Ketika Kampung Halaman Menjadi Cita-Cita Peradaban
Buku "Peradaban Baru Gorontalo: Strategi Rachmat Gobel Membangun Indonesia dari Daerah."
Review BukuOleh Syaefudin Simon
Judul Buku: Peradaban Baru Gorontalo: Strategi Rachmat Gobel Membangun Indonesia dari Daerah.
Penulis: Nasihin Masha & Priyantono Oemar.
Penerbit: Kompas, Jakarta, 2026; Jumlah Halaman: xxxvi + 284.
ORBITINDONESIA.COM - Ada sebuah adegan kecil yang, jika direnungkan, sesungguhnya menjadi kunci untuk memahami seluruh isi buku ini. Setiap kali Rachmat Gobel (3 September 1962 -- 10 Juli 2026) berkeliling ke pelosok-pelosok Gorontalo, ia hampir selalu memutar sebuah lagu daerah: Hulontalo Lipuu.
Lagu yang bertutur tentang rasa rindu dan cinta pada kampung halaman itu, menurut catatan dalam buku ini, seolah meresap ke dalam batinnya. Ia bahkan mengajak warga yang ditemuinya untuk turut menyanyikannya bersama. Tidak jarang, di tengah nyanyian itu, matanya berkaca-kaca.
Adegan sederhana ini bukan sekadar anekdot pemanis narasi. Ia adalah metafora dari keseluruhan buku Peradaban Baru Gorontalo: sebuah kisah tentang bagaimana kecintaan yang sangat personal pada tanah leluhur bisa berubah menjadi gagasan besar tentang pembangunan daerah.
Nasihin Masha dan Priyantono Oemar, dua penulis yang berlatar jurnalistik, keduanya wartawan senior harian Republika, mencoba merekam perjalanan itu — dari kerinduan seorang anak daerah, menjadi rancang bangun sebuah visi jangka panjang bernama Visi 2051.
Dari Tradisi ke Modernitas, Tanpa Kehilangan Akar
Gorontalo, dalam bentangan sejarahnya, dikenal sebagai daerah dengan masyarakat yang religius, menjunjung adat, dan hidup dalam ritme agraris yang tenang.
Predikat itu indah untuk dikenang, tetapi getir untuk dihadapi sebagai kenyataan hari ini: provinsi ini kerap disebut sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kemiskinan dan Indeks Pembangunan Manusia yang tergolong rendah di Indonesia. Buku ini tidak menutup-nutupi fakta itu. Justru dari titik itulah narasi besarnya dimulai.
Yang menarik dari cara Rachmat Gobel membaca persoalan Gorontalo adalah ia tidak memilih jalan yang lazim ditempuh birokrat atau akademisi: seminar, diskusi panel, kajian di atas kertas.
Ia memilih jalan yang lebih membumi — mengajak warga Gorontalo melihat langsung bagaimana daerah lain, bahkan negara lain, menata kotanya, mengelola kebersihannya, menghidupkan UMKM-nya, membangun industrinya.
Prinsipnya sederhana: seeing is believing. Orang tidak akan percaya pada gagasan perubahan jika ia hanya mendengar, bukan menyaksikan sendiri.
Dari situlah lahir gagasan besar bernama peradaban baru Gorontalo — sebuah cita-cita yang tidak berhenti pada slogan pengentasan kemiskinan, melainkan menyasar transformasi struktural: menjadikan Gorontalo sebagai salah satu daerah industri modern di Sulawesi.
Namun modernitas yang dibayangkan buku ini bukan modernitas yang mencerabut akar. Rachmat Gobel, sebagaimana digambarkan penulis, justru berpijak pada apa yang sudah dimiliki masyarakat Gorontalo sejak lama: etos kerja keras, kedisiplinan, dan daya kreativitas yang selama ini kurang mendapat panggung dan infrastruktur yang memadai. Modernisasi, dalam kerangka pikir ini, adalah memberi wadah baru bagi karakter lama yang sudah unggul.
Di sinilah pesan implisit buku ini terasa relevan bagi diskursus pembangunan daerah di Indonesia secara umum: bahwa memodernkan sebuah wilayah tidak harus berarti menyeragamkannya dengan wajah kota-kota besar, melainkan menumbuhkan versi terbaik dari dirinya sendiri.
Jejak Keluarga Perintis Industri
Bagian yang membuat buku ini punya kedalaman tersendiri adalah ketika penulis menautkan proyek Gorontalo ini dengan sejarah panjang keluarga Gobel sebagai salah satu perintis industri elektronik nasional.
Nama Gobel identik dengan babak awal industrialisasi elektronik di Indonesia, sebuah warisan bisnis yang dibangun dengan disiplin dan kerja keras lintas generasi.
Latar keluarga inilah yang tampaknya membentuk cara pandang Rachmat Gobel terhadap pembangunan: bukan sekadar bantuan sosial atau proyek mercusuar, melainkan penciptaan ekosistem produktif yang berkelanjutan — pola pikir seorang pelaku industri yang diterjemahkan ke ranah kebijakan publik.
Kombinasi antara identitas sebagai pewaris tradisi industri nasional dan identitas sebagai putra daerah Gorontalo inilah yang, menurut narasi buku ini, menjadi modal utama Rachmat Gobel saat memutuskan terjun ke gelanggang politik.
Buku ini mencatat sebuah keheranan yang wajar: secara kalkulasi bisnis, keputusan seorang pengusaha besar untuk masuk ke politik sering kali dianggap tidak menguntungkan. Namun para penulis menegaskan bahwa langkah itu tidak digerakkan oleh hasrat kekuasaan, melainkan oleh keinginan mengabdi — khususnya bagi kampung halaman yang selama ini tertinggal dari arus pembangunan nasional.
Piknik yang Bukan Piknik: Studi Banding ke Negara Maju
Salah satu bagian paling menggugah dari buku ini adalah kisah tentang bagaimana Rachmat Gobel menerjemahkan filosofi seeing is believing itu ke dalam praktik yang konkret dan berulang.
Ia tidak sekadar berbicara tentang pentingnya melihat kemajuan negara lain, melainkan benar-benar mengajak puluhan tokoh masyarakat Gorontalo untuk terbang bersamanya ke Jepang, Selandia Baru, Turki, dan sejumlah negara Eropa.
Yang diajak bukan sembarang orang: anggota DPRD, aktivis, akademisi, ulama, kepala desa, camat, kepala dinas, hingga bupati — representasi lengkap dari struktur sosial yang menggerakkan sebuah daerah.
Rombongan itu diajak menyaksikan sendiri bagaimana negara-negara maju menata kotanya, mengelola kebersihan lingkungan, membangun industri, hingga menjalankan roda pemerintahan yang efisien.
Bukan liburan, melainkan semacam sekolah lapangan bagi para pengambil kebijakan dan pemuka masyarakat — sebuah cara belajar yang jauh lebih membekas ketimbang seminar atau kajian di atas kertas, karena mata sendiri yang menyaksikan, bukan sekadar telinga yang mendengar.
Yang membuat kisah ini istimewa, dan diangkat penulis dengan nada kagum, adalah fakta bahwa seluruh biaya perjalanan itu ditanggung secara pribadi oleh Rachmat Gobel — bukan dari anggaran negara, bukan pula dari dana partai. Sebuah investasi personal yang besar, yang dilakukan bukan demi popularitas politik semata, melainkan sebagai bagian dari keyakinannya bahwa perubahan cara pandang para pemimpin lokal adalah prasyarat bagi perubahan sebuah daerah.
Bagi penulis, langkah ini menjadi bukti nyata bahwa proyek besar bernama peradaban baru Gorontalo bukan sekadar wacana kampanye, melainkan komitmen yang dibayar dengan sumber daya milik sendiri.
Gorontalo yang Melahirkan Banyak Tokoh Bangsa
Buku ini juga menyelipkan catatan penting yang mudah terlewat oleh pembaca dari luar Sulawesi: bahwa Gorontalo, meski wilayahnya kecil dan penduduknya tak banyak, sesungguhnya telah lama menjadi rahim bagi tokoh-tokoh yang mengukir nama di panggung nasional.
HB Jassin, sang Paus Sastra Indonesia yang lahir di Gorontalo pada 1917, adalah salah satu contoh paling monumental — kritikus dan dokumentator sastra yang otoritasnya di dunia kesusastraan Indonesia tak tertandingi selama puluhan tahun. Bahkan sampai hari ini.
Ada pula Nani Wartabone, pahlawan nasional yang bahkan telah memproklamasikan kemerdekaan Gorontalo pada 23 Januari 1942, tiga tahun sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945 — sebuah fakta sejarah yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat setempat.
Di ranah bisnis dan pemerintahan, nama-nama seperti keluarga Gobel sendiri, atau tokoh nasional lain yang memiliki garis keturunan Gorontalo, turut memperkaya daftar panjang itu. Kehadiran nama-nama besar ini dalam narasi buku berfungsi ganda: menegaskan bahwa Gorontalo bukan daerah tanpa riwayat prestasi, sekaligus menjadi argumen emosional bahwa daerah ini sesungguhnya memiliki modal manusia unggul yang layak mendapat panggung pembangunan yang lebih besar.
Semangat itulah yang tampaknya ingin ditularkan kembali oleh Rachmat Gobel: bahwa jika masa lalu Gorontalo mampu melahirkan pujangga dan pejuang kelas nasional, masa depannya pun semestinya mampu melahirkan sebuah peradaban baru yang sejajar dengan daerah-daerah maju lainnya di Indonesia.
Kekuatan dan Keterbatasan Narasi
Sebagai karya jurnalistik, buku ini ditulis dengan gaya yang mengalir dan mudah diikuti pembaca awam, sebuah kekuatan yang lazim dimiliki penulis berlatar media massa. Struktur ceritanya bergerak dari yang personal — kenangan masa kecil, kedekatan dengan keluarga, kebiasaan menjalankan ibadah di sela kesibukan — menuju yang publik: strategi ekonomi, gagasan tata kota, dan peta jalan investasi bagi Gorontalo.
Pendekatan naratif semacam ini membuat gagasan yang sesungguhnya teknokratis, seperti tata kelola pelabuhan atau hilirisasi produk pertanian, menjadi terasa manusiawi karena senantiasa dikaitkan dengan sosok yang menggagasnya.
Namun, kedekatan penulis dengan tokoh utama juga meninggalkan pertanyaan yang wajar diajukan pembaca kritis. Buku yang lahir dari kedekatan personal—salah satu penulis pernah menjadi staf khusus Rachmat Gobel—berpotensi lebih banyak menonjolkan sisi keberhasilan dan kebajikan subjeknya ketimbang memberi ruang bagi kritik atau evaluasi yang berimbang.
Pembaca yang mencari analisis independen tentang efektivitas Visi 2051, misalnya, mungkin perlu melengkapi bacaan ini dengan sumber lain yang lebih berjarak dari sang tokoh. Ini bukan cacat yang meniadakan nilai buku, melainkan konteks yang perlu disadari: buku ini adalah potret dari dalam, bukan audit dari luar.
Gorontalo sebagai Cermin Indonesia
Pada akhirnya, kekuatan terbesar Peradaban Baru Gorontalo terletak pada keberaniannya mengangkat satu daerah kecil di Sulawesi menjadi studi kasus tentang bagaimana pembangunan Indonesia semestinya dimulai — bukan dari pusat yang menetes ke daerah, melainkan dari daerah yang tumbuh dengan kekuatannya sendiri lalu memberi kontribusi bagi keseluruhan bangsa.
Judul buku ini secara eksplisit menegaskan arah pembacaan itu: membangun Indonesia dari daerah, bukan membangun daerah demi memenuhi target dari pusat.
Lagu Hulontalo Lipuu yang membingkai buku ini pada akhirnya menjadi simbol yang tepat: kerinduan pada kampung halaman yang tidak berhenti pada nostalgia, melainkan berubah menjadi energi untuk mengubah nasib kampung itu sendiri.
Bagi pembaca yang tertarik pada isu pembangunan daerah, ekonomi kerakyatan, atau sekadar ingin memahami bagaimana seorang pengusaha nasional memaknai ulang tanggung jawabnya kepada tanah kelahiran, buku ini layak menjadi salah satu rujukan — dengan catatan, tetap membacanya sebagai sebuah narasi yang penuh keberpihakan pada tokohnya. ***