Kontroversi Keuntungan Shell di Tengah Krisis Energi

ORBITINDONESIA.COM – Shell menghadapi kritik tajam setelah melaporkan lonjakan keuntungan akibat harga minyak yang meroket akibat perang Iran.

Shell, raksasa minyak global, melaporkan keuntungan besar lebih dari dua kali lipat dari periode tiga bulan sebelumnya, memicu kemarahan publik. Di tengah harga bahan bakar yang melambung, perusahaan ini mencatatkan pendapatan 6,92 miliar dolar AS, di tengah tantangan ekonomi global yang diperburuk oleh konflik di Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak mentah telah meningkatkan bisnis perdagangan minyak Shell secara signifikan. Divisi kimia dan produk Shell juga mengalami peningkatan pendapatan lebih dari empat kali lipat. Namun, meski mencatatkan keuntungan besar, saham Shell malah turun 2% setelah mengurangi pembelian kembali saham dan hanya menaikkan dividen sebesar 5%.

Organisasi dan aktivis lingkungan mengkritik keras keuntungan perusahaan minyak ini. Mereka menyoroti bahwa konflik di Timur Tengah justru menguntungkan perusahaan energi, sementara rumah tangga di Inggris menghadapi lonjakan biaya hidup. Penolakan perusahaan terhadap pajak keuntungan mendadak menambah kontroversi.

Situasi ini menggugah pertanyaan tentang keberlanjutan ketergantungan ekonomi global pada bahan bakar fosil. Apakah saatnya untuk memperkuat pajak dan beralih ke energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan? Masa depan mungkin terletak pada energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

(Orbit dari berbagai sumber, 11 Mei 2026)