Membaca Dialog di Freedom Institute sebagai Contoh Fallacy Logics dan Kedunguan

Oleh Airlangga Pribadi, pengamat politik

ORBITINDONESIA.COM - Saya baru saja menyaksikan beberapa reels podcast di Freedom Institute terkait dengan serangan AS terhadap Iran dan apa yang sedang berlangsung dalam dinamika politik di sana.

Menurut saya podcast itu bermanfaat, bukan karena pengetahuannya yang kaya. Namun kalau kita mau mendiskusikan topik hubungan internasional atau politik internasional disertai dengan penggunaan logika, maka podcast mereka yang narsum utamanya adalah Rizal Mallarangeng merupakan salah satu contoh terbaik untuk memahami tentang fallacy logics dan kedunguan berargumen.

Bagaimana kok saya sampai pada kesimpulan kelihatan sinis begitu? Di sini saya kasih contoh fallacy logics dalam beberapa komentarnya: 

Pertama, hit the strawman (memukul orang-orangan sawah): Seseorang dianggap menggunakan fallacy logic hit the strawman ketika orang itu mengkritik suatu argumen atau realitas bukan dengan mengkritik dari argumen itu sendiri.

Namun dia membentuk argumen lain yang seolah-olah itu argumen yang hendak dihantam, lalu dia pukul-pukul itu argumen sambil mengabarkan kalau argumen yang diserang itu sudah dia patahkan. 

RM menyatakan dalam podcast -nya bahwa Iran setelah revolusi Iran masyarakatnya hidup dalam keterbelakangan, ketertutupan, kegelapan dan kebodohan akibat berkuasanya dogma yang fanatik. (Itu pandangan yang dibikin RM) 

Padahal realitasnya kita menyaksikan bahwa dalam sejarahnya Republik Islam Iran tumbuh dalam: 1) Kemajuan pesat dalam sektor pendidikan dengan partisipasi gender yang tinggi didalamnya, partisipasi antar wilayah (kota dan desa) serta partisipasi antar kelas (miskin-kaya) dalam akses pendidikan. Mereka membangun program Welfare dalam kebijakan negaranya. Meskipun Iran diembargo oleh AS dan aliansinya.

2) Pemerintah mendorong pembangunan riset dan teknologi terutama dengan kerjasama dengan China serta Rusia dan negara-negara lainnya (mesti diingat dia diembargo AS) 

3) Iran mengirimkan warganya untuk sekolah ke manca negara mahasiswanya. Bahkan kita bisa lihat bagaimana mungkin suatu negara yang dikendalikan oleh pemerintah yang membawa kegelapan, kebodohan oleh rezim fanatik, sistem rekruitmen meritokrasinya luar biasa.

Ingat dialog ketika Ali Larijani menguliahi Henry Kossinger, sosok Abbas Araghchi lulusan Kent University sebagai Menlu yang brilian, jubir tentara yang cerdas (namanya Ebrahim siapa gitu) yang menguasai matematika, filsafat Barat dan 3 bahasa asing. 

Inilah contoh dari fallacy logics yang namanya hit the strawman dengan stupidity intellectual secara terang dan begitu mengagumkan sebagai contoh kegoblokan.

Kedua, dalam metode ilmiah dikenal prinsip dasar dari landasan suatu riset yakni the truth from fact. Ini juga prinsip logis yang tidak diindahkan dalam podcast RM. Dia bilang bahwa rakyat Iran terjepit ketakutan dalam dilema antara ancaman bedil tentara Iran berhadapan dengan rudal Amerika. Point kita pada ketakutan, di mana faktanya? 

Fakta yang kita saksikan 5 juta relawan perang bela bangsa dan bela negara terkumpul selama 3 hari (terdiri atas warga beragama Muslim Syiah dan Sunni serta yang beragama Kristen). Jutaan warga berkumpul ditengah ancaman rudal, elite politik ikut serta bersama mereka.

Ketakutan. Kalau saya jadi dosen pembimbing atau penguji ketemu tulisan kayak gitu, saya akan bilang tulisanmu itu dongeng nggak ada faktanya! Langsung saya lempar ke tong sampah naskahnya. Ini juga berlaku dalam rangkaian argumen-argumennya RM. 

Ketiga, dia mengibaratkan AS dengan perang terhadap Iran dia bandingkan dengan ketika Hegel membahas tentang Napoleon ketika membebaskan Mesir sebagai welgest (kekuatan pembebas sejarah).

Ini namanya cacat logika anakronistik (sesuatu hal yang baru diberikan perumpamaan dengan sesuatu yang lama yang sudah berubah) dan The truth doesnt finding it bases from the fact. 

Kalau kita pakai analisis konvensional aja bahwa apa yang dilakukan oleh Napoleon dengan proyek imperialismenya itu dibangun berdasarkan kekuatan produksi dalam kapitalisme yang sedang tumbuh, sehingga roda-roda kekuatan produksi membentuk institusi-institusi liberal.

Sementara invasi AS sekarang berangkat dari imperialisme yang sedang boncos produksinya. Yang terjadi adalah invasi. Trump akan bertindak seperti murni preman pasar. Basis faktanya juga nggak ada. Lihat nasib Libya setelah diserang oleh Obama. 

Keempat, RM bilang kalau reformasi pendidikan dimulai pada era Shah Reza Pahlevi, itu betul. Namun dia menyembunyikan sesuatu kalau Republik Islam itu jumud dan gelap, mengapa capaian luar biasa dalam partisipasi pendidikan bisa dicapai dalam masa rezim Republik Islam Iran? 

Saya memang mempromosikan podcast RM yang diasuhnya sebagai contoh kedunguan. Silahkan tonton terus podcastnya sebagai contoh tontonan kedunguan sambil kita ngakak bareng-bareng. Jarang ada podcast humor kayak gini.

(FB Airlangga Pribadi) ***