China dan AS: Ketegangan Hormuz Membayangi Hubungan

ORBITINDONESIA.COM – Ketegangan di Selat Hormuz memunculkan dilema bagi AS, sementara China menanti dengan tenang, siap memetik keuntungan dari situasi ini.

Sejak perang Iran memasuki minggu ketiga, kekhawatiran meningkat akibat terhentinya aliran minyak di Selat Hormuz. AS, yang berharap mendapatkan dukungan dari sekutu-sekutunya, menghadapi kenyataan pahit ketika negara-negara tersebut enggan bertindak. Di tengah situasi ini, China menolak membantu AS membuka kembali selat tersebut, menambah tekanan pada Presiden Trump.

Keputusan China untuk tidak terlibat dalam membuka Selat Hormuz menunjukkan perubahan besar dalam dinamika geopolitik. Beijing tampaknya lebih memilih untuk menunggu dan melihat dampak dari langkah Trump, sementara terus mencari cara untuk menyeimbangkan kepentingan regionalnya di Timur Tengah. Bantuan kemanusiaan yang dikirim ke Iran menandakan pendekatan diplomatik yang lebih halus dari Beijing, dibandingkan dengan aksi militer langsung.

Banyak analis melihat penundaan kunjungan Trump ke China sebagai tanda bahwa AS mungkin telah salah kalkulasi dalam strategi militernya di Timur Tengah. Alih-alih menunjukkan kekuatan, AS kini tampak membutuhkan bantuan dari rival utamanya. Ini bisa menjadi peluang bagi China untuk memperkuat posisinya sebagai penengah yang lebih stabil dan andal dalam konflik global.

Dengan AS yang semakin terperosok dalam konflik Timur Tengah, Beijing tampaknya siap memanfaatkan situasi ini untuk kepentingannya. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah AS dapat mengalihkan fokus kembali ke Asia atau akan terus terbelenggu dalam permasalahan yang diciptakannya sendiri. Dunia menunggu langkah berikutnya dari dua kekuatan besar ini.

(Orbit dari berbagai sumber, 22 Maret 2026)