Dari Importir Jadi Eksportir, Kisah homLiv Mengangkat Produk Lokal Indonesia

Dulu, Yudiana Lyn menjalankan bisnis dengan mendatangkan produk rumah tangga dari China untuk dijual di pasar Indonesia. Namun kini arah usahanya justru berbalik. Dari yang sebelumnya mengimpor barang, ia perlahan membangun jalan untuk membawa hasil karya pengrajin lokal Indonesia menembus pasar ekspor yang lebih luas.

Awal perjalanan bermula ketika pandemi membuat bisnis impor yang selama ini berjalan stabil mulai terganggu. Distribusi barang tersendat, pasokan tidak menentu, sementara pasar tetap harus berjalan. Dalam situasi itu, Yudiana mulai melihat bahwa ketergantungan pada produk luar ternyata membuat usaha menjadi lebih mudah rapuh.

Di saat banyak pelaku usaha sibuk mencari cara agar barang impor tetap bisa masuk, ia justru mulai melirik sesuatu yang selama ini ada sangat dekat tetapi jarang dianggap serius yaitu dengan memanfaatkan produk pengrajin lokal.

Perjalanan tersebut membawa Yudiana Lyn bertemu dengan para pengrajin kayu di Yogyakarta. Saat itu, banyak dari mereka mengalami penurunan pesanan. Bengkel-bengkel kecil yang biasanya hidup dari kerajinan dan pesanan peralatan rumah tangga mulai sepi. Padahal, keterampilan yang mereka miliki tidak bisa dianggap biasa. Dari tangan merekalah kayu-kayu sederhana diolah menjadi produk yang rapi, kuat, dan memiliki karakter.

Pertemuan itu perlahan mengubah cara pandang Yudiana terhadap bisnis yang ingin ia bangun.

Ia mulai mencoba membuat produk rumah tangga bersama para pengrajin lokal. Awalnya hanya perlengkapan sederhana seperti spatula kayu, talenan, dan alat masak harian. Tidak ada yang terlalu mewah. Tetapi justru dari produk-produk sederhana itu, homLiv mulai dikenal.

Ada sesuatu yang berbeda dari produk-produk mereka. Warna kayunya dibiarkan tetap natural, bentuknya sederhana, tetapi terlihat modern. Banyak orang yang pertama kali melihat produk homLiv justru mengira barang-barang itu berasal dari luar negeri. Padahal hampir seluruh proses pembuatannya dikerjakan oleh pengrajin lokal dengan material kayu Indonesia.

Di tengah maraknya produk pabrikan massal, homLiv memilih mempertahankan sentuhan pengerjaan manual. Mereka tidak hanya menjual fungsi sebuah produk rumah tangga, tetapi juga menghadirkan produk yang memiliki nilai estetika, karakter, dan kehangatan dalam setiap detail pengerjaannya.

Tentu perjalanannya tidak langsung mudah. Selama bertahun-tahun, masyarakat sudah terbiasa menganggap produk impor lebih unggul dibanding produk lokal. homLiv harus membangun kepercayaan itu perlahan. Mereka memilih fokus menjaga kualitas, detail pengerjaan, dan desain yang bisa diterima pasar modern tanpa kehilangan identitas lokalnya.

Pelan-pelan, produknya mulai mendapat tempat di pasar. homLiv hadir di berbagai toko perlengkapan rumah tangga dan mulai dikenal sebagai brand lokal dengan kualitas premium. Tidak sedikit konsumen yang baru sadar bahwa produk yang mereka gunakan ternyata dibuat oleh pengrajin Indonesia.

Kini, produk homLiv tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga mulai menjangkau pasar luar negeri. Ironis sekaligus menarik, usaha yang dulu bergantung pada barang impor kini justru berkembang dengan membawa hasil karya lokal ke pasar ekspor.

HomLiv membuktikan bahwa produk lokal bukan hanya mampu bersaing di pasar global, tetapi juga memiliki kualitas yang tidak kalah dari barang impor.