Kumophoria 2026 UNMER Malang: Pameran Kreatif Mahasiswa Ilkom

TIMES Indonesia

TIMES Indonesia

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Kumophoria 2026 di FISIP UNMER Malang menyedot ratusan pengunjung lewat pameran fotografi, pameran desain grafis, dan screening film dokumenter. Dalam dua hari, data panitia mencatat 266 pengunjung fotografi, 322 pengunjung desain, dan sekitar 100 penonton film.

Di tengah banjir konten digital, kampus sering dituntut membuktikan bahwa pembelajaran kreatif tidak berhenti pada teori. Kumophoria 2026 mencoba menjawabnya dengan format pameran dan pemutaran film yang membuka kelas ke ruang publik.

Acara berlangsung Senin–Selasa (19–20/1/2026) di FISIP Universitas Merdeka Malang. Kegiatan ini menampilkan karya mahasiswa Ilmu Komunikasi lintas semester sebagai implementasi pembelajaran berbasis praktik.

Pameran fotografi Semester 1 mengusung tema “Father is Hero” dan menarik 266 pengunjung. Tema itu mengajak audiens membaca ulang peran ayah melalui lensa emosional, sosial, dan keseharian.

Pameran desain grafis Semester 3 mencatat 322 pengunjung dan menampilkan karya dari ilustrasi, tipografi, hingga desain kaus. Di sini, komunikasi visual diuji bukan hanya pada estetika, tetapi pada keterbacaan pesan dan relevansi medium.

Screening film dokumenter menghadirkan karya Semester 5 serta nominasi lomba dokumenter tingkat SMA, dengan sekitar 100 penonton. Isu sosial-budaya diolah dengan pendekatan sinematik khas generasi muda yang akrab dengan ritme platform digital.

Angka pengunjung menunjukkan pameran desain grafis menjadi magnet terbesar, disusul fotografi dan pemutaran film. Ini memberi sinyal bahwa karya yang mudah “dipindai” cepat di ruang pamer cenderung lebih ramai dibanding format yang menuntut durasi menonton.

Namun, keramaian bukan satu-satunya ukuran dampak pendidikan kreatif. Yang lebih penting adalah apakah kegiatan ini membangun literasi proses, yakni kemampuan memahami bagaimana ide dikonsep, diproduksi, diuji, lalu dipresentasikan.

Ketua Panitia menegaskan aspek itu ketika mengatakan, “Melalui Kumophoria, mahasiswa tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga belajar menyampaikan gagasan kepada publik.” Pernyataan ini menempatkan pameran sebagai ruang latihan komunikasi, bukan sekadar etalase karya.

Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UNMER Malang, Sri Widayati, menambahkan, “Mahasiswa belajar langsung dari praktik.” Ia menekankan bahwa mahasiswa juga belajar mengelola pameran, berinteraksi dengan pengunjung, dan memahami dinamika dunia kreatif.

Di sisi lain, data kehadiran pelajar juga memberi konteks penting bagi ekosistem kreatif. Tercatat sekitar 87 siswa dari 12 SMA/SMK hadir sebagai peserta maupun penonton, sehingga acara ini berfungsi sebagai jembatan orientasi karier.

Seorang siswa peserta mengaku, “Kegiatan ini memberi gambaran tentang dunia perkuliahan, khususnya di bidang komunikasi.” Testimoni ini menunjukkan efek psikologis yang sering luput dihitung, yakni lahirnya motivasi berkarya karena melihat proses yang nyata.

Tetapi ruang belajar terbuka juga rawan jatuh menjadi seremoni jika tidak disertai kurasi dan evaluasi yang ketat. Pameran dan screening idealnya punya parameter yang jelas, misalnya kedalaman riset visual, etika representasi subjek, dan ketajaman narasi.

Tema “Father is Hero” misalnya, kuat secara emosional, tetapi berisiko menjadi klise jika hanya memuja tanpa mengkritik realitas peran ayah yang beragam. Di sinilah fotografi dokumenter dan potret sosial seharusnya berani menghadirkan kompleksitas, bukan sekadar sentimentalisme.

Begitu pula desain grafis, yang mudah viral namun sering terjebak pada gaya. Tantangannya adalah membuktikan bahwa desain tidak hanya indah, tetapi juga efektif menyampaikan pesan, inklusif, dan peka terhadap konteks audiens.

Film dokumenter punya beban yang berbeda karena menyangkut kebenaran, perspektif, dan keberpihakan. Jika mahasiswa mampu menjaga etika wawancara, izin subjek, dan akurasi, maka screening semacam ini bisa menjadi laboratorium publik yang bernilai.

Kumophoria 2026 memperlihatkan arah yang tepat: kampus tidak lagi menutup karya di ruang kelas. Namun, acara seperti ini seharusnya diposisikan sebagai “uji publik” yang menuntut standar, bukan sekadar festival internal yang mengincar keramaian.

Ketika 266, 322, dan 100 pengunjung dijadikan angka kebanggaan, pertanyaan lanjutannya adalah apa yang dipelajari dari respons audiens. Apakah ada mekanisme umpan balik tertulis, sesi kritik terbuka, atau diskusi kuratorial yang membedah karya secara jujur.

Jika tidak, pameran berisiko menjadi panggung validasi satu arah. Padahal industri komunikasi dan kreatif menuntut ketahanan menerima kritik, kemampuan revisi, dan disiplin produksi yang konsisten.

Keterlibatan 87 siswa dari 12 sekolah juga perlu dibaca sebagai peluang membangun ekosistem, bukan hanya promosi kampus. Mereka bisa diajak dalam workshop singkat, mentoring portofolio, atau diskusi etika konten agar pulang membawa keterampilan, bukan sekadar kesan.

Di era ekonomi kreatif, nilai utama bukan hanya karya jadi, melainkan kemampuan mengelola proses dan kolaborasi. Kumophoria menjadi relevan ketika ia mengajarkan manajemen acara, kerja tim, negosiasi ruang, hingga strategi komunikasi publik.

Dengan begitu, UNMER Malang tidak hanya melahirkan kreator yang “bisa bikin,” tetapi juga profesional yang paham ekosistem. Kreativitas yang adaptif lahir dari latihan yang keras, bukan dari tepuk tangan yang mudah.

Kumophoria 2026 menegaskan bahwa pameran fotografi, pameran desain grafis, dan screening film dokumenter dapat menjadi kelas besar yang dibuka untuk publik. Ia mempertemukan mahasiswa, pelajar, dan masyarakat dalam satu ruang yang sama, dengan bahasa utama: karya.

Namun, tantangan berikutnya adalah menjaga agar ruang ini tetap kritis dan bertumbuh, bukan berhenti pada euforia dua hari. Jika setiap karya diperlakukan sebagai bahan refleksi yang jujur, maka pameran bukan hanya perayaan, melainkan proses pendewasaan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang layak ditinggalkan untuk pembaca adalah sederhana tetapi menentukan: apakah kita ingin karya yang ramai dilihat, atau karya yang benar-benar mengubah cara kita memahami realitas. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Agustus 2026)