Konferensi Global: Langkah Bersama Menuju Energi Bersih

ORBITINDONESIA.COM – Di tengah krisis energi global, hampir 60 negara berkumpul di Santa Marta, Kolombia, untuk membahas penghapusan bahan bakar fosil.

Konferensi ini berlangsung saat Amerika Serikat dan Israel berperang dengan Iran, memicu krisis energi global. Ketegangan di Selat Hormuz telah memaksa banyak negara untuk mempertimbangkan kembali ketergantungan mereka pada bahan bakar fosil impor. Beberapa negara melihat ini sebagai peluang untuk beralih ke energi terbarukan, sementara yang lain mungkin lebih memilih mengandalkan cadangan energi domestik seperti batu bara.

Di tengah tekanan global, transisi dari bahan bakar fosil menjadi agenda utama, meskipun tantangan tetap besar. Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Donald Trump, menarik diri dari kesepakatan iklim dan menolak partisipasi dalam agenda iklim internasional. Sementara itu, negara-negara seperti Uni Eropa menekankan kebutuhan mendesak untuk mengembangkan energi bersih seperti angin dan surya, terutama setelah dampak perang Iran.

Konferensi ini mencerminkan upaya negara-negara untuk membentuk koalisi dalam transisi energi bersih, meskipun tidak semua negara penghasil utama minyak dan gas hadir. Ketidakhadiran negara-negara seperti China, India, dan Rusia menyoroti tantangan dalam mencapai konsensus global. Namun, kehadiran sejumlah negara penghasil bahan bakar fosil menunjukkan adanya kesadaran akan kebutuhan untuk beralih ke energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Konferensi Santa Marta menjadi titik penting dalam upaya global menuju energi bersih. Dengan tantangan energi yang semakin mendesak, penting bagi komunitas internasional untuk bekerja sama menemukan solusi yang berkelanjutan. Apakah dunia dapat bersatu untuk mengatasi krisis iklim ini? Hanya waktu yang akan menjawab.

(Orbit dari berbagai sumber, 29 April 2026)