Fenomena Quiet Quitting: Antara Budaya Kerja dan Prioritas Hidup

ORBITINDONESIA.COM – Fenomena quiet quitting kembali mencuat di tengah pergeseran budaya kerja global, memicu diskusi tentang keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi.

Quiet quitting, istilah yang mulai dikenal luas selama pandemi, kini kembali dibicarakan saat tenaga kerja menghadapi burnout dan ketidakpuasan kerja. Sebuah laporan dari Genius Consultants mengungkapkan bahwa banyak pekerja muda, terutama Gen Z, menyalahkan budaya kerja yang toksik dan tekanan berlebihan.

Para ahli menyatakan bahwa quiet quitting tidak selalu berarti kinerja buruk, melainkan perubahan prioritas. Penelitian dari Stevens Institute of Technology tahun 2025 menunjukkan perlunya otonomi dan keterlibatan bermakna untuk mengurangi fenomena ini.

Beberapa analis berpendapat bahwa pergeseran generasi dalam pandangan terhadap pekerjaan sedang membentuk kembali narasi karier tradisional. Generasi muda kini lebih menekankan fleksibilitas dan proyek sampingan daripada ambisi korporat konvensional.

Organisasi merespons dengan intervensi budaya untuk meningkatkan pengakuan dan peluang pertumbuhan karyawan. Diskusi tentang quiet quitting menyoroti pentingnya kesejahteraan karyawan dan ekspektasi organisasi di era pasca-pandemi.

(Orbit dari berbagai sumber, 24 April 2026)