Iran Mau Berunding Setelah Ada Jaminan Gencatan Senjata Lebanon dan Pencairan 7 Miliar Dolar Asetnya

ORBITINDONESIA.COM - Delegasi Iran tiba di Pakistan, setelah mendapatkan jaminan gencatan senjata di Lebanon dan pencairan 7 miliar dolar aset Iran yang dibekukan AS selama ini di bank Qatar.

Dua poin ini adalah tuntutan Iran sebelum delegasi Iran bertolak ke Pakistan, dua poin yang saat ini penting sebelum negosiasi bisa dimulai.

Delegasi Iran berangkat dengan 2 pesawat Meraj Iran, dipimpin Ketua Parlemen Muhammad Baqer Qalibaf, Menlu Abbas Araghchi, Ketua SNSC Muhammad Baqer Zolhadr, Penasehat Dewan Keamanan Ali Akbar Ahmadian, Kepala Bank Sentral Abdul Nasser Hemmati dan beberapa anggota parlemen Iran.

Pertemuan di Pakistan ini diwarnai saling ancam di kedua belah pihak, seperti biasa, Trump mengancam akan menyerang Iran lebih keras jika kesepakatan ini gagal.

Sedangkan IRGC mengingatkan, bahwa jika negosiasi ini gagal, maka Iran akan melancarkan perang yang lebih keras dan lebih luas dan tanpa ada lagi negosiasi lanjutan.

Negosiasi di Pakistan penting bagi AS yang ingin menyelamatkan kepentingan mereka jangka panjang, negosiasi ini lebih penting untuk AS daripada untuk Iran.

AS ke Pakistan bukan untuk gagal, tapi persolan lainnya adalah, Israel dan Netanyahu yang sangat ingin negosiasi gagal karena Israel telah membayar mahal di lapangan, dengan kondisi hancur dan babak belur.

AS masih menjadi bos GeoPolitik bagi Israel, tapi persoalannya ada di personal. Personal Trump yang jadi boneka Netanyahu, dan Netanyahu yang bisa mendikte Trump.

Jika kita lihat dari kondisi yang berkembang, AS fokus ingin mencapai dua hal penting dalam negosiasi ini. Pertama: Nuklir Iran, kedua tentang Selat Hormuz.

Nuklir Iran menjadi fokus tujuan Trump karena ini juga yang merupakan permintaan khusus Netanyahu dan Israel. Nuklir Iran saat ini jadi tema paling sensitif di meja negosiasi.

AS pekan lalu gagal menyita uranium Iran yang dilakukan dengan operasi Isfahan, operasi ini memakan korban yang besar di pihak AS sedangkan uranium Iran masih utuh di tangan Iran. Operasi khusus yang gagal ini menjadi salah satu tekanan ke Trump saat ini.

Uranium Iran yang disimpan di 3 lokasi penting yang dibom oleh AS pada perang 12 hari lalu, saat ini masih aman dan dalam kondisi dibawah pengawasan Iran secara penuh.

3 lokasi penting, Natanz, Isfahan, dan Fordow. Dalam serangan AS dan Israel, situs nuklir ini tidak rusak maksimal, bahkan situs di Isfahan hanya 30% yang rusak.

440,9 kg uranium Iran yang saat ini sudah diperkaya sampai 60% masih disimpan ditangan Iran bisa membuat 12 bom nuklir. AS dan Israel sangat konsen dengan ini. Karena ini ancaman nyata bagi AS dan Israel sekaligus.

Sedangkan salah satu poin tuntutan Iran adalah Iran harus tetap diberikan hak untuk pengayaan uranium, dan itu tidak bisa ditawar-tawar. Hal ini yang membuka peluang negosiasi ini bisa gagal.

Uranium Iran bagi Iran bukan hanya persoalan nuklir, tapi ini adalah simbol kedaulatan Iran yang dipertahankan selama 48 tahun.

Selain uranium, Selat Hormuz dan program balistik akan jadi tema penting lain, Selat Hormuz adalah kepentingan AS, sedangkan pelucutan Balistik Iran adalah request Israel.

Negosiasi ini akan berjalan ditengah pesimistis dan dan rasa tidak saling percaya yang tinggi. Iran tegas mengatakan tidak percaya dengan negosiasi AS karena memiliki riwayat buruk dan gagal. Tapi Iran tetap akan menunjukkan niat baik terakhirnya.

Iran bersikeras di lapangan tapi tetap akan fleksibel jika negosiasi nanti, AS mau mengakui hak hak bangsa Iran secara substansial. Tapi Iran tidak akan mempan disuruh menyerah dibawah tekanan, dan ini sudah terbukti di lapangan selama ini.

AS yang terus memperkuat kekuatan militer di timur tengah dan Iran yang jarinya ada di pelatuk senapan dan siap menarik pelatuk itu kapanpun. Begitulah situasi negosiasi yang sedang akan berlangsung saat ini di Islamabad.

Negosiasi ini adalah media terakhir bagi AS untuk mendengar dan mengakui hak hak Iran dan menghormati bangsa Iran. Jika tidak, kita bersiap melihat perang yang jauh lebih besar dan menentukan di seluruh kawasan timur tengah bahkan bisa keluar batas ke wilayah wilayah lain.

(Oleh Tengku Zulkifli Usman) ***