Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis: Luhut Soroti Data 3T

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mengemuka setelah Luhut Binsar Pandjaitan mengakui pelaksanaannya belum berjalan mulus. Ia menyoroti masalah perencanaan dan akurasi data wilayah 3T yang membuat perbaikan harus dilakukan setelah anggaran telanjur dicairkan.

Program Makan Bergizi Gratis adalah program prioritas pemerintah yang menuntut eksekusi cepat dan cakupan luas. Namun, kecepatan itu berhadapan dengan fakta lapangan yang tidak seragam, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Luhut menyebut banyak persoalan sebenarnya bisa dihindari bila sejak awal ada kajian komprehensif. Ia menilai energi pemerintah sempat habis untuk perdebatan internal, padahal akar masalahnya adalah perencanaan yang tidak matang.

Pernyataan itu disampaikan Luhut dalam seminar di kantor DEN pada Kamis (25/6/2026). Ia menyebut “ide-ide besar presiden” kerap tidak diikuti kesiapan desain teknis yang rapi dan terukur.

Inti kritik Luhut ada pada urutan kerja yang terbalik: anggaran berjalan, lalu masalah data muncul. Dalam tata kelola program publik, ini berisiko memunculkan kebocoran, salah sasaran, dan biaya koreksi yang mahal.

Menurut evaluasi DEN, problem di 3T bukan sekadar distribusi logistik, tetapi juga validitas penetapan wilayah dan data penerima. Luhut menyebut “banyak yang enggak benar” soal 3T, sementara uang sudah keluar dan program tak bisa “dipotong begitu saja”.

Kondisi itu menggambarkan tantangan klasik kebijakan nasional: data pusat yang tidak selalu sinkron dengan realitas daerah. Ketika basis data lemah, program sebaik apa pun akan terseret ke soal administrasi, bukan dampak gizi.

DEN menyatakan ikut rapat bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dan kementerian terkait untuk menyempurnakan implementasi. Luhut menyebut tim MBG “welcome” menerima masukan, yang menandakan ada ruang koreksi kebijakan yang masih terbuka.

DEN juga mengklaim telah melakukan kajian di sekitar 800 titik untuk memetakan persoalan kemiskinan dan menyusun rekomendasi agar MBG lebih tepat sasaran. Angka 800 titik memberi sinyal upaya pemetaan, tetapi publik tetap membutuhkan transparansi metodologi dan hasil ringkasnya.

Dalam banyak program bantuan, piloting atau uji coba terbatas biasanya dipakai untuk menguji rantai pasok, standar kualitas, dan mekanisme pengawasan. Luhut mengakui MBG “langsung bikin gede” tanpa piloting, sehingga koreksi kini terjadi di tengah jalan.

Pengakuan Luhut adalah alarm bahwa kebijakan sosial tidak bisa hanya mengandalkan niat baik dan anggaran besar. MBG adalah proyek kepercayaan publik, sehingga kesalahan data dan desain awal akan selalu dibaca sebagai potensi ketidakadilan.

Masalah utama bukan semata “kurang rapi”, melainkan cara negara mendefinisikan keberhasilan program. Jika indikator hanya penyerapan anggaran dan jumlah paket makanan, maka kualitas gizi, ketepatan sasaran, dan integritas data akan jadi korban.

Fokus pada 3T menunjukkan dilema: wilayah yang paling membutuhkan justru paling sulit dijangkau dan paling rentan salah data. Tanpa tata kelola data yang kuat, 3T bisa berubah dari prioritas menjadi justifikasi, sementara kelompok rentan tetap tercecer.

Permintaan Luhut agar publik tidak “cepat buruk sangka” bisa dipahami, tetapi kepercayaan tidak tumbuh dari imbauan. Kepercayaan tumbuh dari keterbukaan: audit, pembaruan data, dan publikasi capaian yang bisa diuji.

Kalimat Luhut bahwa ini “salah kita semua” terdengar merangkul, tetapi juga berisiko mengaburkan akuntabilitas. Dalam program nasional, pembagian peran harus jelas, karena koreksi kebijakan butuh penanggung jawab yang bisa ditagih.

MBG berpotensi menjadi kebijakan yang mengubah masa depan kesehatan anak, tetapi hanya jika fondasinya kokoh. Perencanaan matang, piloting, dan data 3T yang tervalidasi harus menjadi pelajaran, bukan catatan kaki.

Setahun ke depan, seperti kata Luhut, mungkin akan terlihat lebih baik jika “dipoles kiri-kanan” dengan serius. Pertanyaannya sederhana: apakah perbaikan itu akan dibuka ke publik sebagai bukti, atau hanya menjadi narasi internal pemerintah.

Di titik ini, yang dibutuhkan bukan sekadar optimisme, melainkan disiplin tata kelola. Program makan bergizi gratis akan dinilai bukan dari besar niatnya, tetapi dari seberapa adil dan presisi ia menyentuh mereka yang paling membutuhkan. (Orbit dari berbagai sumber, 1 Juli 2026)