Krisis 60 Minutes CBS News: Bari Weiss, PHK, dan Tekanan Trump

Variety

Variety

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Krisis 60 Minutes di CBS News memuncak pada apa yang staf sebut “Black Thursday”, ketika para produser senior dan koresponden diberhentikan mendadak. Di baliknya, nama Bari Weiss, tekanan politik era Trump, dan tuduhan intervensi editorial kini menjadi kata kunci yang diperdebatkan publik.

Para staf menyebut 28 Mei sebagai “Black Thursday”, hari ketika sekitar enam tokoh senior 60 Minutes dipecat tanpa basa-basi. Di antara yang terdampak adalah koresponden Sharyn Alfonsi dan Cecilia Vega, serta executive producer Tanya Simon dan executive editor Draggan Mihailovich.

Pemecatan dilakukan oleh Bari Weiss, pemimpin redaksi CBS News, yang sebelumnya bentrok dengan Alfonsi pada Desember. Konflik itu terkait laporan 60 Minutes berjudul “Inside CECOT” tentang migran Venezuela yang mengalami kekerasan mengerikan di penjara El Salvador setelah dideportasi oleh pemerintahan Trump.

Weiss menarik laporan itu beberapa jam sebelum tayang dan meminta agar dimasukkan perspektif Stephen Miller atau pejabat tinggi Trump lain. Alfonsi menulis kepada kolega bahwa ia sudah berkali-kali meminta komentar resmi, dan keputusan Weiss “bukan editorial, melainkan politik”.

Alfonsi memperingatkan bahwa jika penolakan pemerintah untuk diwawancarai menjadi alasan membatalkan liputan, maka pemerintah diberi “saklar pembunuh” untuk mematikan laporan yang tak mereka sukai. Di hari yang sama, Weiss menunjuk Nick Bilton, kolumnis teknologi tanpa pengalaman jurnalisme siaran, menggantikan Tanya Simon memimpin 60 Minutes.

Weiss dan Bilton disebut akrab setelah bekerja sama dalam sejumlah proyek dokumenter Netflix yang tidak pernah dirilis. Lalu pada 1 Juni, Scott Pelley, wajah CBS selama 37 tahun, menghadiri rapat besar staf 60 Minutes bersama Bilton, sementara Weiss tidak hadir.

Pelley mempertanyakan kredensial Bilton dan menuduh Weiss “membunuh 60 Minutes”, terutama karena tidak ada penjelasan soal pemecatan Simon. Sehari kemudian Pelley dipecat lewat surat keras dari Bilton yang menuduhnya “sangat tidak beradab dan penuh penghinaan”.

Akibatnya, 60 Minutes hanya menyisakan tiga koresponden dari sebelumnya tujuh, setelah Anderson Cooper mundur pada Februari. Juru bicara CBS News menyatakan mereka tidak bisa menjelaskan alasan perpisahan dengan individu karena pertimbangan HR dan hukum.

Gejolak ini terjadi di bawah Weiss, mantan kolumnis opini dan pendiri The Free Press, yang minim pengalaman jurnalisme siaran dan pelaporan investigatif. Seorang mantan staf 60 Minutes menyebut acara itu memang butuh pembaruan, tetapi caranya seperti “memberi facelift dengan parang”.

Babak awalnya justru berakar pada keputusan korporasi pada 1 Juli 2025, ketika Paramount Global menyelesaikan gugatan Trump senilai 16 juta dolar AS. Gugatan itu terkait wawancara Oktober 2024 dengan kandidat presiden Kamala Harris yang hanya diedit ringan untuk siaran.

Waktunya dinilai janggal karena Paramount menunggu persetujuan FCC untuk merger 8 miliar dolar AS dengan Skydance Media milik David Ellison. Ketua FCC Brendan Carr, loyalis Trump, membuka penyelidikan “distorsi berita” atas 60 Minutes terkait wawancara Harris.

Enam hari setelah penyelesaian dengan Trump, merger Paramount-Skydance rampung dan Ellison, sekutu Trump, memimpin CBS. Salah satu langkah awalnya adalah tidak memperpanjang kontrak Stephen Colbert, tiga hari setelah Colbert menyebut penyelesaian itu “suap besar”.

Langkah berikutnya adalah menunjuk Kenneth Weinstein, penasihat Trump dan petinggi Hudson Institute, sebagai ombudsman CBS News. Lowell Bergman, produser legendaris 60 Minutes, menilai pola gugatan Trump yang sulit dimenangkan di pengadilan berubah menjadi bentuk pemerasan ketika ia punya “tuas kekuasaan” sebagai presiden.

Bergman mengingatkan bahwa Trump sejak dulu mengejar status selebritas dan terbiasa “menulis ulang” narasi dirinya. Namun ia menekankan isu yang lebih besar, yakni upaya terbuka presiden dan Gedung Putih untuk merusak media yang tidak sejalan, sesuatu yang ia sebut “belum pernah terjadi sebelumnya”.

Steve Kroft, koresponden 60 Minutes selama 30 tahun, menilai Trump menyimpan dendam sejak liputan Harris, dan Ellison serta Weiss tidak menunjukkan kemauan untuk melawannya. Ia menautkan ini dengan kepentingan Ellison yang masih membutuhkan persetujuan FCC untuk akuisisi lain, termasuk rencana besar terkait Warner Bros. Discovery.

Trump sendiri berulang kali menyerang 60 Minutes di Truth Social dan menyasar tokoh-tokoh yang terkait segmen program itu. Menjelang pemecatan Pelley, Trump menyebutnya “buruk” dan bagian dari “geng orang curang dan bodoh” yang tidak peduli pada negara.

Di Oktober, Ellison membeli The Free Press seharga 150 juta dolar AS, meleburkannya ke CBS News, dan menunjuk Weiss sebagai pemimpin redaksi yang melapor langsung kepadanya. Weiss, yang dikenal sebagai provokator media anti “woke” dan kritikus media arus utama, tiba-tiba memegang kendali atas mahkota CBS, yakni 60 Minutes.

Masalah disebut langsung muncul ketika Weiss diduga menambah kalimat pada naskah CBS Evening News pada 5 Januari agar tindakan pemerintahan Trump tampak lebih positif. Dua malam kemudian, program itu menayangkan segmen yang dinilai memuja Menlu Marco Rubio dengan penutup, “Marco Rubio, kami memberi hormat kepada Anda.”

Intervensi ini disebut merambah 60 Minutes yang selama puluhan tahun membanggakan independensi editorial. Setelah dipecat, Alfonsi menuduh Weiss dan pimpinan jaringan “secara sengaja menghukum jurnalis” yang menolak “membersihkan” laporan faktual.

Cecilia Vega menulis bahwa ia mengalami upaya memasukkan bias politik ke dalam cerita. Pelley juga menuduh Weiss menyuntikkan “kebohongan dan bias”, termasuk meminta demonstran terlihat lebih brutal dan mengubah deskripsi kasus Renée Good, yang menurutnya bertentangan dengan bukti video.

Pihak CBS News membantah klaim Pelley dan menyebutnya sekadar “tarik-ulur editorial” tanpa motif politik. Namun Betsy West, mantan petinggi CBS News yang membawahi 60 Minutes, menilai ada pola yang mengancam independensi, termasuk pembatalan liputan yang sudah diverifikasi hanya karena pemerintah menolak berkomentar.

West juga mengkritik rapat pagi yang semestinya ringkasan berita berubah menjadi sesi keluhan tentang politik Timur Tengah atau kandidat yang ditentang Weiss. Ia menyimpulkan ada upaya “memeriksa” independensi 60 Minutes dan pada akhirnya melemahkan pers bebas yang menopang demokrasi.

Kontroversi lain muncul pada wawancara 60 Minutes dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Lesley Stahl disebut sudah berbulan-bulan mengejar wawancara itu, tetapi akhirnya dilakukan oleh Major Garrett yang bukan koresponden 60 Minutes, dan diprotes karena kurang menantang klaim Netanyahu.

New York Post melaporkan Weiss memberi Netanyahu hak memilih pewawancara sebagai upaya terakhir mengunci wawancara. Mantan duta besar Israel untuk AS Michael Oren bahkan memuji Weiss secara personal lewat cuitan, “Terima kasih, Bari Weiss.”

Rome Hartman, produser 60 Minutes lebih dari 25 tahun, menyebut Weiss sebagai jurnalis opini yang sah di ranahnya, tetapi tidak cocok memimpin organisasi berita yang mengandalkan objektivitas. Ia menilai sikap pro-Israel Weiss boleh sebagai pandangan pribadi, tetapi berbahaya bila menjadi posisi pemimpin redaksi liputan Israel-Palestina.

Hartman menyebut 60 Minutes tidak pro-Israel atau pro-Palestina, melainkan berusaha “menceritakan kisah” dengan lurus. Ia mengatakan jika seseorang datang sebagai “Zionis fanatik” yang dideklarasikan sendiri, itu semestinya mendiskualifikasi peran editorial atas liputan Israel, bukan sebaliknya.

Ia menggambarkan kerusakan yang terjadi seperti menyaksikan “pembakar” membakar rumah profesionalnya, tanpa kemampuan menghentikannya. Yang membuatnya makin ganjil, 60 Minutes justru sedang sangat kuat secara rating dan digital di bawah Tanya Simon.

Di bawah Simon, 60 Minutes disebut menjadi acara berita nomor satu dengan rata-rata 9,1 juta penonton per pekan, naik 9% dari tahun sebelumnya. CBS bahkan merilis pernyataan pers pada 21 Mei yang memuji 60 Minutes sebagai acara berita nomor satu selama 52 musim berturut-turut, dengan 2,5 miliar tayangan video dan 105 juta engagement digital.

Pelley menjelaskan kemarahannya dalam rapat staf, setelah Bilton mengirim email yang dianggap merendahkan, menyindir bahwa ini bukan 1968 dan bensin tidak lagi 32 sen. Pelley menilai itu menggambarkan staf seolah “membeku” di masa lalu dan tidak pernah berkembang.

Hartman membela Pelley dan menyebutnya bertanya keras demi memastikan 60 Minutes bisa bertahan. Ia juga mengejek rapuhnya kepemimpinan baru, dengan menyebut jika Bilton tidak tahan tantangan dan Weiss “bersembunyi” di belakangnya, maka masa depan redaksi kian suram.

Pekan lalu, Stahl, Bill Whitaker, dan Jon Wertheim menyatakan tetap bertahan, tetapi mengakui terpukul oleh pemecatan dan ketiadaan penjelasan. Dalam surat internal, mereka menyebut Tanya dan Draggan “diusir” karena memperjuangkan nilai 60 Minutes dan melindungi independensi.

Mereka menegaskan newsroom tidak boleh dikelola seperti diktator, karena kolaborasi dan perdebatan adalah tradisi kerja 60 Minutes. Mereka menutup surat dengan ultimatum halus, bertahan jika masih bisa melakukan jurnalisme independen dan berani, tetapi pergi jika tidak.

Ellison dilaporkan menghubungi Stahl untuk meyakinkan bahwa 60 Minutes tetap punya “independensi editorial” dan meminta maaf atas kekacauan. Namun Kroft menilai cara Weiss memperlakukan staf senior sangat dingin dan ia tidak yakin Weiss akan berubah.

Di atas semua itu, ada bayang-bayang rencana akuisisi Warner Bros. Discovery yang mencakup CNN. Wall Street Journal melaporkan Ellison pernah memberi jaminan privat kepada pejabat Trump bahwa jika ia membeli Warner, ia akan melakukan perubahan besar di CNN.

Setelah laporan itu terbit, Trump menyatakan “CNN harus dijual” dan menyebut kepemimpinannya “aib”. Axios kemudian melaporkan Ellison akan menugaskan Weiss mengawasi editorial berita di CBS News dan CNN jika akuisisi terjadi, sehingga kekhawatiran menyebar dari CBS ke CNN.

Terjemahan paling jernih dari krisis 60 Minutes adalah pergeseran pusat gravitasi dari redaksi ke korporasi dan politik. Ketika gugatan 16 juta dolar AS diselesaikan di tengah kebutuhan persetujuan FCC, pesan yang terbaca di ruang redaksi adalah “kepatuhan lebih murah daripada perlawanan”.

Dalam ekosistem media modern, regulator, merger, dan lisensi siaran dapat menjadi alat tekanan yang lebih efektif daripada sensor formal. Investigasi “distorsi berita” oleh FCC, meski belum tentu berujung sanksi, cukup untuk membuat manajemen menghitung risiko dengan cara yang mengubah keputusan editorial.

Kasus “Inside CECOT” memperlihatkan mekanisme baru pembungkaman, yakni veto lewat ketidakhadiran. Jika standar baru adalah “harus ada komentar pejabat tinggi”, maka pemerintah tinggal menolak bicara dan liputan mati dengan sendirinya.

Di sini, kritik Alfonsi tentang “kill switch” bukan retorika, melainkan desain insentif yang berbahaya. Jurnalisme investigatif sering justru mengungkap hal yang ingin disembunyikan, dan pihak berkuasa hampir selalu menolak berkomentar sampai menit terakhir.

Penunjukan Nick Bilton menambah problem legitimasi, karena 60 Minutes adalah institusi yang dibangun oleh budaya siaran dan disiplin verifikasi yang ketat. Ketika pemimpin baru tidak punya rekam jejak di ruang kontrol, keputusan bisa terdorong oleh estetika “pembaruan” alih-alih metodologi peliputan.

Data rating dan capaian digital memperlemah argumen bahwa pemangkasan dilakukan demi menyelamatkan kinerja. Angka 9,1 juta penonton, 52 musim sebagai nomor satu, serta 2,5 miliar video views menunjukkan program itu bukan “produk usang” yang perlu dibongkar total.

Karena itu, pemecatan besar-besaran lebih masuk akal dibaca sebagai restrukturisasi nilai, bukan restrukturisasi bisnis. Ketika ombudsman berasal dari lingkaran penasihat Trump dan pemimpin redaksi dikenal sebagai aktivis wacana, garis pemisah antara berita dan agenda menjadi kabur.

Tuduhan dari tiga jurnalis senior tentang upaya memasukkan misstatement, bias, atau framing tertentu adalah sinyal serius dalam standar newsroom Amerika. Bahkan bila sebagian adalah “tarik-ulur editorial”, pola berulang pada isu yang menyentuh Trump dan ICE membuat publik sulit percaya itu netral.

Wawancara Netanyahu memperlihatkan risiko lain, yakni negosiasi akses yang mengorbankan ketajaman. Ketika narasumber diberi hak memilih pewawancara, publik bisa menilai program lebih mengejar eksklusivitas ketimbang akuntabilitas.

Rencana memperluas peran Weiss hingga CNN, jika akuisisi Warner terjadi, menandakan bahwa konflik ini bukan sekadar drama internal CBS. Ini adalah model baru konsolidasi media, di mana satu figur editorial bisa menjadi penghubung antara kepentingan pemilik, regulator, dan narasi politik nasional.

Krisis 60 Minutes di CBS News menunjukkan bahwa kebebasan pers tidak selalu runtuh lewat larangan terang-terangan. Ia bisa runtuh lewat transaksi, pengangkatan jabatan, dan keputusan HR yang tampak “administratif” tetapi berdampak ideologis.

Di titik ini, persoalannya bukan apakah Bari Weiss konservatif atau progresif, melainkan apakah ia memahami etika jarak antara opini dan pelaporan. Ketika pemimpin redaksi membawa identitas politik yang dideklarasikan dan menuntut framing tertentu, redaksi kehilangan ruang aman untuk menyajikan fakta yang tidak nyaman.

Perlawanan Pelley dalam rapat staf, betapapun keras, justru mencerminkan tradisi 60 Minutes yang dibangun di atas pertanyaan tajam pada kekuasaan. Memecat figur seperti Pelley karena “ketidaksopanan” memberi sinyal bahwa ketegasan internal dianggap ancaman, bukan mekanisme kontrol mutu.

Yang paling mengkhawatirkan adalah normalisasi “akses sebagai mata uang” dan “komentar pejabat sebagai syarat tayang”. Dua hal ini membuat jurnalisme berubah dari watchdog menjadi humas yang menunggu izin.

Jika 60 Minutes, simbol jurnalisme investigatif televisi Amerika sejak 1968, dapat diguncang oleh kombinasi merger dan tekanan politik, maka media lain akan belajar satu pelajaran pahit. Pelajaran itu adalah bahwa independensi bisa dinegosiasikan, dan harga negosiasinya sering ditanggung oleh publik.

Pertarungan di tubuh 60 Minutes bukan sekadar soal siapa dipecat dan siapa memimpin. Ini soal siapa yang berhak menentukan batas antara fakta, framing, dan kepentingan, ketika pemilik media butuh regulator dan politisi butuh loyalitas.

Surat Stahl, Whitaker, dan Wertheim menyiratkan satu harapan, yakni bahwa jurnalisme berani masih mungkin jika redaksi mempertahankan tradisinya. Namun harapan itu rapuh bila “independensi editorial” hanya menjadi janji PR, bukan struktur yang melindungi reporter dari intervensi.

Pada akhirnya, publik perlu bertanya, apakah berita masih menjadi layanan demokrasi, atau sudah menjadi instrumen tawar-menawar kekuasaan. Jika jawabannya yang kedua, maka yang mati bukan hanya sebuah program, melainkan kepercayaan yang membuat masyarakat bisa menilai pemerintahnya sendiri.

(Orbit dari berbagai sumber, 14 Juni 2026)