Perjuangan Bu Guru di Balik Gerobak Sekolah
Penulis : Usnita Bakti - Guru di Padang
Delapan tahun lalu, hidup Bu Rani terasa berhenti di satu titik waktu. Suaminya pergi untuk selamanya, meninggalkan empat anak yang masih kecil-kecil, ada yang baru belajar baca di bangku SD, ada yang masih sibuk ngejar layangan masa kecil. Hari itu, langit seperti jatuh ke pundaknya. Rasanya bukan cuma sedih, tapi seperti dunia menumpahkan seluruh gunung ke dadanya. Tapi begitulah kenyataannya.
Sejak saat itu, Bu Rani yang sudah separuh baya nggak punya waktu buat rebahan sama nasib. Pagi hari, ia tetap tampil rapi dengan seragam ASN, berdiri di depan kelas sebagai guru. Suaranya lembut, tapi seteguh akar pohon tua yang mencengkeram tanah saat badai datang. Ia mengajar dengan hati, seolah setiap huruf yang ditulis di papan tulis adalah jembatan menuju masa depan anak-anaknya sendiri.
Tapi hidup punya ironi yang kadang nyelekit. Seorang guru, yang tugasnya mencerdaskan anak bangsa, justru harus memutar otak keras karena gaji bulanan cuma “cukup-cukup tipis”, ya sekadar cukup buat dapur tetap ngebul. Biaya sekolah empat anak dari SD sampai perguruan tinggi jelas bukan angka receh. Tagihan datang seperti tamu tak diundang yang nggak tahu malu.
Akhirnya, Bu Rani bikin jalan ninja-nya sendiri. Seusai subuh, saat ayam bahkan masih malas berkokok, dapurnya sudah hidup seperti panggung konser. Wajan berdesis riang, spatula berdentang seperti musik perjuangan. Nasi goreng buatannya menebar aroma yang menggoda koridor sekolah. Martabak mini berjejer manis seperti bulan-bulan kecil yang siap diburu anak-anak. Mpek-mpek, cimol, dan puding seolah ikut tersenyum di meja jualannya, menunggu tangan-tangan mungil pembeli datang.
Di sekolah tempat ia mengajar, Bu Rani berubah mode: dari ibu guru jadi chef favorit di kantin sekolah. Anak-anak murid sampai guru lain sering bilang, “Kalau belum makan nasi goreng Bu Rani, pagi rasanya belum on.” Makanan jualannya bukan sekadar sarapan, tapi cinta seorang ibu yang digoreng bersama harapan, dibumbui air mata, lalu disajikan dengan senyum paling tulus.
Kadang ada rasa capek yang bikin tulangnya seperti mau protes demo. Tapi ia selalu bilang ke dirinya sendiri, “Nggak apa, ini cuma lelah kecil.” Padahal sebenarnya, lelahnya mungkin seluas samudra. Namun wajahnya tetap teduh, seolah badai tak pernah mampir ke hidupnya.
Tahun demi tahun berlalu. Anak-anaknya tumbuh, dari seragam merah putih sampai toga kampus. Satu per satu berhasil melangkah ke jenjang yang dulu cuma berani ia bisikkan dalam doa malam. Dari tangan yang katanya “hanya perempuan biasa”, lahirlah keajaiban besar.
Bu Rani bukan superhero yang pakai jubah. Jubahnya adalah celemek dapur dan seragam guru. Tongkat saktinya bukan sihir, tapi spatula dan kapur tulis. Dan kekuatan terbesarnya adalah cinta yang bahkan lebih luas dari langit.