Perikanan di Asia Tenggara: Antara Kelangsungan dan Krisis
ORBITINDONESIA.COM – Di pelabuhan Tanjung Luar, East Lombok, berbagai spesies hiu, termasuk yang terancam punah, diangkut pada fajar, menandai krisis perikanan yang menghantui Asia Tenggara.
Asia Tenggara, salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut terkaya, kini menghadapi penurunan drastis stok ikan. Faktor seperti perikanan skala industri, penangkapan ikan ilegal, dan permintaan yang tak terpuaskan menjadi pemicunya.
Menurut PBB, sekitar setengah dari tangkapan ikan laut dunia berasal dari Asia Tenggara. Namun, pengelolaan yang lemah dan subsidi pemerintah telah memperparah situasi. Pada 2022, Akbar Fitrian melihat rekannya didorong ke laut oleh kapten kapal di kapal milik Tiongkok.
Ketidakstabilan geopolitik memperburuk kondisi. Armada perikanan Tiongkok, yang terbesar di dunia, kini militeristik. Di Thailand, penangkapan ikan ilegal dan pelanggaran hak asasi manusia merajalela. Aktivis menyerukan reformasi untuk menghentikan praktik-praktik ini.
Krisis ini mengancam kelangsungan hidup jutaan orang yang bergantung pada perikanan. Dengan kerja sama regional yang lebih kuat dan rantai pasokan yang transparan, Asia Tenggara bisa kembali mengelola lautannya. Masa depan perikanan bergantung pada keputusan yang diambil hari ini.
(Orbit dari berbagai sumber, 21 April 2026)