Dulu Anak Tukang Bangunan, Alif ToweW Pendiri Cerebrum Edukanesia yang Umrohkan Karyawannya

"Memiliki mimpi tanpa privilese membutuhkan keberanian besar dan perjuangan panjang untuk tidak menyerah."

Di Indonesia, tidak sedikit anak yang tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Kondisi tersebut kerap menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang ingin bermimpi lebih tinggi. Untuk melampaui batas-batas itu, dibutuhkan keberanian, ketekunan, serta kerja keras yang tidak mudah.

Namun bagi sebagian orang, keterbatasan justru tidak menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.

Hal itulah yang tercermin dalam perjalanan hidup Alif Hijriah atau yang lebih dikenal dengan nama Alif ToweW.  Ia tumbuh di rumah yang sederhana. Ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan, pekerjaan yang menuntut tenaga dan ketekunan setiap hari. Dari lingkungan itulah Alif belajar satu hal penting sejak kecil: bahwa masa depan tidak selalu datang dengan mudah, tetapi harus diperjuangkan dengan kesungguhan.

Sejak duduk di bangku sekolah, Alif dikenal sebagai siswa yang tekun belajar. Ia menyadari bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk mengubah kehidupan keluarganya. Dengan keyakinan itu, ia terus berusaha hingga akhirnya berhasil diterima di Institut Teknologi Bandung, salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Di kampus tersebut, ia memilih menekuni bidang Matematika, sebuah jurusan yang menuntut ketelitian, logika, serta ketekunan tinggi.

Namun kuliah di kota besar seperti Bandung membawa tantangan tersendiri, terutama bagi mahasiswa yang datang dari keluarga sederhana. Alif harus belajar hidup mandiri sekaligus mengatur berbagai kebutuhan sehari-hari. Pada masa-masa sulit itu, ia bahkan harus bertahan hidup dengan uang sekitar sebelas ribu rupiah untuk operasional sehari-hari.

Meski demikian, ia memilih menjadikan keterbatasan sebagai motivasi. Ia belajar lebih giat, memanfaatkan setiap kesempatan untuk berkembang, dan menjaga semangat agar tidak menyerah di tengah perjalanan.

Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Alif tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya, tetapi juga melanjutkan studi melalui program fast-track di Institut Teknologi Bandung, sehingga dapat menempuh pendidikan S1 dan S2 dalam waktu yang lebih singkat.

Berbekal pengalaman serta semangat untuk berbagi manfaat bagi lebih banyak orang, ia kemudian mendirikan perusahaan rintisan di bidang teknologi pendidikan, PT Cerebrum Edukanesia Nusantara. Melalui platform pembelajaran digital yang ia kembangkan, Alif ingin membantu lebih banyak pelajar Indonesia mendapatkan akses belajar yang lebih mudah dan terjangkau.

Dedikasinya di bidang pendidikan dan pemikirannya tentang pembangunan ekonomi kemudian membawanya dipercaya menjadi penasihat ekonomi di Coordinating Ministry for Food Affairs of the Republic of Indonesia.

Kini, Alif yang dulu bahkan untuk makan saja harus berjuang, perlahan berhasil mengubah arah hidupnya. Perusahaan yang ia bangun telah memiliki lebih dari tiga juta pengguna, bahkan ia mampu memberangkatkan para karyawannya untuk menunaikan ibadah umrah.

Perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa mimpi yang lahir dari rumah sederhana pun dapat membawa seseorang melangkah lebih jauh.

Kisah Alif mengingatkan kita bahwa latar belakang ekonomi bukanlah batas akhir dari masa depan seseorang. Dengan ketekunan, keberanian untuk bermimpi, dan kesediaan untuk terus belajar, keterbatasan dapat berubah menjadi kekuatan yang lebih besar.

Karena pada akhirnya, mimpi tidak selalu dimiliki oleh mereka yang paling beruntung, melainkan oleh mereka yang berani melangkah dan memperjuangkannya.