Iran Ancam Israel, Serangan Lebanon Bisa Gagalkan Negosiasi AS

CNN Indonesia

CNN Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Iran mengirim sinyal keras bahwa serangan Israel ke Lebanon dapat memicu konfrontasi langsung dengan Teheran. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan Hizbullah dan Iran “satu kesatuan” sehingga gencatan senjata harus mencakup Lebanon selatan.

Pernyataan itu muncul saat AS dan Iran disebut sedang terlibat pembicaraan terkait perdamaian dan gencatan senjata di kawasan. Namun pada saat yang sama, Israel masih melancarkan serangan ke Lebanon, membuat jalur diplomasi terlihat rapuh.

Menurut laporan Tasnim yang dikutip CNN Indonesia, Ghalibaf menyebut Iran bekerja intensif beberapa hari terakhir untuk menghentikan serangan melalui negosiasi dengan AS. Ia mengancam akan menangguhkan pembicaraan bila Israel tidak segera menghentikan operasi militernya.

Di Beirut, Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri menyampaikan terima kasih atas upaya Iran. Ia menegaskan Lebanon tidak akan melupakan “sikap positif” tersebut, sebuah gestur yang menguatkan posisi Teheran sebagai pelindung politik bagi poros perlawanan.

Inti pesan Ghalibaf adalah memperluas definisi gencatan senjata dari sekadar satu front menjadi “penghentian serangan di semua lini,” terutama Lebanon selatan. Ini mengubah negosiasi dari urusan teknis penghentian tembak-menembak menjadi pertarungan soal arsitektur keamanan regional.

Israel dan Lebanon disebut sudah sepakat gencatan senjata sejak 17 April, tetapi serangan masih terjadi. Ketidakselarasan antara teks kesepakatan dan realitas lapangan biasanya menjadi celah bagi eskalasi, karena setiap pihak merasa berhak “membalas” pelanggaran.

Ancaman Iran untuk menghentikan negosiasi adalah kartu tekanan terhadap Washington, bukan hanya terhadap Israel. Teheran ingin AS menanggung biaya politik jika gagal “mengendalikan” sekutunya, sekaligus menunjukkan bahwa jalur diplomasi punya harga.

Jika negosiasi dihentikan, risiko paling dekat adalah meningkatnya serangan balasan di perbatasan Lebanon-Israel. Risiko berikutnya adalah melebar ke serangan silang terhadap aset dan kepentingan yang dipersepsikan terkait AS, meski skenarionya bisa tetap berada di bawah ambang perang terbuka.

Ghalibaf juga menanamkan narasi bahwa Hizbullah bukan aktor terpisah yang bisa “dipisahkan” dari Iran dalam paket perdamaian. Kalimat “satu kesatuan” adalah peringatan bahwa menekan Hizbullah sambil bernegosiasi dengan Iran dianggap kontradiksi strategis.

Pernyataan Iran tampak seperti ultimatum, tetapi sebenarnya adalah upaya mengunci agenda: Lebanon harus masuk meja utama, bukan catatan kaki. Teheran ingin memastikan gencatan senjata tidak menjadi jeda sementara yang hanya memberi ruang Israel mengatur ulang operasi.

Di sisi lain, Israel kerap melihat tekanan semacam ini sebagai bukti bahwa Hizbullah adalah perpanjangan Iran, sehingga operasi di Lebanon dianggap bagian dari pencegahan jangka panjang. Logika ini menciptakan lingkaran setan, karena setiap tindakan “pencegahan” dibaca sebagai agresi yang membenarkan respons.

AS berada di tengah, karena negosiasi dengan Iran membutuhkan stabilitas minimum, sementara dukungan terhadap Israel menuntut ruang manuver militer. Ketika serangan tetap berjalan, diplomasi kehilangan kredibilitas, dan aktor-aktor regional akan kembali memilih bahasa kekuatan.

Ucapan terima kasih Nabih Berri menambah lapisan politik domestik Lebanon, karena menunjukkan ada penerimaan terhadap peran Iran sebagai penopang. Namun penerimaan ini juga dapat memperdalam polarisasi internal Lebanon, terutama di tengah kekhawatiran bahwa negeri itu dijadikan arena tarik-menarik kekuatan luar.

Ancaman Iran menghentikan negosiasi bila serangan Israel ke Lebanon berlanjut memperlihatkan betapa rapuhnya “perdamaian” yang tidak menyentuh semua front. Gencatan senjata yang timpang hanya memindahkan api dari satu titik ke titik lain.

Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan: apakah para perunding berani menjadikan penghentian serangan di Lebanon sebagai syarat yang benar-benar ditegakkan, bukan sekadar kalimat di kertas. Jika tidak, kawasan akan terus hidup dalam jeda-jeda kekerasan yang selalu siap berubah menjadi perang berikutnya.

(Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)