Pohon Major Oak Robin Hood Mati, Wisata Massal Disorot

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Pohon Major Oak berusia sekitar 1.200 tahun di Sherwood Forest, yang lekat dengan legenda Robin Hood, diduga mati setelah gagal menumbuhkan daun pada musim semi ini. Royal Society for the Protection of Birds (RSPB) menyebut jutaan jejak pengunjung selama dua abad ikut mempercepat keruntuhannya melalui pemadatan tanah dan tekanan pada akar.

Major Oak berdiri di Nottingham dan selama ratusan tahun menjadi magnet wisata, sekaligus ikon budaya populer Inggris. RSPB pada Kamis menyatakan pohon itu diyakini telah mati karena tidak lagi bertunas, menutup rumor lama yang pernah berulang bahwa ia “sudah mati” namun kemudian terbukti masih hidup.

Legenda menempatkan Major Oak sebagai tempat berlindung Robin Hood, bandit abad ke-13 yang “merampok orang kaya untuk memberi orang miskin” saat dikejar Sheriff Nottingham. Nama “Major Oak” sendiri menguat sejak 1790, ketika Mayor Hayman Rooke menuliskannya dalam buku tentang pohon ek dan memicu gelombang penggemar pertama yang berbondong-bondong ke Sherwood.

Ironisnya, daya tarik yang membuatnya dicintai juga membuatnya rapuh. Meski area terdekat telah dipagari sejak 1970-an, RSPB menyebut pengunjung tetap menekan tanah di sekitarnya sehingga air hujan sulit mencapai akar.

RSPB menegaskan mustahil menunjuk satu penyebab tunggal kematian Major Oak. Namun laporan mereka menempatkan pemadatan tanah, intervensi penyangga cabang dengan kabel dan tiang, serta perubahan iklim sebagai rangkaian faktor yang saling mengunci.

Dalam bahasa sederhana, akar pohon tua bekerja seperti jaringan napas yang membutuhkan ruang, air, dan pertukaran udara. Ketika tanah terus tertekan, pori-pori tanah menutup, infiltrasi air menurun, dan akar kehilangan oksigen, lalu “tercekik dan kelaparan,” sebagaimana temuan para ahli pohon.

Di sini, pariwisata tidak lagi sekadar “ramai,” melainkan menjadi beban ekologis yang terukur. Jejak kaki jutaan orang selama dua abad adalah bentuk tekanan kronis, dan pagar pelindung yang terlambat atau kurang efektif tidak cukup membalikkan kerusakan yang sudah menumpuk.

Faktor iklim memperparah kondisi dasar yang sudah rapuh. Gelombang panas dan kekeringan yang disebut dalam laporan memperkecil cadangan air tanah, sehingga akar yang sudah tertekan makin sulit pulih ketika musim kering datang.

Ed Pyne dari Woodland Trust memberi perbandingan yang tajam: pohon-pohon kuno seperti Major Oak adalah “badak putih konservasi di Inggris,” langka namun kemerosotannya sering tak terlihat. Major Oak menjadi pengecualian karena terkenal, sementara banyak pohon kuno lain “menghilang diam-diam” tanpa perhatian yang sama.

Kontras ini penting karena Sherwood Forest bukan sekadar panggung legenda, melainkan bagian dari sejarah material Inggris. Artikel menyebut kayu ek Sherwood pernah dipakai untuk kapal-kapal Angkatan Laut Kerajaan pada era Laksamana Horatio Nelson, dan juga sebagai bahan pada atap Katedral St. Paul di London.

Artinya, pohon ek di Inggris pernah dilihat terutama sebagai sumber daya strategis. Kini, ketika satu pohon ek tua mati di tengah sorotan publik, narasinya bergeser menjadi pelajaran tentang batas daya dukung alam terhadap konsumsi simbolik manusia.

Kematian Major Oak terasa seperti kabar duka budaya, tetapi juga cermin kegagalan kita mengelola “warisan hidup.” Kita sering mengira konservasi cukup dengan pagar, papan informasi, dan foto-foto, padahal ancaman terbesar justru datang dari akumulasi kecil yang terus diulang: pijakan, antrean, dan kerumunan.

Dalam kasus ini, cinta publik berubah menjadi tekanan ekologis, dan itu bukan metafora romantis. Ketika tanah terpadatkan dan akar tercekik, yang mati bukan hanya pohon, melainkan juga cara kita memahami hubungan manusia dengan lanskap: kita ingin dekat, tetapi kedekatan tanpa batas adalah bentuk perusakan.

Pernyataan RSPB bahwa “ini tidak menandai akhir ceritanya” patut dibaca sebagai strategi konservasi sekaligus strategi komunikasi. Pohon mati akan tetap menjadi monumen, tetapi monumen yang baik seharusnya mengubah perilaku, bukan sekadar menjadi titik swafoto baru.

Pelajaran paling tajam dari Major Oak adalah soal skala dan disiplin. Jika satu ikon yang dipagari sejak 1970-an saja bisa kalah oleh tekanan pengunjung dan iklim, maka ribuan pohon kuno yang tidak terkenal jelas jauh lebih rentan.

RSPB menekankan bahwa kayu dan tanah di bawah Major Oak tetap menjadi tempat berlindung satwa liar, dan pengetahuan dari perawatannya akan membantu melindungi ek-ek kuno lain. Warisannya juga disebut akan hidup melalui anakan-anakan pohon dan legenda Robin Hood yang terus diceritakan.

Namun, warisan paling penting seharusnya bukan legenda, melainkan perubahan cara kita berkunjung dan merawat. Jika kita benar-benar menghormati pohon tua, pertanyaannya sederhana: berapa banyak “kedekatan” yang sanggup ditanggung alam sebelum cinta berubah menjadi luka? (Orbit dari berbagai sumber, 22 Juni 2026)