Literasi Keuangan Anak: Orang Tua Kanada Ragu Lepas Kendali
ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan anak kembali jadi sorotan saat survei menunjukkan 87% orang tua Kanada ragu memberi anak otonomi finansial. Di musim back-to-school, jeda antara niat mendidik dan berani melepas kontrol tampak makin jelas.
Di banyak keluarga, orang tua ingin anak “mandiri finansial” ketika dewasa. Namun, menyerahkan tanggung jawab uang sejak dini terasa seperti mempertaruhkan risiko yang tidak perlu.
Padahal, asumsi bahwa anak otomatis paham uang saat berusia 18 tahun adalah jebakan klasik. Penilaian finansial justru lebih aman dilatih ketika taruhannya kecil dan kesalahan masih bisa diperbaiki.
Musim kembali ke sekolah menawarkan momen praktis untuk memulai. Kebutuhan belanja, uang jajan, dan target tabungan memberi konteks nyata untuk latihan pengambilan keputusan.
Survei yang dikutip dalam artikel menunjukkan sumber kecemasan orang tua cukup konsisten. Sebanyak 49% takut anak menghabiskan uang terlalu cepat, dan 42% khawatir anak membuat pilihan belanja yang buruk.
Kekhawatiran lain lebih modern dan sulit diawasi. Sekitar 33% orang tua takut anak terjebak penipuan online atau pembelian tidak sah, sementara 23% menilai anak belum cukup matang memikul tanggung jawab.
Angelique de Montbrun, CEO Mydoh, merangkum dilema itu dengan lugas. “Parents understand that money management is a skill their kids need for life — but knowing that and feeling comfortable handing over responsibility are two very different things,” ujarnya dalam pernyataan.
Yang menarik, survei juga memetakan “zona nyaman” orang tua. Sebanyak 67% berharap anak menabung untuk tujuan tertentu selama tahun ajaran, 61% membiarkan anak mengelola uang saku, dan 57% mengizinkan pembelian kecil secara mandiri.
Namun, ketika kompleksitas naik, izin mendadak menurun tajam. Hanya 22% orang tua yang berharap anak mengelola sebagian anggaran belanja sekolah, dan hanya 13% yang membiarkan anak berbelanja online sendiri.
Di titik ini terlihat “practice gap” yang menentukan hasil jangka panjang. Anak diberi ruang pada hal-hal sederhana, tetapi ditarik kembali ketika keputusan butuh perencanaan, perbandingan harga, atau manajemen risiko digital.
Survei juga mengungkap sisi psikologis yang jarang diakui. Hampir satu dari lima orang tua (19%) mengaku sulit mundur dan membiarkan kesalahan finansial terjadi.
Vanessa Bowen, akuntan profesional dan pendiri platform coaching Mint Worthy, menekankan proses bertahap. “Parents can start with decisions that feel manageable and gradually give their kids more ownership as their confidence and judgment grow,” katanya dalam pernyataan.
Keraguan orang tua sebenarnya bukan sekadar soal uang, melainkan soal kendali. Banyak orang tua ingin anak mandiri, tetapi juga ingin hasilnya rapi, aman, dan bebas salah.
Masalahnya, kedewasaan finansial tidak lahir dari ceramah, melainkan dari konsekuensi kecil yang berulang. Jika semua keputusan “besar” selalu diambil orang tua, anak hanya berlatih pada level yang tidak menuntut penilaian.
Ketakutan pada penipuan online juga masuk akal, tetapi tidak bisa dijawab dengan larangan permanen. Dunia belanja digital adalah realitas ekonomi generasi baru, sehingga anak perlu dikenalkan pada verifikasi, batas transaksi, dan jejak digital sejak awal.
Di sinilah back-to-school bisa menjadi laboratorium yang aman. Anak dapat diberi porsi anggaran terbatas untuk memilih perlengkapan tertentu, lalu diminta menjelaskan alasan pilihan dan membandingkan harga.
Yang paling sulit adalah memberi izin untuk “salah” dalam skala kecil. Kesalahan membeli barang yang cepat rusak atau menghabiskan uang saku terlalu cepat adalah biaya belajar yang jauh lebih murah daripada kegagalan mengelola kartu kredit pertama.
Survei ini memperlihatkan paradoks yang akrab: orang tua ingin anak cakap uang, tetapi takut memberi ruang latihan. Padahal, otonomi finansial bukan hadiah yang diberikan tiba-tiba, melainkan otot yang dibangun lewat repetisi.
Mungkin pertanyaan pentingnya bukan “kapan anak siap,” melainkan “kapan orang tua siap melepas.” Jika kesalahan kecil hari ini bisa mencegah kesalahan besar esok hari, berapa banyak kontrol yang sebenarnya perlu kita pertahankan?
(Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)