Skrining HIV dan Sifilis Lapas Bengkulu: Deteksi Dini WBP

Kompasiana.com

Kompasiana.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Skrining HIV dan sifilis di Lapas Bengkulu memeriksa 40 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan semuanya dinyatakan negatif. Kabar ini terdengar menenangkan, tetapi sekaligus menegaskan satu hal: kesehatan di balik jeruji tidak boleh menunggu sakit dulu.

Di Lapas Kelas IIA Bengkulu, skrining Infeksi Menular Seksual (IMS) dilakukan bersama UPTD Puskesmas Bentiring pada 19 September 2026. Pemeriksaan berlangsung di Klinik Pratama Lapas, dipimpin Dokter Lisda Naomi Siregar dan didukung tenaga kesehatan internal lapas.

Isu IMS di ruang tertutup seperti lapas selalu sensitif karena menyangkut stigma, privasi, dan relasi kuasa. Namun justru karena lapas adalah komunitas padat, deteksi dini menjadi instrumen pencegahan yang lebih rasional dibanding sekadar pengobatan reaktif.

Dalam pedoman Kementerian Kesehatan, skrining IMS termasuk strategi pengendalian penyakit menular, dengan HIV dan sifilis sebagai fokus penting. Artinya, kegiatan ini bukan sekadar program seremonial, melainkan bagian dari logika kesehatan publik yang menuntut konsistensi.

Hasil negatif untuk 40 WBP adalah capaian yang patut dicatat, tetapi angka itu belum otomatis menggambarkan kondisi populasi lapas secara utuh. Sampel terbatas, waktu pemeriksaan tunggal, dan potensi “window period” pada HIV membuat skrining berkala tetap krusial untuk validitas pemantauan.

Yang lebih penting adalah desain programnya: skrining harus diikuti konseling, edukasi, dan rujukan bila ada temuan. Artikel menyebut aspek kesadaran dan pemeriksaan berkala, tetapi tidak merinci mekanisme tindak lanjut, perlindungan kerahasiaan, dan standar informed consent.

Tren serupa terjadi di lapas lain pada 2026, seperti Lapas Kelas I Surabaya yang menyaring 100 WBP bersama Puskesmas Kedungsolo disertai konseling. Lapas Terbuka Kendal juga melakukan skrining TBC, HIV, sifilis, dan Hepatitis C terhadap 81 WBP bersama Dinas Kesehatan dan Puskesmas.

Rangkaian contoh itu menunjukkan pola: lapas makin bergantung pada kolaborasi layanan primer pemerintah karena keterbatasan kapasitas internal. Klinik Pratama di lapas menjadi simpul awal, sementara puskesmas menyediakan tenaga, alat, dan kompetensi yang lebih lengkap.

Namun kolaborasi saja tidak cukup bila tidak ada indikator kinerja yang jelas, seperti frekuensi skrining, cakupan peserta, dan keberhasilan edukasi perilaku sehat. Tanpa data serial, hasil negatif hari ini bisa meninabobokan sistem, padahal pencegahan menuntut kewaspadaan yang berulang.

Skrining HIV dan sifilis di Lapas Bengkulu patut dibaca sebagai ukuran martabat layanan publik, bukan sekadar kegiatan kesehatan. Negara tidak kehilangan kewajiban melindungi hak kesehatan seseorang hanya karena ia sedang menjalani pidana.

Di sisi lain, narasi “semua negatif” bisa menjadi pedang bermata dua bila dipakai sebagai klaim bahwa persoalan IMS di lapas tidak ada. Justru momen hasil negatif seharusnya dipakai untuk memperkuat sistem: edukasi, akses kondom dan harm reduction yang berbasis kebijakan, serta rujukan tanpa stigma.

Yang paling rawan adalah stigma, karena IMS sering membuat orang enggan memeriksa diri, apalagi di ruang yang minim privasi. Jika kerahasiaan tidak dijamin, skrining bisa berubah menjadi sumber ketakutan, dan itu berlawanan dengan tujuan kesehatan publik.

Karena itu, keberanian melakukan pemeriksaan harus diperlakukan sebagai capaian pembinaan, bukan sekadar prosedur medis. Lapas semestinya mengukur keberhasilan bukan hanya dari hasil tes, tetapi dari meningkatnya literasi kesehatan dan turunnya perilaku berisiko di komunitasnya.

Skrining HIV dan sifilis terhadap 40 WBP di Lapas Bengkulu memberi kabar baik, sekaligus mengingatkan bahwa pencegahan selalu lebih murah daripada krisis. Kolaborasi Lapas Bengkulu dan Puskesmas Bentiring menunjukkan model kerja yang masuk akal untuk memperkuat layanan kesehatan pemasyarakatan.

Tetapi pertanyaan yang tersisa lebih mendasar: apakah skrining ini akan menjadi rutinitas yang terukur, rahasia, dan manusiawi, atau hanya jeda singkat sebelum perhatian kembali redup. Pada akhirnya, kesehatan di balik tembok adalah cermin cara kita memperlakukan sesama warga negara saat mereka paling rentan.

(Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)