Puisi Agus Bachtiar K: Tangisku Bersama Ki Hadjar

ORBITINDONESIA.COM - Terdengar Ki Hadjar berbisik,
Membangunkanku dan menelisik,
"Apa yang terjadi di panas terik?
Apakah gerangan yang menarik?"

Sejenak, ku diam membisu,
Tak tahu apa yang 'kan jadi jawabku.
Setengah gundah bercampur malu,
"Ada pembagian makanan, wahai Guru..."

Ki Hadjar terhenyak,
Istirahatnya mendadak tak nyenyak.
Melihat lagi kerumunan orang banyak,
Bercampur baur berebut minyak.

"Maafkan kami, Ki.
Mohon... Anda jangan benci.
Semua mereka hanya tak mengerti,
Jika pendidikan lebih berharga dari sekadar nasi."

Ki Hadjar menghela napas,
Dari matanya tampak tak puas.
Sedih, pilu bercampur waswas,
"Pantaslah kita tak kunjung cerdas."

Aku menunduk...
Perasaanku bercampur aduk.
Bagai berlayar bersama biduk,
Dihempas gelombang dari kapal induk.

"Sudah, Nak, coba tenangkan.
Jangan pernah ini kau ungkapkan
pada Mas Hasyim Asy'ari dan Mas Ahmad Dahlan;
Beliau 'kan sedih tak berkesudahan."

"Baiklah, Ki Hadjar,
Saya masih terus belajar.
Kami akan terus berlayar,
Semoga Merah Putih akan terus berkibar!"

Kataku lagi,
"Maafkan negeri ini,
yang melupakan tanggal 2 Mei,
tak semeriah pembagian nasi."

Tangisku pecah...
Air mata tertumpah.
Betapa miris negeriku yang megah,
hanya berebut barang murah.

Ki Hadjar mengangguk tulus,
Matanya menatap lurus.
Semoga negeri kembali terurus,
di tengah kesadaran yang kian tergerus.

Toboali, 4 Mei 2026
Sang Peramu Aksara
(Agus Bachtiar. K)