Satrio Arismunandar: The Economist Mengakui Iran Mengalahkan AS dalam Perang Propaganda AI

ORBITINDONESIA.COM - Artikel berjudul “In the AI propaganda war, Iran is winning” di majalah The Economist baru-baru ini menyampaikan argumen yang cukup mengejutkan: dalam ranah propaganda digital—khususnya berbasis AI dan media sosial—Iran tampil lebih efektif dibanding Amerika Serikat.

Intinya bisa diringkas menjadi beberapa poin utama:

Pertama, Iran menguasai “bahasa internet”. Iran menggunakan video AI, meme satir, animasi (bahkan bergaya LEGO), dan humor politik yang menyindir Barat, khususnya Donald Trump. Konten ini bukan sekadar propaganda klasik, tetapi propaganda yang “menghibur”—mudah viral dan mudah dibagikan.

Kedua, viralitas sebagai senjata utama. Menurut riset yang dikutip artikel tersebut: jaringan pro-Iran meraih ratusan juta hingga miliaran views, dalam waktu singkat konten mereka menyebar lintas platform global, termasuk ke audiens Barat. Artinya, Iran tidak hanya “berbicara ke dalam negeri”, tetapi menyerang opini global.

Ketiga, AS kalah adaptif. Sementara itu, narasi Amerika cenderung formal, institusional, dan kaku,

tidak “native” dengan kultur meme dan algoritma media sosial. Hasilnya: pesan AS kalah menarik dan kalah menjangkau audiens muda global.

Ketika Propaganda Masuk Era AI

Laporan The Economist mengangkat sebuah fenomena yang mencerminkan perubahan lanskap kekuasaan global—bukan di medan perang fisik, melainkan di ruang digital yang semakin menentukan arah opini publik dunia.

Artikel itu menyoroti bagaimana Iran, sebuah negara dengan sistem teokratis yang kerap diasosiasikan dengan kontrol ketat terhadap informasi, justru tampil gesit dan inovatif dalam memanfaatkan teknologi baru—khususnya kecerdasan buatan—untuk menyebarkan propaganda.

Alih-alih menggunakan pendekatan propaganda klasik yang kaku dan formal, Iran mengadopsi gaya komunikasi yang jauh lebih adaptif terhadap budaya internet. Mereka memproduksi konten yang kreatif dan mudah dipahami lintas budaya.

Yang membuat strategi ini efektif adalah kemampuannya untuk menembus algoritma media sosial. Konten-konten tersebut dirancang bukan hanya untuk menyampaikan pesan politik, tetapi juga untuk menarik perhatian, memancing emosi, dan mendorong penyebaran secara organik. Dalam ekosistem digital saat ini, daya tarik semacam ini sering kali lebih menentukan dibanding akurasi atau kedalaman pesan itu sendiri.

Artikel tersebut juga mencatat bahwa jangkauan propaganda Iran kini tidak lagi terbatas pada audiens domestik atau regional. Dengan memanfaatkan platform global, pesan-pesan tersebut mampu menjangkau khalayak internasional dalam skala besar, bahkan masuk ke ruang diskusi publik di negara-negara Barat.

Narasi AS Cenderung Formal dan Institusional

Di sisi lain, pendekatan Amerika Serikat dinilai kurang lincah dalam menghadapi perubahan ini. Narasi yang disampaikan cenderung formal dan institusional, sehingga kurang mampu bersaing dalam ekosistem media sosial yang mengutamakan kecepatan, emosi, dan kreativitas.

Melalui pengamatan ini, The Economist pada dasarnya ingin menunjukkan bahwa medan propaganda telah berubah secara fundamental. Kemenangan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki sumber daya terbesar, melainkan oleh siapa yang paling mampu memahami cara kerja perhatian publik di era digital.

Dalam konteks itu, Iran tampil sebagai contoh bagaimana sebuah negara dapat memanfaatkan teknologi dan budaya internet untuk memperluas pengaruhnya—bahkan melampaui batas-batas kekuatan konvensional yang selama ini dianggap menentukan.

Posisi Naratif Melawan Dominasi Barat

Namun keunggulan Iran tidak semata soal teknologi atau kreativitas. Ada faktor lain yang tak kalah penting: posisi naratif. Iran memosisikan diri sebagai pihak yang melawan dominasi Barat—sebuah narasi yang resonan di banyak negara berkembang. Dalam konteks ini, mereka bermain sebagai “underdog” yang menantang kekuatan besar, sebuah cerita yang secara psikologis lebih mudah mendapat simpati.

Ironisnya, keberhasilan ini datang dari negara yang di dalam negerinya justru dianggap membatasi kebebasan informasi. Iran mengontrol internet domestik dengan ketat, namun di saat yang sama sangat agresif dan adaptif dalam memanfaatkan ruang digital global. Ini menunjukkan bahwa kontrol internal tidak selalu bertentangan dengan ekspansi eksternal—bahkan bisa berjalan beriringan.

Terbukti, perang modern tidak lagi hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di layar ponsel—di antara video pendek, meme, dan algoritma yang tak terlihat.

Dan dalam perang yang nyaris tak kasat mata itu, Iran telah menunjukkan bahwa bahkan negara yang bukan superpower sekalipun bisa menantang dominasi global—bukan dengan senjata, melainkan dengan cerita.

*Satrio Arismunandar, praktisi media, pakar SCSC (South China Sea Council).