Prospek Suku Bunga AS di Tengah Konflik Iran, Apa Dampaknya?
ORBITINDONESIA.COM – Konflik di Iran membuat suku bunga pinjaman di Amerika Serikat berisiko tetap tinggi. Harapan untuk penurunan suku bunga harus tertunda lebih lama.
Perang di Iran mempersulit keputusan suku bunga Federal Reserve yang akan bertemu pada 18 Maret. Lonjakan harga minyak dan gas memicu revisi prediksi ekonom, mengancam inflasi lebih tinggi.
Harga energi yang meningkat dapat merambat ke ekonomi, menaikkan biaya transportasi, makanan, dan utilitas. Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi menunjukkan kenaikan harga konsumen di Januari, sebelum dampak perang Iran dirasakan penuh.
Kebijakan Fed menghadapi dilema, antara menurunkan inflasi ke target 2% dan mendukung pasar tenaga kerja yang melemah. Ekonom memprediksi tidak adanya pemotongan suku bunga tahun ini, bahkan mungkin kenaikan di 2026.
Ketika inflasi terus menekan, langkah kebijakan moneter menjadi lebih krusial. Apakah Fed akan mengutamakan stabilitas harga atau pertumbuhan lapangan kerja? Pertanyaan ini menjadi pusat perhatian ekonomi global.
(Orbit dari berbagai sumber, 19 Maret 2026)