IRGC Ancam Serang Target Baru Jika AS Menyerang Iran Lagi

detikNews

detikNews

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – IRGC mengancam akan memakai senjata baru dan menyerang target baru jika Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Ancaman ini menegaskan bahwa konflik AS-Iran belum padam, meski kedua pihak tampak menghindari perang skala penuh.

Selama hampir tujuh bulan, Teheran dan Washington terjebak dalam kebuntuan yang rapuh. Mereka saling menguji batas, sambil menjaga agar eskalasi tidak berubah menjadi perang terbuka.

Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi menyebut “perang berkepanjangan” sebagai skenario yang siap dihadapi. Ia juga menegaskan ada “perubahan signifikan” pada pertahanan dan serangan balasan bila AS menyerang lagi.

Pernyataan ini muncul setelah Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengklaim menerima informasi bahwa AS memutuskan melanjutkan serangan. Iran menyebut keputusan itu didapat dengan “lampu hijau” sejumlah negara kawasan dalam pertemuan gabungan di sebuah negara Eropa.

Ancaman “senjata baru” adalah sinyal psikologis sekaligus operasional. Pesannya sederhana: serangan lanjutan akan membuat medan perang lebih mahal, lebih luas, dan lebih sulit diprediksi.

Mohebbi menyebut dunia akan “terkejut” oleh kemampuan baru di medan perang. Dalam bahasa strategi, ini adalah upaya membangun ketidakpastian agar lawan menahan diri sebelum menekan pelatuk.

Lebih tajam lagi, IRGC menekankan “target-target baru” yang belum pernah diserang. Kalimat ini membuka ruang serangan yang lebih variatif, dari instalasi militer hingga kepentingan logistik AS di Timur Tengah.

Angkatan Bersenjata Iran juga memperingatkan pembalasan “terus-menerus” terhadap pangkalan dan kepentingan AS. Frasa itu menyiratkan kampanye berulang, bukan satu serangan balasan yang selesai dalam satu malam.

Markas Khatam al-Anbiya menambahkan ancaman politis bagi negara kawasan yang dianggap membantu AS. Negara yang “berpihak” akan dipandang terlibat, dan tidak bisa mengharapkan “sikap menahan diri” dari Iran.

Di titik ini, peringatan Iran bukan hanya ditujukan ke Washington, tetapi juga ke ibu kota-ibu kota Arab yang menjadi simpul pangkalan, transit, dan intelijen. Iran sedang memperluas biaya politik bagi setiap negara yang memberi ruang operasi bagi AS.

Namun, ada paradoks yang sulit diabaikan: kedua pihak disebut tak ingin perang skala penuh, tetapi sama-sama menaikkan retorika. Ini adalah pola klasik brinkmanship, yaitu mendorong situasi ke tepi jurang untuk memaksa konsesi tanpa benar-benar jatuh.

Risiko terbesar justru datang dari salah tafsir dan salah hitung. Ketika ancaman dibuat kabur dan target dibuat “baru”, ruang untuk kesalahan kalkulasi menjadi lebih besar.

Pernyataan IRGC bisa dibaca sebagai upaya mengembalikan efek gentar yang mulai menipis setelah konflik berlarut. Ketika perang tidak meledak menjadi total, ancaman harus terus diperbarui agar tetap dipercaya.

Tetapi ancaman yang makin keras juga bisa menjadi tanda tekanan internal. Teheran perlu menunjukkan ketegasan kepada publiknya, sekaligus menjaga koalisi politik-militer agar tetap solid.

Di sisi lain, Washington menghadapi dilema reputasi dan pencegahan. Jika menahan diri, AS berisiko dianggap bisa ditekan; jika menyerang, ia mendorong spiral balasan yang mengancam pangkalan dan sekutu.

Yang paling rentan adalah negara-negara kawasan yang menjadi “ruang” bagi operasi. Mereka bisa menjadi sasaran, meski tidak menginginkan perang, karena geografi sering lebih menentukan daripada niat.

Dalam situasi seperti ini, kata-kata sering berfungsi seperti amunisi. Setiap frasa “senjata baru” atau “target baru” menambah ketegangan, dan ketegangan yang menumpuk sering mencari jalan keluar lewat insiden kecil.

Ancaman IRGC terhadap AS menunjukkan bahwa konflik AS-Iran bergerak dalam logika deterensi yang rapuh. Ketika kedua pihak sama-sama mengaku tidak ingin perang besar, mereka justru bermain di wilayah paling berbahaya: perang terbatas yang bisa meledak kapan saja.

Pertanyaannya bukan hanya siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang paling mampu menahan diri saat provokasi terjadi. Jika semua pihak terus menambah “target baru”, apakah kawasan masih punya cukup ruang untuk mencegah kesalahan yang tak bisa ditarik kembali? (Orbit dari berbagai sumber, 24 September 2026)