmi, dan berbagi kebahagiaan di hari yang suci.
Namun di tengah ramainya tren hampers Lebaran, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: tumpukan sampah yang tertinggal setelah perayaan usai. Banyak hampers dibuat dari bahan plastik atau kemasan sekali pakai yang akhirnya hanya berakhir sebagai limbah. Karena itu, di balik beragam pilihan hampers yang menarik, kita juga perlu mulai mempertimbangkan hadiah yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga lebih ramah bagi lingkungan.
Dari kegelisahan tentang limbah kemasan itulah, muncul berbagai upaya menghadirkan hampers yang lebih berkelanjutan. Salah satunya datang dari Kudus, Jawa Tengah. Di kota ini, seorang perempuan bernama Nunung Noor Khamimah menghadirkan pilihan hampers yang berbeda melalui karya eco print miliknya.
Melalui brand Jatisemi Ecoprint, ia mengolah dedaunan dan bahan alami menjadi berbagai produk fashion dan kerajinan yang unik.
Eco print sendiri merupakan teknik mencetak motif pada kain menggunakan bentuk alami daun dan bunga. Daun disusun di atas kain, kemudian diproses dengan metode tertentu hingga pigmen alami berpindah ke serat kain dan membentuk pola yang organik. Karena menggunakan bahan alami, setiap motif yang dihasilkan selalu berbeda, tidak ada dua produk yang benar-benar sama.
Dari proses sederhana itulah lahir berbagai produk yang kemudian bisa dikemas menjadi hampers Lebaran. Karya Nunung tidak hanya berupa kain, tetapi berkembang menjadi beragam produk fashion dan aksesori. Ia memproduksi gamis, rok, kemeja, jilbab, selendang, hingga tas, dompet, sepatu, sandal, dan gantungan kunci yang semuanya menggunakan teknik eco print.
Sebagian produk bahkan dapat disusun menjadi paket hampers, seperti tas kain bermotif daun yang dipadukan dengan scarf atau aksesori kecil. Ada pula kain eco print yang dijadikan pakaian keluarga atau busana sarimbit yang sering dipesan menjelang Lebaran.
Menariknya, motif-motif pada produk tersebut berasal dari dedaunan yang ditanam sendiri di sekitar rumah. Nunung memanfaatkan berbagai tanaman seperti daun jarak, pakis, kenikir, kalpataru, hingga bunga sepatu untuk menghasilkan pola alami yang berbeda-beda. Pewarna yang digunakan pun berasal dari bahan alam seperti kayu secang untuk warna merah, teger untuk kuning, indigo untuk biru, serta kayu ulin untuk cokelat.
Proses pembuatannya tidak singkat. Untuk satu lembar kain eco print, pengerjaan bisa memakan waktu dua hingga tiga jam. Dengan teknik ecopounding dan steaming, Nunung mampu memproduksi sekitar 50 lembar kain dalam sehari.
Kualitas dan proses manual itulah yang membuat produk eco print memiliki nilai tersendiri. Harga kain eco print ukuran dua meter misalnya berkisar antara Rp250 ribu hingga Rp2 juta, sementara produk gamis dijual mulai sekitar Rp550 ribu. Tas eco print bisa dibanderol mulai Rp95 ribu hingga lebih dari Rp1 juta, tergantung bahan yang digunakan.
Meski berawal dari produksi rumahan, karya eco print dari Kudus ini ternyata telah menarik perhatian pasar yang lebih luas. Produk-produk buatan Nunung bahkan pernah dibeli oleh konsumen dari luar negeri seperti Thailand dan Australia.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, hampers eco print seperti ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia bukan sekadar hadiah Lebaran yang indah, tetapi juga membawa pesan tentang keberlanjutan,btentang bagaimana alam bisa menjadi sumber inspirasi tanpa harus dirusak.