Filsuf Tata Wicara Demokratis -Apa yang Diberitahukan Kekaguman terhadap Jürgen Habermas tentang Zaman Kita
Sebuah Polemik Singkat oleh Pak Trum/Berthold Damhäuser
ORBITINDONESIA.COM - Cukup melihat siapa yang dipuja sebagai filsuf terbesar sebuah zaman untuk menilai sejauh mana cakrawala intelektualnya.
Bahwa hari ini Jürgen Habermas dianggap sebagai pemikir kontemporer terpenting di Jerman, bukan semata soal kebesaran pribadinya, melainkan cermin dari penyusutan ambisi filsafat. Sebuah peradaban yang dulu melahirkan pemikir yang menanyakan asal-usul dunia, hakikat jiwa, moralitas, atau makna hidup, kini merasa cukup dengan teori tentang cara manusia saling berbicara.
Filsuf terpandang zaman sekarang bukan lagi yang merenungkan keberadaan, melainkan pengatur percakapan.
Dalam perspektif ini, Habermas tampak seperti pengacara rumah tangga bagi diskursus publik: mengatur prosedur, menetapkan aturan pengertian bersama, menjaga “kebersihan” percakapan. Semua itu penting—tetapi juga sangat kecil, bila dibandingkan dengan tugas tradisional filsafat.
Universitas, media, dan publik politik menyambut gembira jenis pemikiran ini bukan kebetulan. Zaman kita curiga terhadap pertanyaan besar. Ia merasa lebih aman pada prosedur daripada kebenaran, pada aturan diskursus daripada wawasan metafisik. Teori komunikasi ini sempurna untuk masyarakat yang masalah terbesarnya kadang hanyalah: talk show mereka tidak berjalan.
Lebih mencolok lagi, siapa yang diabaikan oleh publik yang sama. Dari Jerman bisa disebut Robert Spaemann (1927–2018) dan Dieter Henrich (1927–2022), dua filosof yang masih sudi mengurus metafisika. Tetapi, siapa yang tahu nama mereka?
Tampaknya mereka akan bernasib sama seperti Rudolf Steiner, pendiri antroposofi dan penulis karya-karya esoteris, yang sekaligus juga menghasilkan karya yang secara ketat bersifat filosofis -misalnya bukunya Die Philosophie der Freiheit (Filsafat Kebebasan), tetapi tetap diabaikan sebagai filsuf oleh kalangan akademis maupun oleh publik luas.
Orang boleh menilai Steiner bagaimana pun—tetapi di sana ada usaha untuk kembali menanyakan kosmos, jiwa, pengetahuan, dan tujuan manusia. Hal seperti ini tampaknya mencurigakan bagi universitas modern.
Filsafat kontemporer telah mendomestikasi dirinya sendiri. Ia tidak lagi membangun pandangan dunia, menjangkau cakrawala metafisik, atau berpetualang secara intelektual. Sebaliknya, ia menganalisis diskursus, melegitimasi prosedur, dan mengomentari politik.
Bisa dikatakan: jika Habermas adalah filsuf Jerman terbesar zaman ini, mungkin bukan karena ia menjangkau ketinggian, tetapi karena zamannya dibangun begitu rendah.
Kekaguman terhadap pemikiran ini lebih banyak menceritakan tentang kerendahan hati zamannya daripada kebesaran filsufnya. Sebuah peradaban yang dulu berusaha memahami kosmos, kini tampak puas jika hanya bisa sepakat tentang bagaimana cara mendiskusikannya.
Bonn, tanggal 16 Maret 2026
*Berthold Damshäuser, akrab dipanggil “Pak Trum”, lahir pada tahun 1957 di Wanne-Eickel, Jerman. Sejak 1986 hingga 2023, ia mengabdikan dirinya sebagai pengajar bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Bonn. Ia adalah koeditor Orientierungen, jurnal bergengsi yang mengkaji kebudayaan Asia. Damshäuser dikenal luas sebagai penerjemah puisi—mengalihkan karya-karya Jerman ke dalam bahasa Indonesia dan sebaliknya—serta beberapa
kali dipercaya menjadi penerjemah Presiden Suharto dalam kunjungan kenegaraan. Bersama Agus R. Sarjono, ia menyunting Seri Puisi Jerman yang diterbitkan sejak 2003. Pada 2010, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
menunjuknya sebagai Presidential Friend of Indonesia. Pada 2014 dan 2015, ia diundang menjadi anggota Komite Nasional Indonesia sebagai Tamu Kehormatan Pekan Raya Buku Frankfurt. Esai-esainya dalam bahasa Indonesia telah menghiasi halaman Majalah Tempo, Jurnal Sajak, dan
berbagai media terkemuka. Karya-karya tulisnya dihimpun dalam buku Ini dan Itu Indonesia – Pandangan Seorang Jerman. Salah satu karya terbarunya, Eksegesis Pancasila: Membaca Ulang Lima Sila. Amatan Seorang Jerman, diterbitkan di Jakarta pada tahun 2025. Sejak 2023, ia menjadi
Anggota Persatuan Penulis Indonesia (Satupena). Iamenetap di Bonn.***