Juli Budi Winantya: Terkait Pelemahan Rupiah yang Dipicu Perang Timur Tengah, BI Terus Tingkatkan Intervensinya

ORBITINDONESIA.COM - Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juli Budi Winantya mengatakan, pelemahan rupiah dipicu perang di Timur Tengah. Perang mendorong AS menggelontorkan belanja lebih besar dan membuat defisit fiskal membesar, sehingga mendorong imbal hasil US Treasury meningkat.

Itulah yang kemudian mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia sehingga menekan nilai tukar rupiah. BI, kata dia, terus meningkatkan intervensinya.

Sementara Menkeu Purbaya menegaskan, pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.300/USD bukan cerminan memburuknya kondisi ekonomi Indonesia.

Fondasi ekonomi nasional, kata dia, masih relatif lebih kuat dibanding beberapa negara kawasan, termasuk Malaysia dan Thailand.

Ia juga menyebut perkembangan nilai tukar rupiah masih masuk dalam skenario yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Ia juga memastikan defisit APBN masih akan di bawah ambang batas 3%.

Pada perdagangan akhir pekan kemarin, rupiah ditutup menguat 0,52% ke Rp 17.205/USD. Sepanjang pekan ini, rupiah telah melemah 0,9%, melanjutkan tren pelemahannya selama sebulan mencapai 1,28%.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama kembali menguat di level 98, seiring naiknya harga minyak di atas USD 100/barel. Hal ini membebani mata uang kawasan. Namun bagi rupiah, beban eksternal diperparah oleh kondisi domestik, terutama sentimen terkait fiskal.

Lembaga pemeringkat kredit Fitch Ratings menilai Indonesia masih punya ruang untuk melampaui batas defisit fiskal 3% dari PDB tanpa memicu penurunan rating utang.

Pelonggaran defisit masih bisa ditoleransi selama bersifat sementara akibat tekanan eksternal, seperti perang di Timur Tengah.

Menurut Direktur Sovereign Ratings Fitch, George Xu, pelonggaran defisit bisa ditoleransi jika pemerintah mampu menjaga komunikasi yang jelas kepada pasar, serta memiliki rencana konsolidasi fiskal ke depan.

Bulan lalu, Fitch menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Keputusan itu didasarkan pada meningkatnya ketidakpastian serta menurunnya kredibilitas kebijakan, di tengah berbagai tantangan ekonomi sepanjang 2026.

Namun penilaian itu belum memasukkan dampak konflik Timur Tengah yang dinilai memperbesar risiko fiskal. Pemerintah sendiri tengah membahas kemungkinan pelebaran defisit anggaran akibat perang, bahkan bisa sampai 4% dari PDB. ***