Kerja di Australia vs Selandia Baru: Budaya Kerja dan Keamanan

impactpr.co.nz

impactpr.co.nz

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Kerja di Australia sering dipilih warga Selandia Baru karena gaji lebih tinggi, cuaca lebih hangat, dan gaya hidup yang terasa mirip. Namun riset lintas Tasman menunjukkan budaya kerja, keamanan, dan rasa adil di kantor bisa jadi pembeda yang menentukan kepuasan jangka panjang.

Arus migrasi Kiwi ke Australia bukan cerita baru, tetapi kini dipicu juga oleh stagnasi upah dan mismatch keterampilan di pasar kerja domestik. Dalam situasi itu, tawaran pekerjaan lintas negara kerap diperlakukan sebagai keputusan finansial, bukan keputusan kualitas hidup.

Di titik inilah riset Great Place To Work menjadi relevan, karena menyorot pengalaman kerja sehari-hari, bukan sekadar angka gaji di kontrak. Studi ini menganalisis respons lebih dari 156.000 karyawan di Selandia Baru dan Australia, sehingga memberi gambaran yang sulit diabaikan.

Temuan utamanya tajam: rata-rata tempat kerja di Selandia Baru dinilai lebih inklusif, lebih adil, dan lebih aman dibanding Australia. Di perusahaan “tipikal”, hanya 73% pekerja Australia percaya tempat kerjanya adil tanpa memandang ras, sementara Selandia Baru 76%.

Angka inklusivitas lain memperlebar jarak, karena hanya 67% pekerja Australia merasa diperlakukan setara tanpa memandang usia. Lalu hanya 74% yang menilai tempat kerja mereka inklusif bagi semua orientasi seksual, yang menandakan penerimaan belum merata.

Bagian paling mengkhawatirkan muncul pada keamanan kerja dan keadilan upah, dua hal yang langsung memengaruhi stabilitas keluarga. Hanya 58% pekerja Australia percaya redundansi dipakai sebagai pilihan terakhir, dan hanya 55% menilai orang dibayar adil untuk pekerjaannya.

Jika gaji Australia lebih tinggi tetapi rasa aman lebih rendah, maka “selisih” itu bisa habis oleh biaya psikologis dan risiko karier. Ketika PHK terasa lebih dekat dan upah dianggap tidak adil, pekerja cenderung menabung rasa curiga, bukan membangun loyalitas.

Riset ini juga menyorot keselamatan kerja yang bukan hanya fisik, tetapi mental. Hanya 51% pekerja Australia menyebut tempat kerja mereka sehat secara psikologis dan emosional, sementara rasa aman fisik berada di 78%, dibanding 81% di Selandia Baru.

Di era burnout pascapandemi, indikator “sehat secara psikologis” bukan kosmetik HR, melainkan fondasi produktivitas. Perusahaan boleh memamerkan fasilitas, tetapi jika ruang kerja membuat orang takut bersuara, maka performa hanyalah kepatuhan, bukan kontribusi.

Studi itu juga membedakan perusahaan bersertifikasi Great Place To Work dan yang tidak, sebagai indikator budaya. Di Australia, tempat kerja tersertifikasi tampil 35% lebih baik pada metrik kunci seperti keadilan, inklusi, dan wellbeing, sedangkan di Selandia Baru selisihnya 21%.

Angka ini menyiratkan dua hal sekaligus: sertifikasi bisa menjadi sinyal kuat bagi pelamar, dan jurang kualitas budaya di Australia lebih ekstrem antara perusahaan baik dan biasa-biasa saja. Artinya, pindah ke Australia bisa sangat menyenangkan atau sangat melelahkan, tergantung Anda mendarat di perusahaan yang mana.

Rebecca Moulynox, General Manager Great Place To Work New Zealand & Australia, menegaskan uang tidak menutup luka budaya kerja yang toksik. “Money doesn’t compensate for feeling undervalued, unsafe, or excluded at work,” katanya, seraya mengingatkan dampaknya pada kesehatan mental dan keluarga.

Ia juga memberi petunjuk praktis yang sering diabaikan pelamar: tanyakan dukungan untuk kelompok karyawan, keterlibatan komunitas, dan pembelajaran berkelanjutan. “These aren’t buzzwords,” ujar Moulynox, karena tanda-tanda itu menunjukkan budaya yang hidup, bukan slogan di poster.

Riset ini memukul mitos lama bahwa migrasi kerja cukup dihitung dengan kalkulator gaji dan biaya hidup. Keputusan lintas negara sebenarnya adalah keputusan ekosistem, karena budaya kerja menentukan apakah seseorang pulang dengan energi atau pulang dengan sisa amarah.

Perbedaan 3 poin pada “adil tanpa memandang ras” mungkin terlihat kecil, tetapi ia adalah termometer kepercayaan yang mengukur suhu organisasi. Ketika indikator lain seperti kesehatan psikologis hanya 51%, sinyalnya bukan lagi “perlu perbaikan”, melainkan “risiko sistemik”.

Di sisi lain, artikel ini juga mengandung kepentingan komunikasi yang patut dibaca kritis, karena ada bagian tentang kampanye PR Impact PR yang mengangkat riset menjadi percakapan nasional. Publik perlu membedakan antara data riset yang valid dan framing kampanye yang bertujuan memperkuat posisi Great Place To Work sebagai otoritas.

Namun, framing bukan otomatis manipulasi, karena ia bisa menjadi kendaraan agar isu budaya kerja tidak tenggelam oleh headline gaji. Justru ketika media menaruh sorot pada fairness, keamanan, dan wellbeing, perusahaan dipaksa bersaing bukan hanya lewat uang, tetapi lewat kualitas kepemimpinan.

Bagi Kiwi yang tergoda “hidup lebih besar” di Australia, pelajaran utamanya adalah due diligence budaya, bukan sekadar due diligence finansial. Gaji tinggi tanpa rasa aman bisa berubah menjadi kontrak mahal untuk stres yang berkepanjangan.

Riset Great Place To Work memperlihatkan bahwa perbandingan kerja di Australia vs Selandia Baru tidak bisa disederhanakan menjadi siapa membayar lebih. Ada harga yang tak tercantum di slip gaji, yakni rasa adil, rasa aman, dan ruang untuk menjadi diri sendiri.

Pertanyaan yang layak diajukan sebelum menyeberang Tasman adalah: apakah Anda pindah untuk hidup yang lebih baik, atau hanya untuk angka yang lebih besar. Jika budaya kerja menentukan kesehatan mental dan masa depan keluarga, maka “pekerjaan” sesungguhnya adalah memilih tempat yang membuat Anda bertumbuh, bukan sekadar bertahan.

(Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)