Iran Usul Buka Selat Hormuz 7 Hari, AS Diminta Penuhi Syarat

detikNews

detikNews

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Iran mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat untuk mengakhiri perang AS-Iran dan membuka kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari. Menlu Iran Abbas Araghchi menyebut pembukaan Hormuz akan terjadi bila Washington menyetujui syarat, termasuk gencatan senjata regional dan pelonggaran sanksi.

Selat Hormuz kembali menjadi kata kunci yang menegangkan karena jalur sempit ini mengalirkan sebagian besar ekspor minyak dan gas dari Teluk. Ketika Teheran memblokade Hormuz selama perang, pasar energi membaca itu sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas harga global.

Di sela Sidang Majelis Umum PBB di New York, Araghchi menyatakan usulan terbaru sudah disampaikan dan menunggu jawaban Washington. Gedung Putih belum merespons, sementara Presiden Donald Trump hanya mengakui ada pembicaraan lanjutan tanpa detail.

Pertemuan Araghchi dengan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner dilaporkan belum menghasilkan terobosan. Namun diplomasi di koridor PBB sering bekerja lewat draft yang bergerak diam-diam, bukan lewat konferensi pers.

Iran sebelumnya menyebut memiliki tujuh syarat untuk mengakhiri perang dan membuka Hormuz. Dalam versi terbaru yang dikutip New York Times dan The Guardian, syarat itu dipadatkan menjadi paket gencatan tujuh hari plus konsesi ekonomi dan keamanan.

Inti proposal Iran adalah gencatan senjata tujuh hari di Timur Tengah, termasuk Lebanon yang menjadi arena benturan Hizbullah dan Israel. Kerangka ini mengubah isu perang AS-Iran menjadi isu de-eskalasi regional, sehingga beban politiknya menyebar ke banyak aktor.

Teheran menuntut pencairan aset Iran yang dibekukan, yang disebut bernilai sekitar US$12 miliar. Angka ini bukan sekadar nominal, karena bagi Iran itu adalah oksigen fiskal untuk menahan tekanan inflasi dan pembiayaan impor strategis.

Iran juga meminta pencabutan sanksi minyak dan penghentian blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Jika dua poin ini terjadi, ekspor energi Iran berpotensi pulih, dan itu dapat menambah pasokan global serta menekan premi risiko di pasar.

Janji pembukaan Selat Hormuz pada hari ketujuh adalah insentif paling keras, karena dunia memahami Hormuz sebagai tombol darurat energi. Teheran menempatkan tombol itu sebagai imbalan yang baru akan ditekan setelah manfaat ekonomi dan keamanan mulai terasa.

China disebut mendukung usulan ini, dan Xi Jinping dilaporkan mendorong Trump kembali ke dialog saat berkunjung ke Washington. Dukungan Beijing penting karena China adalah pembeli energi utama dan memiliki kepentingan langsung pada jalur pelayaran yang aman.

Di sisi lain, muncul sinyal syarat tambahan terkait konflik Yaman dari juru bicara Garda Revolusi, meski Araghchi tidak memasukkannya dalam pernyataan publik. Ini menunjukkan adanya dua jalur pesan, yakni jalur diplomatik yang rapi dan jalur militer yang menambah daya tawar.

Skema tujuh hari juga mengandung logika manajemen krisis, karena memberi ruang uji coba tanpa komitmen permanen. Namun justru karena pendek, setiap pelanggaran kecil bisa meledakkan kepercayaan dan mengembalikan situasi ke eskalasi.

Proposal Iran tampak seperti tawaran damai, tetapi sesungguhnya ia adalah transaksi yang menukar stabilitas energi global dengan konsesi ekonomi dan pengakuan keamanan. Teheran ingin membuktikan bahwa sanksi tidak bisa menjadi alat permanen tanpa biaya bagi dunia.

Bagi Washington, menerima paket ini berarti mengakui bahwa blokade dan sanksi memiliki batas efektivitas, terutama ketika menyentuh jalur minyak dunia. Namun menolak juga berisiko memperpanjang ketidakpastian Hormuz, yang dapat memukul konsumen dan sekutu.

Gencatan senjata yang mencakup Lebanon mengisyaratkan Iran ingin memasukkan proksi sebagai bagian dari meja perundingan. Ini bisa dibaca sebagai upaya mengunci pengaruh regional, sekaligus sebagai pengakuan bahwa medan tempur dan diplomasi tidak lagi terpisah.

Trump berada pada dilema komunikasi, karena pertemuan lanjutan bisa dijual sebagai kemenangan negosiasi, tetapi konsesi ekonomi kepada Iran mudah diserang sebagai kelemahan. Karena itu, kemungkinan besar AS akan mencari format bertahap agar terlihat sebagai “uji kepatuhan” bukan “hadiah”.

China memanfaatkan momen ini untuk menampilkan diri sebagai penyangga stabilitas, tanpa harus menjadi mediator formal. Jika jalur dialog terbuka, Beijing mendapat dua keuntungan, yakni pasokan energi lebih aman dan citra geopolitik yang menguat.

Namun publik perlu membaca satu hal yang sering luput, yaitu proposal semacam ini biasanya menyembunyikan daftar teknis panjang tentang verifikasi, jadwal sanksi, dan definisi “permusuhan”. Ketika definisi tidak disepakati, tujuh hari bisa berubah menjadi tujuh alasan untuk saling menyalahkan.

Usulan Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam tujuh hari menempatkan dunia pada persimpangan antara de-eskalasi dan perjudian politik. Jika disepakati, paket ini bisa menurunkan ketegangan perang AS-Iran sekaligus meredakan ketakutan pasar energi.

Namun jika gagal, Hormuz tetap menjadi sandera konflik, dan diplomasi PBB hanya menjadi latar bagi kalkulasi militer. Pada akhirnya, pertanyaan besarnya sederhana, apakah para pemimpin memilih menutup bab perang dengan kompromi, atau terus menulisnya dengan biaya yang ditanggung publik global.

(Orbit dari berbagai sumber, 28 September 2026)