Sinyal Radio Misterius Terungkap: Katai Putih, Katai Merah, dan Periodik 1,4 Jam
ORBITINDONESIA.COM – Sinyal radio misterius dari langit, yang dikenal sebagai long-period radio transients, akhirnya menemukan tersangka paling masuk akal: sistem bintang ganda katai putih dan katai merah. Studi di Nature Astronomy menautkan sumbernya pada ASKAP J1745−5051, yang memancarkan pola berulang setiap 1,4 jam.
Selama bertahun-tahun, long-period radio transients muncul seperti ketukan jam yang tidak cocok dengan teori lama. Ia terdeteksi hanya di beberapa titik di Galaksi Bima Sakti, tetapi asal-usulnya menolak dipetakan.
Di banyak diskusi astronomi, dugaan awal mengarah ke pulsar, yakni bintang neutron pemancar gelombang radio periodik. Namun periode yang sangat panjang membuat model pulsar klasik tersendat, karena putaran lambat dinilai tidak cukup energik.
Karena itu, setiap kandidat sumber baru menjadi pertaruhan besar bagi cara kita membaca “cuaca radio” di galaksi. ASKAP J1745−5051 kini masuk sebagai kandidat yang bukan sekadar alternatif, tetapi pembalik asumsi.
ASKAP J1745−5051 adalah sistem rapat, dengan dua bintang mengorbit dalam sedikit lebih dari satu jam. Katai putihnya berukuran kira-kira Bumi, tetapi bermassa hampir setara Matahari, sementara katai merahnya sekitar 0,1 massa Matahari.
Kedekatan ekstrem itu memicu transfer materi, saat katai putih menarik gas dari pendampingnya. Gas yang jatuh memanas tajam dan memunculkan emisi sinar-X, sebuah penanda klasik akresi pada objek kompak.
Di saat yang sama, medan magnet kedua bintang saling “mengunci” dan menciptakan semburan radio kuat. Kombinasi proses akresi dan interaksi magnetik itulah yang membentuk sinyal radio periodik setiap 1,4 jam.
Detail yang paling penting justru ketidakselarasan waktunya. Puncak emisi radio dan puncak sinar-X tidak terjadi bersamaan, sehingga mengisyaratkan lokasi produksi radiasi yang berbeda di dalam sistem.
Ini bukan sekadar catatan teknis, melainkan petunjuk geometri sumbernya. Jika radio muncul dari zona interaksi magnetik, sementara sinar-X dari daerah jatuhnya materi, maka periodisitas menjadi hasil koreografi dua mesin fisika yang berbeda.
Penelitian ini juga menempatkan ASKAP J1745−5051 sebagai objek kedua dalam kelas long-period radio transients yang diketahui memancarkan sinar-X secara teratur. Yang membedakannya, untuk pertama kalinya penyebab pola periodik dapat dipastikan lewat pengamatan komponen sistem dan proses perpindahan materi.
Dalam konteks instrumen, temuan ini memperlihatkan nilai survei radio modern seperti ASKAP yang mampu menangkap transien berulang. Ketika radio dipadukan dengan sinar-X, teka-teki yang semula tampak seperti “sinyal tanpa wajah” berubah menjadi sistem fisik yang bisa diuji.
Rujukan kunci yang disebutkan peneliti adalah publikasi di Nature Astronomy, yang menegaskan identifikasi sumber dan mekanismenya. Ini membuat temuan tersebut lebih dari sekadar klaim, karena melewati standar telaah sejawat dan metode multi-panjang gelombang.
Temuan ini menampar kebiasaan kita yang terlalu cepat menyebut semua denyut radio sebagai pulsar. Long-period radio transients mungkin bukan anomali tunggal, melainkan keluarga besar dengan “orang tua” yang berbeda.
Jika sebagian berasal dari katai putih dalam sistem biner rapat, maka peta populasi sumber radio galaksi perlu ditulis ulang. Kita harus mulai menghitung berapa banyak pasangan katai putih–katai merah yang berperan sebagai pemancar radio periodik, bukan hanya sebagai objek akresi biasa.
Julukan “Rosetta Stone” kosmik yang diberikan peneliti utama, Kovi Rose, terasa tepat sekaligus menantang. Batu Rosetta bukan jawaban akhir, tetapi kunci untuk menerjemahkan teks lain, dan ASKAP J1745−5051 bisa menjadi kamus untuk transien yang masih gelap.
Namun ada risiko narasi kemenangan yang terlalu dini. Satu sistem yang terpecahkan tidak otomatis menjelaskan semua long-period radio transients, karena variasi medan magnet, laju akresi, dan orientasi orbit bisa menghasilkan perilaku yang berbeda.
Di sisi lain, justru di sini letak nilai ilmiahnya. Sistem ekstrem seperti ini menjadi laboratorium alam untuk menguji fisika plasma, gravitasi kuat, dan magnetosfer yang mustahil direplikasi di Bumi.
Publik sering bertanya, “Apa gunanya memecahkan sinyal radio misterius?” Jawaban paling jujur adalah: ia mengajari kita cara kerja alam pada batasnya, dan dari sana teknologi pengamatan, pemodelan, serta penalaran ilmiah ikut naik kelas.
ASKAP J1745−5051 mengubah sinyal radio misterius dari sekadar bunyi menjadi cerita tentang tarikan gravitasi, pertukaran materi, dan benturan medan magnet. Ia juga memaksa astronomi untuk lebih rendah hati, karena alam sering memilih mekanisme yang tidak kita duga.
Jika “Rosetta Stone” ini benar-benar membantu menerjemahkan transien lain, maka kita sedang menyaksikan lahirnya klasifikasi baru sumber radio periodik di galaksi. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah sinyal itu nyata, melainkan berapa banyak sistem serupa yang menunggu ditemukan, dan apa yang akan mereka ubah dalam pemahaman kita tentang semesta.
(Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)