Menlu Turki Tuduh Israel Gunakan Alasan Keamanan Sebagai Dalih untuk Perluas Wilayah Kekuasaan di Timur Tengah

ORBITINDONESIA.COM – Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menuduh Israel menggunakan alasan keamanan sebagai dalih untuk memperluas wilayah kekuasaannya di Timur Tengah. Pernyataan keras ini disampaikannya dalam Forum Diplomasi Antalya pada hari Sabtu, 18 April 2026.

"Israel tidak mengejar keamanannya sendiri. Israel menginginkan lebih banyak tanah. Keamanan digunakan oleh pemerintah Netanyahu sebagai dalih untuk menduduki lebih banyak tanah," tegas Fidan, sebagaimana dikutip oleh Hürriyet Daily News dan Roya News.

Menurut Fidan, Israel telah menciptakan ilusi internasional bahwa tindakannya semata-mata untuk pertahanan, namun realitas yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang berbeda. Ia menyoroti bahwa ekspansi ini tidak hanya terjadi di wilayah Palestina seperti Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur, tetapi juga telah meluas ke Lebanon dan Suriah.

"Hal ini merupakan pendudukan dan ekspansi yang terus berlanjut di kawasan. Ini harus dihentikan," tambahnya. Fidan menekankan bahwa satu-satunya jalan menuju perdamaian abadi adalah dengan menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara, bukan menggunakan kekuatan untuk menekan pihak lain.

Ancaman Langsung

Dalam kesempatan yang sama, kepala diplomat Turki ini juga memperingatkan bahwa kebijakan ekspansionis Israel telah menjadi ancaman langsung bagi keamanan global. Ia menilai bahwa tindakan agresif tersebut telah melampaui batas Gaza dan berpotensi menyeret seluruh kawasan ke dalam pusaran konflik yang lebih luas.

Ia juga menambahkan bahwa Israel tampaknya berusaha mencari musuh baru setelah Iran, dan berpotensi menempatkan Turki dalam posisi lawan strategis. "Israel tidak dapat berfungsi tanpa adanya musuh. Setelah Iran, mereka mungkin akan menjadikan Turki sebagai target berikutnya," ungkapnya dalam wawancara terpisah dengan Anadolu Agency.

Pernyataan ini menandai eskalasi terbaru dalam hubungan yang sudah tegang antara Ankara dan Tel Aviv, terutama sejak perang di Gaza yang dimulai setelah serangan 7 Oktober 2023.

Sebelumnya, Turki telah mengambil langkah tegas seperti memutus hubungan komersial, menutup wilayah udara dan laut bagi kapal serta pesawat Israel, serta mengajukan tuntutan hukum terhadap pejabat Israel terkait dugaan kejahatan perang dan genosida.

Di sisi lain, pemerintah Israel telah menanggapi kritik tersebut dengan nada keras. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menuduh Turki mendukung kelompok yang dianggap teroris, sementara pejabat lainnya menyebut pernyataan Fidan sebagai retorika politik semata.

Namun, di kalangan masyarakat Israel sendiri, pernyataan tersebut justru mendapat tanggapan beragam, dengan beberapa warganet yang mengakui kebenaran analisis mengenai kebijakan pemerintah saat ini.
 
(Sumber: Hürriyet Daily News, Roya News, Anadolu Agency, TRT Global) ***