Tren Minuman Tanpa Soda: Hard Seltzer Melemah, Gen Z Beralih

ORBITINDONESIA.COM – Tren minuman tanpa soda kian menonjol saat hard seltzer kehilangan momentumnya dan rak ritel dipenuhi opsi “still” yang tidak berkarbonasi. Data Circana menunjukkan volume hard seltzer berbasis malt turun 1,1% dalam 52 minggu hingga 26 April, sementara koktail siap minum (RTD) melonjak 46,4%.

Sekitar satu dekade lalu, LaCroix melejit dan memicu ledakan seltzer berperisa di toko kelontong hingga toko minuman keras. Namun era gelembung mulai mereda karena kelelahan konsumen terhadap sensasi “fizzy” yang dulu dianggap lebih sehat.

Randy Burt dari AlixPartners menyebut pertumbuhan dan minat konsumen bergeser ke minuman “still” baik untuk alkohol maupun non-alkohol. Artinya, gelembung tidak hilang, tetapi bukan lagi pusat inovasi.

Di kategori alkohol, pergeseran terlihat paling tegas pada perebutan “share of throat” atau porsi tenggorokan konsumen. Minuman non-karbonasi seperti Surfside dan BeatBox mencuri perhatian dari hard seltzer yang pertumbuhannya melambat.

Di luar alkohol, perubahan berlangsung lebih bertahap, tetapi sinyalnya muncul lewat strategi merek besar. Celsius memperluas lini energi tanpa soda untuk menangkap Gen Z dan konsumen yang mengaitkan “smooth” dengan pengalaman minum yang lebih nyaman.

Di sisi kemasan, kaleng aluminium yang dulu identik dengan soda, bir, dan seltzer kini menjadi wadah utama minuman non-karbonasi. Ball, produsen kemasan aluminium terbesar di dunia, bahkan menyimpulkan: “The can is winning,” kata CEO Ronald Lewis dalam paparan kinerja perusahaan.

Jika diterjemahkan secara akurat, inti artikel sumber menyatakan: pertumbuhan seltzer dan minuman berkarbonasi melambat karena opsi tanpa gelembung merebut ruang rak dan perhatian. Minuman alkohol non-karbonasi seperti Surfside dan BeatBox mengambil “share of throat” dari hard seltzer, terutama di Gen Z, sementara merek non-alkohol seperti Celsius ikut mendorong varian tanpa soda.

Data Circana memperjelas arah arus: hard seltzer berbasis malt turun 1,1% dalam 52 minggu hingga 26 April dibanding periode sebelumnya. Pada saat yang sama, RTD koktail premix tumbuh 46,4%, didorong Surfside, Sun Cruiser, BuzzBallz, dan Cutwater Spirits milik Anheuser-Busch InBev yang menawarkan opsi berkarbonasi dan tidak.

Gen Z, yang umumnya didefinisikan lahir 1997–2012, menjadi motor perubahan karena pola konsumsi mereka lebih “eksperimental”. Scott Scanlon dari Circana menyebut adanya “promiscuity” dalam konsumsi alkohol, yakni mudah pindah dari produk yang sedang naik ke produk terbaru berikutnya.

Scanlon membaca adanya pergeseran generasional dibanding milenial yang dulu “tidak pernah cukup” dengan seltzer. Ketika Gen Z memasuki usia legal minum, preferensi mereka cenderung menempatkan minuman berbasis teh sebagai pilihan happy hour, menggantikan seltzer sebagai default “lebih sehat”.

Ada juga faktor persepsi kesehatan yang tidak lagi memihak karbonasi. Air berkarbonasi bersifat sedikit asam dan dapat mengikis enamel gigi jika dikonsumsi besar, terutama bila memakai asam sitrat sebagai perisa, serta memicu kembung dan sendawa bagi sebagian orang.

Kisah Surfside menjadi studi kasus yang paling tajam. Stateside Brands meluncurkan hard iced tea berbasis vodka pada 2022, saat industri alkohol dipenuhi produk berkarbonasi, dan CEO Clement Pappas bahkan menyindir tren itu: “Siapa yang mengarbonasi es teh?”

Respons pasar datang cepat, dan pada 2024 Surfside disebut sebagai merek alkohol dengan pertumbuhan tercepat di AS berdasarkan NielsenIQ. Pappas menilai ada “permintaan terpendam” untuk opsi non-karbonasi, khususnya dalam format RTD yang praktis.

Basis pelanggan Surfside cenderung perempuan, dan alasannya sangat fungsional: karbonasi dianggap memicu kembung, apalagi setelah beberapa gelas dalam satu sesi. Stateside lalu memperdalam taruhan lewat merek baru Super Lyte, masih berbasis vodka, tetapi mixernya terinspirasi minuman olahraga klasik.

Gelombang ikutannya menyusul dari pemain lain. Cutwater mencatat pertumbuhan volume koktail kaleng yang hampir dua kali lipat dalam setahun, BeatBox melesat setelah distribusinya diperluas, dan BuzzBallz meroket setelah diakuisisi Sazerac pada 2024.

Kompetisi pun mengeras, dan ini penting bagi pembaca karena memperlihatkan bahwa tren bukan sekadar selera, melainkan strategi industri. Boston Beer, pemilik Twisted Tea, meluncurkan Sun Cruiser pada 2024 untuk menantang Surfside, dan meski Surfside masih unggul pangsa, Sun Cruiser disebut tumbuh lebih cepat belakangan.

Di ranah non-alkohol, Burt menilai pergeseran tidak sekuat alkohol karena beberapa minuman berkarbonasi tetap tumbuh, termasuk Poppi milik PepsiCo. Namun Celsius justru memperluas lini tanpa soda karena lorong minuman energi selama ini didominasi karbonasi, sehingga varian “still” menjadi diferensiasi yang mudah dikenali.

Menurut Chief Brand Officer Celsius, Kyle Watson, rasa peach mango green tea non-karbonasi yang sudah ada konsisten masuk 10 besar performa dan kini berada di peringkat empat di antara semua rasa Celsius. Ekspansi lini ini juga mendorong pertumbuhan penjualan dari Gen Z dan perempuan, dua segmen kunci di kategori minuman energi.

Watson menggarisbawahi temuan fokus grup dan duta kampus yang sederhana tetapi menentukan: banyak yang tidak suka minum sparkling. Ia menambahkan, minuman fungsional seperti tinggi protein, prebiotik, kafein, atau manfaat lain, menuntut “pengalaman rasa yang lebih baik” dan sensasi minum yang “halus”.

Argumen “halus” ini tidak bisa dilepaskan dari momen makan. Celsius menyebut sekitar 37% konsumennya meminum minuman energi bersama makanan, dan varian tanpa soda dinilai lebih cocok untuk pairing karena tidak “menggigit” seperti karbonasi.

Merek lain seperti Hint juga memasang taruhan pada “drinkability” dan “hidrasi murni” dari air berperisa tanpa karbonasi. CEO Hint, Michael Pengue, bahkan membandingkan situasi kini dengan masa ketika konsumen soda beralih ke Perrier, San Pellegrino, Polar, dan LaCroix, hanya saja arahnya berbalik.

Perubahan kemasan mempercepat perubahan kebiasaan. Liquid Death, yang mulai 2017, menghadapi kendala teknis karena air “still” perlu dosis nitrogen agar kaleng tidak kolaps, sementara karbonasi secara alami memberi tekanan internal untuk mempertahankan bentuk kaleng.

Namun pendiri Liquid Death, Mike Cessario, menembus hambatan psikologis dengan desain yang “terlihat seperti bir”, sehingga air kaleng terasa akrab dan keren. Setelah itu, pasar menerima logika baru: kaleng tidak harus berarti soda.

Kaleng juga memberi insentif ekonomi dan lingkungan bagi produsen. Umumnya lebih murah daripada botol kaca dan dianggap lebih berkelanjutan dibanding botol plastik, sementara bagi konsumen, kaleng terasa lebih dingin dan membawa nostalgia tren minuman era ledakan seltzer.

Tren minuman tanpa soda bukan sekadar soal “gelembung bikin kembung”, melainkan tanda bahwa narasi kesehatan sedang bergeser. Dulu, karbonasi menjadi simbol “lebih baik dari soda manis”, tetapi kini justru dianggap mengganggu kenyamanan tubuh dan pengalaman rasa.

Gen Z mempercepat perubahan karena mereka tidak membeli kategori, mereka membeli sensasi dan identitas. Ketika “sehat” berubah dari sekadar rendah gula menjadi “wellness dan fungsi”, teh, kopi, dan minuman fungsional tanpa soda terasa lebih masuk akal.

Industri membaca ini sebagai peluang margin dan diferensiasi, bukan hanya preferensi lidah. RTD non-karbonasi memudahkan produsen menciptakan varian rasa yang “smooth” dan mudah diminum cepat, sehingga konsumsi bisa lebih sering dan lebih luas konteksnya.

Namun ada risiko: inovasi yang terlalu mengikuti selera sesaat dapat menciptakan siklus kelelahan baru, seperti yang dialami seltzer. Jika semua merek menjejalkan klaim “fungsional” tanpa bukti kuat, konsumen bisa kembali sinis dan mencari tren berikutnya.

Di titik ini, kemasan kaleng menjadi metafora yang menarik. Ia menunjukkan bagaimana persepsi bisa dibalik lewat desain dan pemasaran, sehingga “air kaleng” yang dulu tak masuk akal kini terasa wajar, bahkan bergengsi.

Seltzer tidak akan punah, tetapi dominasinya jelas digugat oleh gelombang minuman tanpa soda yang lebih “halus”, lebih mudah dipadukan dengan makanan, dan terasa selaras dengan bahasa wellness Gen Z. Data penurunan hard seltzer dan lonjakan RTD premix memperlihatkan bahwa industri bergerak mengikuti tenggorokan konsumen, bukan nostalgia gelembung.

Pertanyaannya, apakah pergeseran ini membuat kita lebih sehat, atau hanya mengganti simbol “sehat” dari gelembung ke klaim fungsional baru. Di tengah rak yang makin penuh, mungkin ketercerahan paling sederhana adalah ini: tren boleh berganti, tetapi tubuh tetap menjadi penguji terakhir. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Mei 2026)