Puisi Berthold Damshäuser: Jam Gadang Bukittinggi: Merenungkan Kala

ORBITINDONESIA.COM - Di kota indah ini, di Bukittinggi kota bersejarah,

Aku berdiri di depan Jam Gadang, menatap menara,

Melihat atap Minangkabau menari di atas garis Belanda.

Terdengarlah tiba-tiba bisik tentang kala,

Bisik yang mengajak berenung.

 

Jam itu sendiri bermulai:

Seratus tahun aku berdetak di sini,

Sebuah ketiadaan waktu dalam keabadian Tuhan,

Aku sekadar hamba sang Kala,

yang menantang dan membingungkan

manusia sepanjang zaman.

 

Herakleitos pernah berkata:

Segala sesuatu mengalir, tiada yang tetap.
Mungkin aku pun air yang tak pernah sama,

Dan yang tadi aku, kini hanyut sudah,

larut dalam samudra keberadaan.

 

Agustinus bertanya: Waktu itu apa?

Lalu mengaku: Jika tidak ditanya, aku tahu;

jika harus menjelaskan, aku tidak tahu.

Oleh bahasa, aku jadi tidak tahu?

Oleh tanya, aku terseret dalam labirin?

Sedangkan hewan, buta akan kata,

Tak terkurung di penjara waktu,

Namun bersemayam dalam arusnya.


Bergson berkata: Waktu itu durasi,

hidup yang tak putus-putus.

Sains menumbalkan waktu,

Menyalib detaknya pada deret angka;

Ruang sunyi dipagari ukuran.

Namun di dalam jiwaku,

Waktu sebuah lagu tanpa jeda,

Di mana dulu dan nanti

Lebur di dalam satu nada.

Heidegger berkata: Menjadi diri sendiri, itulah waktu.

Dan aku pun memahami:

Saat kucari waktu,

Aku menemukan diriku.

Dan dalam gentar akan maut,

Kusadari: gentar itu adalah waktu.

 

Buddha berkata: Hanya masa kini yang nyata.
Maka aku pun ingin berhenti:

Tak lagi rela memburu hari yang belum lahir,

Tak lagi rela meratapi debu yang gugur sudah.

Di sini, di antara nafas dan hening,

waktu bukan lagi takdir, bukan pula beban,

melainkan kebangkitan di detik ini.

 

Injil berkata: Untuk segala sesuatu ada waktunya.
Maka aku ingin berserah:

Tak lagi mengepal tangan,

Tak lagi memacu detak yang tak mau lari.

Sebab ada waktu untuk menanam,

Dan ada waktu untuk menuai.

Waktu bukan milikku,

Ia hamparan yang telah tertulis.

 

Laozi berkata: Alam tak tergesa, segalanya tercapai.
Maka aku ingin membiarkan diri:

Mengalir bagai air, menetap bagai batu.

Tanpa hasrat untuk memburu,

tanpa takut akan yang berlalu.

 

Einstein berkata: Waktu itu relatif.

Lalu ia tambahkan: Masa lalu, kini, dan esok hanyalah ilusi.

Bingunglah aku. Jika esok dan kemarin tiada,

Apakah arti sebuah rencana?

Tanpa "nanti", apa arti tujuan?

Tanpa "dulu", apa arti kenangan?

Andaikan segala hanya bayangan bebal,

Kita cuma debu yang tersesat

Di ruang hampa tanpa arah.

 

Al-Qur'an berkata: Kamu tinggal di dunia

tidak lebih dari sehari saja.

Maka aku pun tersadar:

Dunia sekadar mampir sejenak tuk minum.

Jika selalu ada esok lagi, jika keabadian berkuasa,

Maka lara paling perih pun dalam hidup duniawi,

Cumalah sedenyut gigitan nyamuk di kulit.

 

Wheeler berkata: Waktu mencegah segalanya terjadi sekaligus.

Maka aku pun paham:

Waktu adalah saringan agar ledakan semesta

Menjadi kepingan hari yang mampu kutelan.

Ialah jarak agar sebab mencapai akibat,

Ruang bagi benih untuk menjadi bunga.

Andai tiada urutan, takkan ada kisah,

Hanya gambar beku dalam sunyi yang kaku.

 

Lalu Jam Gadang berkata:

Aku tak peduli tafsir-tafsir tentang waktu,

Aku tetap berdiri, menghitung detak

Di jantung kota Bukittinggi.

Tak bertanya apakah aku nyata atau bayangan,

Tak peduli apakah sedetikmu sekejap atau seabad.

Tugasku hanya satu: Menjaga manusia agar tak tersesat

Dalam hampa yang mereka ciptakan sendiri.

Aku melihat mereka berlari, bersujud,

Melihat mereka lahir dan luruh dalam debu.

Bagiku, waktu bukan teka-teki untuk dipecahkan,

Melainkan rumah yang wajib dihuni dengan setia,

Sampai akhirnya loncengku sunyi,

Lebur dalam pelukan azali.

(Bonn, bulan Januari 2026)

Biodata Penulis:

Berthold Damshäuser, akrab dipanggil “Pak Trum”, lahir pada tahun 1957 di Wanne-Eickel, Jerman. Sejak 1986 hingga 2023, ia mengabdikan dirinya sebagai pengajar bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Bonn. Ia adalah koeditor Orientierungen, jurnal bergengsi yang mengkaji kebudayaan Asia. Damshäuser dikenal luas sebagai penerjemah puisi—mengalihkan karya-karya Jerman ke dalam bahasa Indonesia dan sebaliknya—serta beberapa kali dipercaya menjadi penerjemah Presiden Suharto dalam kunjungan kenegaraan. Bersama Agus R. Sarjono, ia menyunting Seri Puisi Jerman yang diterbitkan sejak 2003. Pada 2010, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menunjuknya sebagai Presidential Friend of Indonesia. Pada 2014 dan 2015, ia diundang menjadi anggota Komite Nasional Indonesia sebagai Tamu Kehormatan Pekan Raya Buku Frankfurt. Esai-esainya dalam bahasa Indonesia telah menghiasi halaman Majalah Tempo, Jurnal Sajak, dan berbagai media terkemuka. Karya-karya tulisnya dihimpun dalam buku Ini dan Itu Indonesia – Pandangan Seorang Jerman. Salah satu karya terbarunya, Eksegesis Pancasila: Membaca Ulang Lima Sila. Amatan Seorang Jerman, diterbitkan di Jakarta pada tahun 2025. Sejak 2023, ia menjadi anggota Persatuan Penulis Indonesia (Satupena). Ia menetap di Bonn, Jerman ***