Satrio Arismunandar: Berakhirnya “Soft Power” AS di Bawah Trump, yang Kini Hanya Mengandalkan “Hard Power”

Oleh Satrio Arismunandar, jurnalis senior, Dewan Pakar SCSC (South China Sea Council).

ORBITINDONESIA.COM - Bagi mahasiswa studi hubungan internasional dan pengkaji geopolitik, sebuah artikel di majalah Foreign Policy (4 Mei 2026) tampaknya akan menarik minat mereka. Artikel berjudul "The End of America’s Soft Power" itu mengangkat fenomena terkini politik luar negeri Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump.

Artikel itu ditulis oleh Stephen M. Walt, kolumnis di Foreign Policy, profesor hubungan internasional di Universitas Harvard, dan penulis di buletin The New Geopolitics.

Dalam artikelnya, Walt menyatakan, salah satu fitur yang paling mencolok dari pendekatan pemerintahan Trump terhadap kebijakan luar negeri adalah kepercayaan mutlaknya pada kekuatan keras (hard power) Amerika dan penghinaannya yang hampir total terhadap "kekuatan lunak" (soft power). 

Soft Power Menurut Joseph S. Nye Jr.

Apa yang dimaksud dengan “kekuatan lunak?” Gagasan “kekuatan lunak” dimunculkan pertama kali oleh ilmuwan politik Amerika dan mantan pejabat pemerintahan Clinton, Joseph S. Nye Jr., di Foreign Policy. Konsep “Soft power” yang dinyatakan sekitar tiga dekade lalu itu menjadi populer dan kemudian mendefinisikan era pasca-Perang Dingin.

Nye mendefinisikan soft power sebagai "kekuatan daya tarik," sebagai kemampuan suatu negara untuk membuat orang lain melakukan apa yang diinginkannya, karena negara tersebut memiliki kualitas yang membuat orang lain ingin menirunya, berasosiasi dengannya, dan mengikuti kepemimpinannya.

Negara-negara dengan banyak kekuatan keras dapat memaksa orang lain melalui kekuatan dan intimidasi, atau dengan menawarkan bantuan ekonomi atau perlindungan militer.

Sedangkan, negara-negara dengan kekuatan lunak yang melimpah menikmati pengaruh yang lebih besar. Hal ini karena orang lain ingin menjadi seperti mereka, setuju dengan prinsip-prinsip yang mereka junjung tinggi, atau memandang mereka sebagai negara yang modis, sukses, dan bahkan "gaul."

Seorang realis yang baik hampir tidak akan meremehkan pentingnya kekuatan keras. Sulit untuk memiliki banyak kekuatan lunak tanpa kekuatan keras yang substansial untuk mendukungnya.

Tetapi sebuah negara dapat memiliki banyak kekuatan keras dan sedikit atau tanpa kekuatan lunak, seperti yang ditunjukkan oleh Rusia di bawah kepemimpinan Vladimir Putin.

Idealnya, sebuah negara ingin memiliki banyak keduanya: hard power dan soft power. Hal ini karena memiliki banyak kekuatan lunak berarti orang lain secara alami akan cenderung melakukan apa yang Anda inginkan, dan Anda tidak perlu sering menggunakan kekuatan keras.

Nye percaya bahwa kombinasi hard power dan soft power Amerika memberikan keuntungan yang sangat besar ketika berurusan dengan dunia luar. Ini merupakan salah satu alasan dia optimis tentang masa depan Amerika dan skeptis terhadap mereka yang memprediksi kemunduran AS.

Namun pada akhir kariernya yang panjang, bahkan Nye pun mulai khawatir tentang apa yang terjadi pada daya tarik global Amerika.

Pemujaan Eksklusif terhadap Hard Power

Dalam artikelnya, Walt menyampaikan analisis kritis mengenai arah politik luar negeri Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump periode kedua.

Walt berpendapat bahwa Washington secara sadar tengah menghancurkan salah satu aset geopolitik terbesarnya, yaitu soft power, demi mengejar keuntungan transaksional jangka pendek yang bertumpu total pada hard power (kekuatan militer dan ekonomi).

Walt memetakan kemunduran tersebut ke dalam beberapa poin krusial. Pemerintahan AS saat ini memiliki keyakinan mutlak bahwa AS bisa mendikte dunia cukup dengan ancaman militer dan sanksi ekonomi.

Walt menilai taktik ini picik, karena mengabaikan fakta bahwa diplomasi global jauh lebih mudah berjalan ketika negara lain ingin bekerja sama dengan AS, bukan karena mereka takut dirugikan.

Walt juga menyoroti langkah material pemerintah Trump yang secara drastis memotong anggaran bantuan luar negeri. Salah satu contoh ekstrem yang ia sebutkan adalah perombakan radikal terhadap U.S. Agency for International Development (USAID) di bawah mandat efisiensi lembaga pemerintah (DOGE yang dipimpin Elon Musk).

Selain itu, keputusan AS untuk kembali keluar dari UNESCO dinilai Walt sebagai bentuk penyerahan ruang diplomasi normatif—seperti tata kelola pendidikan global dan etika AI—secara cuma-cuma kepada kompetitor utamanya, China.

Pandangan Dunia yang Kaku (Winners vs. Losers)

Daya tarik Amerika sebagai teladan demokrasi runtuh dari dalam. Walt menunjuk pada kasarnya kehidupan politik domestik, operasi penangkapan imigran yang agresif, tindakan keras terhadap pengunjuk rasa, hingga serangan politik terhadap institusi pendidikan tinggi (universitas AS, yang selama ini menjadi salah satu simbol prestise global tertinggi).

Semua ini memperlihatkan citra Amerika yang "buruk, korup, dan terpecah" di mata publik internasional.

Pemerintah AS juga mengadopsi weltanschauung (pandangan dunia) biner yang kaku. Pandangan ini membagi aktor global menjadi dua: "pemenang" dan "pecundang". Dalam doktrin ini, kompromi sekecil apa pun dianggap sebagai kekalahan.

Akibatnya, AS kerap menunjukkan postur arogan, bahkan menyerang sekutu-sekutu tradisionalnya sendiri (seperti Kanada atau Denmark) hanya karena kritik ringan.

Konsekuensi Geopolitik Jangka Panjang

Berdasarkan data persepsi global terbaru, citra AS merosot tajam ke angka negatif di mayoritas negara, sementara citra China justru merangkak naik.

Walt memperingatkan bahwa mengandalkan kekuatan militer yang digunakan secara impulsif dan penuh dendam hanya akan membuat dunia memandang AS sebagai "aktor yang berbahaya dan tidak menentu" (erratic).

Akibatnya, para sekutu akan mulai melakukan lindung nilai (hedging) mencari kemitraan lain, yang pada gilirannya akan melumpuhkan kemampuan AS dalam menggalang koalisi internasional atau menegakkan sanksi di masa depan.

Walt menyimpulkan bahwa AS mungkin tetap menjadi negara yang paling perkasa secara militer dan ekonomi. Namun, dengan membiarkan soft power-nya mati, Washington telah membuang legitimasi internasional, yang selama ini menjadi pelindung sekaligus pengganda kekuatan nyata Amerika di panggung dunia. #

Depok, 18 Mei 2026