ANALISIS: Iran Menerapkan Pelajaran dari Perang Drone Rusia Melawan Amerika

ORBITINDONESIA.COM - Cuplikan video yang dirilis oleh milisi Irak yang didukung Iran minggu ini tampak sangat familiar bagi siapa pun yang telah mengikuti perang di Ukraina.

Drone yang dikendalikan oleh kabel serat optik yang membuat pengacauan sinyal tidak berguna melayang di atas pangkalan Amerika di Baghdad. Kemudian, drone pandangan orang pertama, juga dikenal sebagai FPV, menukik untuk menyerang target mereka: sebuah helikopter Black Hawk Amerika di darat dan sistem radar pertahanan udara.

Ini adalah cara perang baru, dan telah sampai ke Timur Tengah.

Presiden Trump telah mengirimkan ribuan pasukan AS ke wilayah tersebut. Jika upaya diplomatik terbarunya gagal, ia mempertimbangkan operasi darat dan laut untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memaksa Iran untuk gencatan senjata.

Jika para Marinir dan tentara ini mendarat di Iran, mereka akan menghadapi lingkungan yang didominasi oleh pesawat nirawak yang sangat berbeda dengan kampanye AS sebelumnya di Irak dan Afghanistan, di mana ancaman utama berasal dari tembakan senjata ringan dan alat peledak improvisasi yang terkubur.

Artikel The Wall Street Journal berjudul “Iran Is Applying the Lessons of Russia’s Drone Warfare Against America” pada dasarnya menggambarkan sebuah perubahan besar dalam cara perang modern—dan yang lebih penting, bagaimana Iran belajar cepat dari medan perang Ukraina untuk menghadapi Amerika.

Bayangkan medan perang baru—bukan lagi didominasi tank, jet tempur, atau kapal induk, tetapi oleh benda kecil, murah, dan mematikan: drone.

Iran tidak sekadar menggunakan drone—ia sedang mengadaptasi “revolusi militer” yang terjadi di Ukraina.

Dalam perang Rusia–Ukraina, dunia menyaksikan perubahan besar. Drone murah bisa menghancurkan peralatan mahal. Serangan dilakukan dalam jumlah besar (swarm). Target bisa sangat presisi, dan medan perang menjadi “transparan”—tak ada tempat aman

Iran menyerap pelajaran ini dengan cepat. Bahkan, ada kerja sama aktif dengan Rusia—pertukaran teknologi, pengalaman, dan taktik. Yang menarik, ini seperti siklus terbalik.

Iran awalnya memberi drone (Shahed) ke Rusia. Rusia menggunakannya di Ukraina. Lalu Rusia mengembangkan dan “mematangkan” taktiknya. Kini Iran mempelajari kembali versi yang sudah diuji di medan tempur. Ini bukan sekadar transfer teknologi—ini transfer pengalaman perang nyata.

Ancaman bagi Amerika: perang yang tak lagi “asimetris”

Selama dua dekade terakhir (Irak, Afghanistan), militer AS menghadapi senjata ringan, IED (bom rakitan), dan musuh non-negara.

Tapi jika AS berhadapan langsung dengan Iran—misalnya di Selat Hormuz—maka tentara Amerika akan masuk ke lingkungan perang yang sepenuhnya berbeda.

Lingkungan itu dipenuhi drone di udara (constant surveillance + strike), tidak ada “safe zone”. Setiap kendaraan, radar, bahkan tentara bisa jadi target instan. Ini mirip kondisi di Ukraina, yang oleh banyak analis disebut sebagai “drone-saturated battlefield.”

Masalah besar: Amerika dianggap tertinggal secara doktrin

Salah satu kritik tajam adalah Amerika mungkin belum sepenuhnya menyerap pelajaran dari Ukraina. AS masih mengandalkan sistem mahal (jet, rudal canggih). Sistem pertahanan sering tidak efisien melawan drone murah, dan ada kecenderungan meremehkan inovasi taktis dari Ukraina

Padahal realitasnya drone seharga puluhan ribu dolar bisa “menghabiskan” sistem pertahanan jutaan dolar. Serangan massal bisa menguras stok interceptor. Teknologi sederhana (seperti kabel fiber-optic) bisa mengatasi keunggulan high-tech AS.

Implikasi strategis: perubahan wajah perang global

Terjadi demokratisasi kekuatan militer. Negara yang tidak sekuat AS kini bisa ,enimbulkan kerusakan signifikan dan mengimbangi kekuatan besar dengan biaya rendah.

Perang menjadi lebih “murah tapi brutal”. Drone yang murah bisa diproduksi massal dan tidak butuh pilot. Ini mengubah logika perang dari “kualitas tinggi” menjadi kuantitas + adaptasi cepat.

Dalam perang drone, tidak ada garis depan yang jelas, dan tidak ada tempat benar-benar aman. Ancaman datang dari atas, kapan saja. Ini menciptakan tekanan psikologis yang jauh lebih berat dibanding perang konvensional.

Iran sedang memainkan permainan jangka panjang. Ia tidak mencoba mengalahkan Amerika secara langsung dengan kekuatan konvensional, tetapi dengan: belajar dari perang Ukraina, memanfaatkan teknologi murah, dan mengembangkan taktik yang sulit ditangkal.

Sementara itu, Amerika menghadapi dilema klasik kekuatan besar: terlalu maju secara teknologi, tapi lambat beradaptasi secara taktis.

(Dirangkum/diringkas dari The Wall Street Journal) ***