Men’s Grooming dan Salon Pria: Tren Rambut Jadi Gaya Hidup

SINDOnews Lifestyle

SINDOnews Lifestyle

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Men’s grooming dan salon pria kini bergerak dari sekadar cukur rambut menjadi ritual gaya hidup yang serius. Hair treatment, hair perm, dan keratin smoothing makin dicari karena pria ingin tampil rapi, profesional, dan percaya diri.

Perawatan diri pria modern berubah cepat karena rambut dipahami sebagai identitas, bukan pelengkap. Media sosial mempercepat perubahan itu lewat video transformasi, rekomendasi potongan, dan edukasi produk.

Akibatnya, barbershop konvensional terdorong berevolusi menjadi ruang layanan yang lebih personal. Konsultasi gaya, pilihan hairstylist, dan kenyamanan ruang tunggu menjadi bagian dari paket pengalaman.

Artikel ini menyorot contoh Haijoel Men’s Salon yang berkembang sejak 2022 dan berekspansi ke Bekasi, Menteng, lalu Gading Serpong. Mereka membaca sinyal pasar bahwa pelanggan membutuhkan komunikasi, bukan sekadar hasil potong.

Perubahan ini juga menandai bergesernya relasi pelanggan dan hairstylist. Dulu orang datang, pilih model, selesai cepat, lalu pulang tanpa banyak dialog.

Kini prosesnya lebih panjang karena rambut setiap orang berbeda. Tekstur, ketebalan, pola tumbuh, dan kebiasaan styling harian menentukan apakah sebuah model realistis dijalankan.

Di titik ini, perawatan rambut pria menjadi isu layanan, bukan hanya estetika. Salon dituntut menjelaskan pilihan, risiko, dan perawatan lanjutan secara jujur.

(Orbit dari berbagai sumber, 9 Oktober 2026)

Ledakan layanan men’s grooming terlihat dari menu yang makin teknis. Hair perm untuk wavy atau curly ditawarkan bagi pria berambut lurus yang ingin dimensi tanpa mengubah panjang ekstrem.

Di sisi lain, keratin smoothing dipasarkan bagi rambut kering, ikal, atau keriting agar lebih lurus dan mudah diatur. Janji utamanya efisiensi waktu, terutama bagi pria dengan rutinitas padat.

Namun, layanan berbasis bahan kimia membawa konsekuensi struktural pada rambut. Pelanggan perlu diberi penjelasan tentang jeda antartindakan, pilihan sampo, kondisioner, dan produk styling agar rambut tidak rapuh.

Di sinilah konsultasi menjadi “produk” yang tak terlihat tetapi menentukan hasil. Model yang viral di media sosial dapat gagal total bila bentuk kepala, garis rambut, atau pola tumbuh tidak mendukung.

Haijoel menekankan pelatihan dan verifikasi hairstylist untuk menjaga standar layanan. Strategi ini menunjukkan bahwa industri mulai meniru logika profesi, yaitu kompetensi dan kontrol kualitas.

Komponen kenyamanan juga naik kelas karena durasi layanan makin panjang. Perm, smoothing, dan treatment tertentu bisa memakan waktu lama sehingga ruang tunggu bukan lagi detail kecil.

Cabang Gading Serpong menambahkan Netflix dan mesin kopi sebagai bagian dari pengalaman. Pesannya jelas, salon pria bersaing bukan cuma pada gunting, tetapi pada suasana.

Harga kemudian mengikuti struktur pengalaman dan tingkat keahlian. Haircut dibedakan berdasarkan pengalaman hairstylist, misalnya sekitar Rp150 ribu untuk profesional dan Rp175 ribu untuk eksekutif.

Untuk layanan lebih kompleks seperti wavy, curly, atau smoothing, tarif mulai sekitar Rp500 ribu per sesi. Diferensiasi ini menormalisasi logika “bayar lebih untuk risiko dan keterampilan lebih tinggi”.

Model reservasi ikut menegaskan perubahan perilaku konsumen. Booking melalui situs atau WhatsApp memberi kepastian jadwal dan mengurangi waktu tunggu, terutama bagi pelanggan yang mengejar efisiensi.

Dari sisi bisnis, reservasi membantu mengatur kapasitas dan pembagian jadwal hairstylist. Ini membuat salon lebih mirip layanan terjadwal seperti klinik, bukan tempat datang spontan semata.

Catatan pentingnya adalah transparansi riwayat rambut pelanggan. Informasi tentang pewarnaan, bleaching, perm, atau smoothing sebelumnya menentukan apakah tindakan berikutnya aman dilakukan.

Jika aspek ini diabaikan, risiko kerusakan rambut meningkat dan kepercayaan pelanggan runtuh. Pada akhirnya, reputasi salon modern dibangun oleh prosedur, bukan promosi.

Tren ini sejalan dengan gambaran lebih luas tentang ekonomi perhatian. Menurut DataReportal, pengguna media sosial di Indonesia mencapai ratusan juta identitas pengguna aktif pada 2024, dan konten gaya hidup menjadi salah satu pendorong konsumsi.

Meski angka itu tidak spesifik untuk grooming, dampaknya terasa pada cara orang membentuk selera. Algoritma membuat standar “rapi dan menarik” tampak universal, padahal kondisi rambut sangat personal.

(Orbit dari berbagai sumber, 9 Oktober 2026)

Men’s grooming sering dipuji sebagai tanda pria makin peduli diri. Tetapi ada sisi lain yang perlu dibaca, yaitu tekanan sosial agar selalu tampil “siap kamera”.

Rambut lalu bergeser dari kebutuhan menjadi proyek tanpa akhir. Ketika standar berasal dari feed yang tersaring, rasa cukup menjadi barang langka.

Industri merespons dengan menjual personalisasi sebagai solusi. Namun personalisasi bisa menjadi sekadar kemasan bila konsultasi hanya formalitas dan hasilnya tetap mengikuti tren massal.

Di titik ini, peran hairstylist semestinya lebih mirip konsultan daripada peniru referensi. Mereka perlu berani mengatakan “tidak cocok” ketika model tertentu akan menyulitkan pelanggan dalam perawatan harian.

Tarif yang dibedakan berdasarkan level hairstylist juga patut dibaca kritis. Diferensiasi bisa mendorong profesionalisme, tetapi juga berisiko menciptakan ilusi bahwa harga tinggi pasti cocok.

Padahal kecocokan ditentukan oleh komunikasi, bukan nominal. Pelanggan yang jujur tentang kebiasaan styling dan waktu yang tersedia sering mendapat hasil lebih baik daripada yang hanya membawa foto selebritas.

Kenyamanan ruang tunggu juga punya dua wajah. Ia bisa menjadi nilai tambah yang manusiawi, tetapi juga bisa mendorong konsumerisme baru yang membuat grooming terasa seperti “paket hiburan”.

Yang paling penting tetap higienitas alat, kualitas produk, dan penjelasan risiko. Netflix tidak akan menyelamatkan rambut yang rusak karena prosedur yang dipaksakan.

Karena itu, literasi grooming perlu naik kelas. Pria perlu memahami bahwa perm dan smoothing adalah komitmen perawatan, bukan tombol instan untuk menjadi versi ideal di media sosial.

(Orbit dari berbagai sumber, 9 Oktober 2026)

Men’s grooming dan salon pria menunjukkan perubahan cara pria memaknai rambut sebagai identitas dan strategi sosial. Dari haircut hingga perm dan smoothing, yang dijual bukan hanya bentuk rambut, tetapi rasa percaya diri.

Namun kepercayaan diri yang sehat lahir dari keputusan yang sadar, bukan dari kejaran tren. Konsultasi yang jujur dan perawatan yang realistis seharusnya menjadi standar baru.

Pertanyaannya, apakah kita merawat rambut untuk merawat diri, atau untuk mengejar validasi yang tak pernah selesai. Di sana, grooming bisa menjadi ruang refleksi, bukan sekadar rutinitas konsumsi.

(Orbit dari berbagai sumber, 9 Oktober 2026)