Dari Gerobak Cilok Sederhana, Raja Sinaga Hidupkan Budaya Membaca di Tengah Minimnya Literasi

Masihkah ada anak-anak muda yang gemar membaca? Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika data demi data menunjukkan rendahnya minat baca di negeri ini. Berbagai survei literasi menempatkan Indonesia pada posisi yang memprihatinkan, menggambarkan bahwa budaya membaca belum menjadi kebiasaan yang mengakar. 

‎Hal ini juga dipengaruhi oleh maraknya konten digital yang serba instan, sehingga buku kerap tersisih dan dianggap kurang menarik dibandingkan arus konten digital yang terus bergulir.

‎Padahal, buku adalah sumber pengetahuan yang membentuk cara berpikir manusia. Dari lembar-lembar sederhana itulah lahir gagasan, empati, dan kesadaran. Membaca bukan sekadar aktivitas, melainkan proses panjang yang mengasah nalar dan memperluas perspektif. Tanpa kedekatan dengan buku, generasi muda berisiko kehilangan kedalaman dalam memahami dunia, terjebak pada informasi yang cepat, tetapi dangkal.

‎Namun, di sudut sederhana Kota Bandung, harapan kecil mulai tumbuh dari tempat yang tak terduga. Sosok pemuda bernama Raja Sinaga, seorang pedagang cilok yang berupaya menghidupkan kembali kecintaan literasi khususnya dikalangan anak muda. 

‎Di sela aktivitasnya menjajakan jajanan cilok, ia pun membuka lapak baca buku gratis bagi siapa saja yang singgah. Tak ada syarat, tak ada biaya. Siapa pun boleh membaca, selama mereka mau meluangkan waktu sejenak untuk membuka lembaran buku.

‎Lapaknya mungkin tak luas. Hanya sebuah gerobak sederhana yang biasa ditemui di pinggir jalan. Namun di sanalah, buku-buku tersusun rapi, menjadi jembatan kecil antara dunia literasi dan masyarakat yang seringkali merasa jauh darinya. Anak-anak yang awalnya datang untuk membeli cilok, perlahan mulai tertarik membuka buku. Sebagian duduk, sebagian berdiri, larut dalam cerita yang sebelumnya tak pernah mereka sentuh.

‎Raja tidak sedang menjalankan program besar dengan dukungan institusi. Ia bergerak dari kesadaran personal: bahwa membaca adalah pintu perubahan, sekecil apa pun ruangnya. Ia membawa buku-buku itu sendiri, merawatnya, dan dengan sabar menawarkan kepada setiap pembeli. Baginya, satu anak yang membaca sudah cukup menjadi alasan untuk terus menumbuhkan kecintaan literasi.

‎Fenomena ini pun menarik perhatian publik karena menghadirkan sesuatu yang langka, inisiatif literasi yang lahir dari akar rumput. Di tengah narasi besar tentang rendahnya minat baca, Raja justru menunjukkan bahwa persoalan itu tidak selalu harus dijawab dengan program megah. Kadang, perubahan dimulai dari tindakan sederhana yang konsisten.

‎Lapak baca ini pun menciptakan ruang interaksi baru. Gerobak cilok yang biasanya hanya menjadi tempat transaksi ekonomi, berubah menjadi ruang dialog, ruang jeda, sekaligus ruang belajar. Anak-anak yang datang tidak hanya pulang dengan perut kenyang, tetapi juga dengan pikiran yang terisi ilmu.

‎Bagi Raja, pertanyaan seperti “bagaimana mungkin seorang tukang cilok gemar membaca?” bukanlah sesuatu yang asing. Justru dari keraguan itulah ia menemukan tujuannya. Ia ingin mematahkan anggapan bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu. Bahwa kecintaan terhadap buku tidak ditentukan oleh profesi, latar belakang, atau kondisi ekonomi. Dari gerobaknya, ia seperti sedang menyampaikan satu hal sederhana: siapa pun berhak Membaca buku.

‎Kecintaan itulah yang membuatnya bertahan. Meski penghasilan dari berjualan cilok tidak selalu menentu, Raja tetap menyisihkan bahkan menghabiskan upah hariannya untuk membeli buku. Baginya, buku bukan sekadar barang, melainkan investasi kecil untuk sebuah harapan yang lebih besar.