Obesitas dan Penyakit Jantung Koroner: Peradangan Diam-diam Mengancam

Tribunnews.com

Tribunnews.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Obesitas dan penyakit jantung koroner kian sering disebut dalam satu napas, karena lemak berlebih memicu peradangan dan mempercepat penyumbatan pembuluh darah. Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Bung Karno Surakarta, dr. Mellisa Kurniawati, Sp.PD, menegaskan peradangan meningkat pada tubuh obesitas, termasuk di pembuluh darah. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Selama ini obesitas lebih populer sebagai faktor risiko diabetes dan hipertensi. Padahal, kaitannya dengan penyakit jantung koroner sama seriusnya dan sering terlambat disadari. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Masalahnya bukan semata angka timbangan, melainkan proses biologis yang berjalan pelan dan konsisten. Lemak berlebih dapat mengubah tubuh menjadi ruang peradangan kronis yang sulit terasa gejalanya. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Dr. Mellisa menjelaskan, “Dengan adanya obesitas itu kan otomatis peradangan di tubuh jadi tinggi, termasuk peradangan di pembuluh darah.” Kalimat ini menempatkan obesitas sebagai pemantik kerusakan, bukan sekadar kondisi kosmetik. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Peradangan dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah dan membuatnya lebih rentan ditempeli lemak serta zat lain. Dari sinilah plak terbentuk dan perlahan menyempitkan aliran darah. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Ketika proses itu terjadi pada pembuluh darah koroner, risikonya menjadi langsung mengarah ke penyakit jantung koroner. Penyempitan kecil yang dibiarkan dapat berubah menjadi sumbatan yang memicu nyeri dada hingga serangan jantung. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Data global menguatkan urgensi ini, karena WHO mencatat obesitas dunia meningkat tajam dalam beberapa dekade terakhir. Dalam banyak studi kardiometabolik, obesitas konsisten terkait dengan dislipidemia, inflamasi sistemik, dan aterosklerosis. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Namun publik sering terjebak pada narasi “makan sedikit” yang terasa benar secara intuitif. Dr. Mellisa mengingatkan, makan sedikit belum tentu sesuai kebutuhan kalori, apalagi jika aktivitas fisik rendah. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Ia berkata, “Kalau kita makannya sedikit ternyata melebihi jumlah kalori yang dibutuhkan, atau sebenarnya kalorinya cukup tetapi tenaga yang dikeluarkan itu cuma sedikit, akhirnya juga terjadi penumpukan lemak.” Di titik ini, obesitas bukan soal porsi semata, melainkan neraca energi harian yang sering salah dibaca. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Kesalahan membaca neraca energi diperparah oleh makanan ultra-proses yang padat kalori dan miskin serat. Seseorang bisa merasa “tidak banyak makan”, tetapi sebenarnya mengonsumsi kalori tinggi dari minuman manis, gorengan, atau camilan kemasan. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Di sisi lain, gaya hidup sedentari membuat pengeluaran energi makin kecil dan tidak terasa. Tubuh lalu menyimpan kelebihan energi sebagai lemak, dan lingkaran peradangan kembali menguat. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Sudut pandang yang perlu ditegaskan adalah obesitas bukan kegagalan moral individu, melainkan persoalan kesehatan publik yang dipengaruhi lingkungan. Ketika makanan tinggi kalori murah dan mudah, sementara ruang gerak dan waktu olahraga makin sempit, “disiplin” saja tidak cukup sebagai jawaban. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Karena itu, pesan tentang obesitas dan penyakit jantung koroner seharusnya bergeser dari menakut-nakuti menjadi memampukan. Edukasi kalori, kualitas makanan, tidur, stres, dan aktivitas fisik perlu dibahas sebagai satu paket, bukan nasihat terpisah. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Lebih tajam lagi, kita perlu jujur bahwa sistem sering mendorong penambahan berat badan. Iklan makanan, budaya “hadiah = makanan”, dan jam kerja panjang membuat pilihan sehat terasa mahal dan melelahkan. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Di level layanan kesehatan, skrining faktor risiko harus lebih proaktif. Mengukur tekanan darah saja tidak cukup, karena inflamasi dan profil lipid sering menjadi jembatan sunyi menuju sumbatan pembuluh darah. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Obesitas dan penyakit jantung koroner terhubung lewat mekanisme yang konkret, yakni peradangan dan pembentukan plak di pembuluh darah. Kunci pengelolaan berat badan ada pada keseimbangan asupan kalori dan energi yang dipakai, serta perbaikan kualitas pola makan dan aktivitas. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)

Pertanyaannya kini bukan hanya “berapa kilogram harus turun”, melainkan “kebiasaan apa yang membuat pembuluh darah lebih tenang setiap hari.” Jika peradangan adalah api kecil yang terus menyala, pilihan harian kitalah yang menentukan apakah api itu padam atau membesar diam-diam. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)