Ketika Satu Video Menteri Ben-Gvir Meruntuhkan Mesin Propaganda Zionis Israel Senilai $750 Juta

ORBITINDONESIA.COM - Selama bertahun-tahun, Israel membangun sebuah mesin propaganda raksasa yang dikenal dengan nama Hasbara, sebuah kata dalam bahasa Ibrani yang secara harfiah berarti "penjelasan."

Tujuannya sederhana namun ambisius: membentuk opini dunia agar selalu memandang kebijakan Israel secara positif, atau setidaknya bisa dipahami. Anggaran mesin ini diproyeksikan melonjak drastis dari $15 juta pada 2023 menjadi $750 juta pada 2026, seiring semakin dalamnya isolasi internasional Israel pasca genosida di Gaza.

Namun semua investasi itu hancur dalam hitungan menit, bukan oleh musuh Israel, melainkan oleh salah satu menterinya sendiri.

Pada 20 Mei 2026, Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan ekstrem kanan, Itamar Ben-Gvir, memposting sebuah video di platform X.

Rekaman itu memperlihatkan dirinya berjalan dengan penuh kepongahan di antara ratusan aktivis flotilla yang berlutut di lantai Pelabuhan Ashdod dengan mata tertutup, tangan diikat ke belakang.

Ben-Gvir melambaikan bendera Israel besar, lalu berkata kepada para tahanan: "Welcome to Israel. We are the landlords."

Video itu menyebar seperti api.

Video itu menjadi bumerang bagi Israel. Italia, Prancis, Belanda, Kanada, dan Spanyol memanggil duta besar Israel. Bahkan Menteri Luar Negeri Israel sendiri, Gideon Sa'ar, secara terbuka memaki rekannya di kabinet, menyebut Ben-Gvir telah "merusak upaya profesional luar biasa dari banyak orang."

Netanyahu pun bergerak cepat memerintahkan deportasi para aktivis. Namun para analis menilai respons itu bukan cerminan kemarahan moral melainkan kepanikan atas kerusakan citra.

PM Kanada Mark Carney mengatakan: “Perlakuan keji terhadap warga sipil di atas armada, termasuk yang didokumentasikan dalam rekaman yang dibagikan oleh Itamar Ben-Gvir, tidak dapat diterima… Perlindungan warga sipil dan penghormatan terhadap martabat manusia harus dijunjung tinggi dimanapun, setiap saat.”

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebut klip tersebut "tidak dapat diterima," dan mengecam perlakuan terhadap para aktivis yang melanggar martabat manusia mereka.

Spanyol dan Irlandia juga mengeluarkan pernyataan, mengecam perilaku Ben Gvir yang "mengerikan" dan "menjijikkan".

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengeluarkan kritik yang jarang terjadi, menyebut tindakan Ben Gvir sebagai "tercela".

Bahkan pembela Israel kelas berat, yaitu Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee turut mengecam tindakan Ben-Gvir.

“Aksi konvoi itu adalah aksi bodoh, tetapi Ben Gvir telah mengkhianati martabat negaranya,” tulisnya di X.

Tak terkira banyaknya kecaman yang datang mulai dari pemimpin negara, pejabat tinggi, jurnalis, akademisi, tokoh-tokoh internasional sampai orang biasa terhadap tindakan barbar Ben-Gvir tersebut. Dan yang lebih menohok adalah kecaman dari publik Israel itu sendiri.

Ini menjadi bukti sahih bahwa Israel selama ini memang terus melakukan pelanggaran kemanusiaan.

Publik dalam negeri mengecam bukan karena pelanggarannya, tapi karena Ben-Gvir dengan sangat baik menunjukkan jati diri sesungguhnya Israel. Satu hal yang menimbulkan kemarahan dan sangat disesali publik Israel.

Hal ini menimbulkan ironi. Selama ini Hasbara bekerja dengan asumsi bahwa Israel selalu benar, namun dunia tidak memahaminya. Maka narasi pun dibentuk, dikemas, dan didistribusikan ke berbagai audiens global dengan pesan yang terukur.

Tapi Ben-Gvir tidak bermain dalam logika itu. Ia tidak peduli dengan citra Israel di mata dunia. Videonya bukan untuk konsumsi internasional. Ia memainkannya untuk basis pemilih sayap kanan di dalam negeri, yang justru bersorak melihat penghinaan itu.

Satu unggahan. Satu video. Dan $750 juta nyaris tidak berarti apa-apa.

Bagi warga Palestina, semua ini bukan hal baru. Penghinaan yang dialami para aktivis internasional itu, orang-orang dari 40 negara dengan berbagai latar belakang hanyalah sekilas bayangan dari apa yang telah dialami tahanan Palestina setiap hari selama puluhan tahun.

Hampir 100 warga Palestina dilaporkan meninggal dalam tahanan Israel sejak Oktober 2023, di tengah laporan kelaparan, pemukulan, dan penelantaran medis yang meluas.

Pada akhirnya, seperti yang dikatakan seorang analis dengan mengutip psikolog Abraham Maslow: "Jika satu-satunya alat yang kamu miliki adalah palu, kamu cenderung melihat setiap masalah sebagai paku." Israel tahu cara menggunakan kekuatan militer. Yang tidak diantisipasi adalah bahwa kali ini, sang palu diangkat di depan kamera, oleh tangan menterinya sendiri dan seluruh dunia menyaksikannya.

(Tulisan ini bersumber dari Times of Israel, Al Jazeera, EU Observer, NBC) ***