Cerpen Agus Bachtiar K: Gancet
ORBITINDONESIA.COM - Sandyakala mengiringi pergantian hari. Seorang wanita paruh baya terlihat bergegas menuju halte bus. Tujuannya satu: segera sampai ke rumah dan bertemu orang tua yang telah bertahun-tahun ia tinggalkan. Rumini namanya.
Usia mendekati 50 tahun, tapi tak nampak sedikit pun penuaan pada muka dan kulit tubuhnya. Segar, kencang, padat, dan berisi. Sepuluh tahun dia merantau ke Ibu Kota bersama suami dan anaknya demi masa depan yang lebih menjanjikan bagi keluarganya.
Seseorang telah menunggu ketika Rumini turun dari bus antarkota dalam provinsi. Paijo, laki-laki macho yang berprofesi sebagai ojek panggilan. Penampilannya rapi, gaya bicaranya cukup berkelas untuk ukuran orang kampung. Tak ayal, banyak pelanggan yang merasa nyaman dan cocok saat mengobrol dalam perjalanan menuju tempat tujuan.
“Mbak, kenapa pulang sendiri? Mana suaminya?” tanya Paijo membuka dialog setelah beberapa menit terdiam karena belum menemukan tema pembicaraan.
“Iya, Dik. Dia kerja, nggak bisa pulang sewaktu-waktu. Bosnya sangat ketat, Dik,” terang Rumini pada Paijo, si tukang ojek macho.
“Oh... gitu ya,” sahut Paijo sambil mengangguk pelan. Obrolan pun semakin asyik dan menyenangkan. Tema pun berganti-ganti, mulai dari anak, pasangan, pekerjaan, dan semua hal mengalir lancar. Sangat alami. Paijo memang jago memberi servis kepada penumpangnya. Setelah beberapa waktu menyusuri jalan sepi, akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Rumini.
“Akhirnya sampai juga,” gumam Rumini lega.
“Berapa, Dik?” tanya Rumini.
“Monggo, Mbak, silakan saja,” kata Paijo agak canggung. Mungkin karena merasa sudah akrab, hal itu membuatnya segan.
“Wah... jangan gitu, Dik. Aku jadi nggak enak. Ayo to... berapa?” kata Rumini sedikit memohon dan merengek agak manja.
“Tujuh puluh lima ribu saja, Mbak,” akhirnya Paijo terpaksa menetapkan tarif.
“Nah, gitu kan enak,” sahut Rumini sambil mengeluarkan dua lembar uang pecahan lima puluh ribuan.
“Waduh, saya nggak bawa kembalian, Mbak. Maaf,” kata Paijo sedikit gundah.
“Udah, nggak apa-apa, Dik. Sisanya untuk beli rokok,” sahut Rumini sambil tersenyum tipis. Manis.
“Terima kasih sekali, Mbak,” sambil sedikit membungkuk, Paijo menerima uang itu.
Sembari menuju teras, Rumini berucap, “Besok-besok kalau aku ada acara, kukabari ya, Dik!”
“Inggih, Mbak. Siap,” jawab Paijo disertai anggukan hormat.
Waktu bergulir, tak terasa sudah tiga bulan Rumini tinggal di kampung. Sesungguhnya ada kerinduan yang dalam, mengeram di dada Rumini pada sang suami. Sentuhan dan belaian lelaki sangat ia dambakan. Tapi, mau bagaimana lagi, kedua orang tuanya di kampung membutuhkan kehadirannya.
Orang tua Rumini sudah renta dan sakit-sakitan. Obat dan ramuan tradisional bagaikan camilan sehari-hari. Diabetes, stroke ringan, dan gangguan lambung diderita oleh bapaknya. Sementara ibunya mengalami pembengkakan jantung dan gangguan fungsi ginjal. Jadi, itulah yang membuat Rumini terpaksa bertahan di kampung.
Untungnya, suaminya di Jakarta mengizinkan atas dasar kemanusiaan dan wujud bakti kepada mertua.
“Halo, Dik. Posisi di mana?” suara Rumini yang khas terdengar merdu saat menghubungi Paijo, si tukang ojek macho.
“Halo, Mbak. Saya di rumah, gimana?” sahut Paijo sigap.
“Bisa antar aku ke Apotek Sumber Waras sekarang? Obat Bapak habis,” kata Rumini.
“Nggih, Mbak. Apotek yang kemarin itu kan? Siap meluncur!” Paijo bergegas tancap gas.
Sesampai di halaman rumahnya, Rumini sudah siap menunggu sembari duduk manis di kursi plastik teras rumah.
“Hmmm... cantik sekali Mbak Rumini,” gumam Paijo.
Paijo segera menggeleng-gelengkan kepala, menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang sempat hinggap di otaknya.
“Kenapa, Dik? Sakit kepala?” Rumini pura-pura keheranan dan sedikit menggoda. Dia sangat paham apa yang terlintas di belahan otak laki-laki saat melihat dirinya.
“Nggak, Mbak. Kelilipan tadi mata saya,” jawab Paijo sekenanya.
“Oalah... yuk!” ajak Rumini singkat sambil menahan senyuman puas.
Setelah Paijo menghidupkan roda duanya, Rumini segera nangkring di jok belakang motornya. Tanpa segan dan canggung lagi. Layaknya muda-mudi yang hendak berekreasi. Semerbak aroma parfum Rumini yang menggoda kadang mengundang naluri kelelakian Paijo tergugah dan bangkit. Normal.
Keduanya kembali melaju di aspal seperti hari-hari yang lalu. Cerita-cerita konyol dan lucu menghiasi panjangnya jalan yang mereka lalui.
“Setelah ini, kita makan dulu ya, Dik,” kata Rumini memasukkan obat ke tas kecil dan bergegas menuju parkiran Apotek Sumber Waras.
“Siap, Mbak,” jawab Paijo, sang ojek macho, tangkas.
Makan siang di warung pinggiran kota yang sepi hari itu menjadi gerbang pembuka bagi sesuatu yang tak semestinya. Di bawah deru angin sepoi-sepoi persawahan dan warung yang tertutup pagar bambu, Rumini mulai menumpahkan segala keluh kesahnya. Tentang ranjangnya yang dingin selama bertahun-tahun, tentang beban merawat orang tua yang menguras tenaganya, dan tentang rasa sepi yang kian menggerogoti jiwanya.
Paijo, dengan tatapan matanya yang penuh simpati dan sedikit dibumbui riak-riak nakal yang tertahan, menjadi pendengar yang begitu baik serta lihai menenangkan hati Rumini. Sentuhan tidak sengaja saat Paijo menyerahkan tisu, berubah menjadi genggaman tangan yang erat dan hangat.
Rumini yang telah lama tak bersentuhan dengan lawan jenis mendadak amnesia. Dia lupa ingatan sesaat. Wajah suami dan anaknya di Jakarta tetiba terhapus dari memori di otaknya. Batas moral di antara kedua insan berlainan jenis itu mulai terkikis, bahkan nyaris habis.
Satu bulan setelah hari itu, hubungan rahasia mereka kian berani. Walaupun keduanya telah memiliki keluarga yang sangat mencintainya, namun embusan naluri kebinatangan mereka masing-masing semakin menguat. Ditambah lagi sikap Rumini yang kesepian kian hari semakin menjadi.
Puncaknya, suatu sore ketika sandyakala kembali merah saga di ufuk barat. Rumini meminta Paijo mengantarnya ke pemakaman umum di ujung desa yang terkenal angker dan sunyi. Alasan Rumini, ia tak berani pergi sendiri untuk berziarah ke makam sang kakek, memohon berkah spiritual demi kesehatan orang tuanya yang sudah bertahun-tahun tak kunjung sembuh.
Suasana pemakaman sudah redup temaram saat mereka sampai di tujuan. Langkah kaki mereka gemerisik memijak ranting dan daun kering. Di samping sebuah makam tua bertembok kusam, Rumini tiba-tiba menangis sesenggukan, meratapi nasib hidupnya. Paijo yang berdiri di sampingnya langsung merengkuh pundak wanita itu untuk menenangkan. Namun, pelukan itu tidak lagi murni sebagai penghiburan.
Gayung bersambut. Di tempat yang sakral dan sunyi itu, atmosfer berubah menjadi pekat oleh syahwat. Keberadaan makhluk tak kasatmata dan aroma tanah basah justru memacu adrenalin mereka berdua. Janji suci pernikahan Rumini dan norma agama seketika rapuh dan luruh. Di samping nisan tua yang berlumut dan bisu, keduanya meluapkan hasrat terlarang dalam balutan dosa besar yang terkutuk.
Malam kian larut, dan rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Ketika kepuasan semu itu usai dan akal sehat mereka perlahan kembali, kepanikan luar biasa tiba-tiba melanda.
“Dik... Dik Paijo, lepas, Dik,” bisik Rumini dengan suara bergetar. Wajahnya mendadak pucat. Pias bak kapas.
Paijo mencoba menggeser tubuhnya, berkali-kali berusaha melepaskan diri, namun gagal. Sesuatu yang ganjil dan mengerikan sedang terjadi pada kedua makhluk itu. Tubuh mereka seolah terkunci rapat, menyatu secara paksa oleh ikatan dahsyat yang tak terlihat. Otot-otot organ intim Rumini mendadak menjepit dengan kekuatan ekstrem yang tak bisa dikendalikan.
“Nggak bisa, Mbak! Nggak bisa lepas! Sakit!” pekik Paijo tertahan. Keringat dingin mengalir, mengucur deras di pelipisnya meski udara malam jahanam itu kian menusuk tulang sumsum.
Mereka mencoba berbagai cara dan upaya di tengah pekatnya kegelapan. Menarik, bergeser, hingga berdoa dengan sisa-sisa iman yang mereka khianati beberapa menit lalu. Nihil. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di tubuh keduanya. Jeratan maya seolah mengikat erat mereka di atas tanah makam yang semestinya sakral tersebut.
Rasa nikmat sesaat itu kini berubah menjadi siksaan lahir batin yang amat menyiksa. Sepanjang malam jahanam itu, di antara nisan-nisan dan rintik hujan, Rumini dan Paijo hanya bisa menangis dan merintih kesakitan, menanti pagi dengan rasa nyeri dan ngeri yang tak tertahankan.
Fajar menyingsing, mentari tak ragu-ragu datang menyinari kedua insan yang dilanda petaka itu. Seorang warga yang hendak mencabut singkong di dekat pemakaman curiga, karena melihat motor Paijo terparkir di bawah pohon kamboja sejak semalam. Ketika melangkah masuk ke area makam untuk memeriksa, Pak Tua itu spontan melompat mundur karena sangat terkejut.
Di samping makam tua, sepasang manusia tergeletak tak berdaya dalam kondisi setengah telanjang, saling menempel, dengan tubuh yang kotor dipenuhi lumpur hitam berbau busuk menyengat.
“Gusti Allah! Astaghfirullah! Ada yang gancet di kuburan!” teriak warga tersebut dengan suara lantang yang membelah keheningan kampung di pagi yang seharusnya cerah itu.
Dalam hitungan menit, berita di luar nalar dan menghebohkan itu menyebar bak api menyambar avtur pesawat. Viral.
Puluhan warga, pemuda, hingga perangkat desa berbondong-bondong mendatangi tempat kejadian perkara. Beberapa aparat kepolisian tampak mencatat beberapa hal yang mereka anggap penting. Kamera ponsel berdenting, mengambil gambar dan video dari berbagai sudut.
Rumini menutup wajahnya dengan sisa pakaian yang ada, menangis histeris meratapi harga dirinya yang hancur berkeping-keping. Sementara Paijo hanya bisa meringkuk pasrah, menahan malu yang luar biasa di hadapan tetangga-tetangganya sendiri. Bahkan, beberapa kerabat tampak tak kuat menanggung malu dan memilih menghilang di antara kerumunan dan pergi berlalu.
Azab memalukan itu harus dibayar sangat mahal. Untuk melepaskan tubuh mereka yang "terkunci", ambulans dari puskesmas dipanggil karena mereka harus segera dievakuasi dari tempat suci dan dikeramatkan itu ke rumah sakit dengan ditutupi daun pisang dan selembar kain sarung pinjaman dari Pak RT. Perbuatan mereka menjadi tontonan ratusan pasang mata yang mencemooh. Jijik.
Sanksi sosial seketika menghantam telak tanpa sedikit pun ampun. Hari itu juga, kabar perselingkuhan dan video mereka menjadi konsumsi publik di media sosial lokal. Bapak Rumini yang memang sudah sakit-sakitan langsung drop dan tak sadarkan diri karena syok, tak kuasa menanggung aib besar dari anak perempuannya.
Tak butuh waktu panjang, suami Rumini di Jakarta mendengar kabar menjijikkan tersebut langsung menjatuhkan talak tiga lewat sambungan telepon, serta melarang keras Rumini untuk menemui anak-anak mereka lagi.
Dengan susah payah, Rumini dan Paijo berhasil dipisahkan secara medis, namun mereka tidak akan pernah bisa lepas dan berpisah dari hukuman sosial. Selamanya.
Keduanya diusir dari kampung secara tidak hormat setelah keluar dari rumah sakit. Sisa hidup mereka kini dipenuhi dengan bayang-bayang dosa, penyesalan yang terlambat. Nama baiknya telah mati. Masyarakat mengutuk dan menyematkan predikat penjahat keluarga. Kisah mereka tak pernah tamat, sebelum tubuh mereka masuk ke liang lahat.
Toboali, Juni 2026
Sang Peramu Aksara /Agus Bachtiar K. ***