Ali Samudra: Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina - Dari Jalur Sutra, Islam di Cina, Cheng Ho, hingga Era AI
Oleh Ali Samudra
ORBITINDONESIA.COM - Ketika Nabi Muhammad SAW mulai menyebarkan Islam di Jazirah Arab pada abad ke-7 M, di belahan timur dunia telah berdiri sebuah peradaban besar bernama Cina. Negeri itu terkenal dengan sutranya, kertasnya, teknologinya, dan jaringan dagang yang menjangkau Asia, Timur Tengah, hingga Laut Mediterania.
Jalur-jalur perdagangan yang menghubungkan Cina dengan India, Persia, Arab, dan Romawi bukan hanya mengangkut barang dagangan, tetapi juga membawa gagasan, ilmu pengetahuan, dan agama.
Di dalam konteks dunia yang saling terhubung inilah ungkapan "Tuntutlah Ilmu Sampai Negeri Cina" memperoleh makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar perjalanan menuju sebuah negeri yang jauh.
Yunani, Persia, dan Cina
Setiap peradaban besar memiliki sesuatu yang dapat dipelajari. Yunani memberi warisan filsafat, logika, matematika, dan tradisi bertanya; Persia memperlihatkan kemampuan membangun administrasi dan mengelola imperium; sementara Cina menunjukkan kesinambungan institusi, teknologi, produksi, pendidikan, dan kemampuan mengorganisasi masyarakat.
Peradaban Islam kemudian memperlihatkan kemampuan luar biasa dalam mengambil pengetahuan dari berbagai sumber. Karya Yunani diterjemahkan, pengetahuan Persia dipelajari, matematika India dikembangkan, lalu semuanya dipertemukan dengan pandangan dunia Islam.
Yang menarik, umat Islam tidak berhenti sebagai penerjemah. Mereka melakukan kritik, eksperimen, pengamaatan, dan inovasi. Mereka menjadikan ilmu sebagai proses kreatif, bukan sekedaer proses menghafal.
Bangsa pembelajar akhirnya dapat berubah menjadi bangsa pencipta.
Ketika Islam Menyeberangi Jalur Sutra
Islam kemudian memasuki Cina melalui jaringan perdagangan dan hubungan antarbangsa.
Pedagang Arab dan Persia hadir di kota-kota pelabuhan Cina dan secara bertahap membentuk komunitas Muslim yang menjadi bagian dari masyarakat Cina.
Di antara kota yang memiliki posisi penting adalah Guangzhou (Canton), salah satu pelabuhan utama dalam hubungan perdagangan antara Cina dan dunia Islam. Di kota ini terdapat Masjid Huaisheng yang secara tradisional dianggap sebagai salah satu masjid paling awal di Cina.
Kisah pendirian masjid tersebut bahkan secara tradisional dikaitkan dengan kedatangan Sa'd bin Abi Waqqas, seorang sahabat Nabi Muhammad, yang menjadi utusan khalifah Usman ibn Affan pada tahun 651 M.
Yang jauh lebih penting adalah kenyataan bahwa hubungan Islam dan Cina memang terjadi sejak Dinasti Tang (618-680). Perdagangan menjadi pintu masuk, tetapi interaksi manusia kemudian melahirkan sesuatu yang lebih besar: komunitas, pendidikan, masjid, dan tradisi intelektual.
Dari Islam di Cina Menuju Han Kitab
Seiring perjalanan waktu, Muslim Cina tidak lagi hanya menjadi pedagang yang datang dari luar. Mereka menjadi bagian dari masyarakat Cina dan mulai mengembangkan pemikiran Islam dalam bahasa serta kerangka intelektual Cina.
Dari proses panjang inilah berkembang tradisi yang dikenal sebagai Han Kitab, yaitu korpus karya intelektual Islam berbahasa Cina yang berkembang terutama sejak masa Dinasti Ming dan Qing.
Tradisi ini lahir dari lingkungan pendidikan Muslim Cina yang memadukan karya-karya Arab, Persia, dan Cina. Para sarjana Muslim berusaha menjelaskan konsep-konsep Islam menggunakan bahasa intelektual yang dapat dipahami oleh masyarakat Cina.
Tokoh-tokoh seperti Wang Daiyu, Ma Zhu, dan Liu Zhi menjadi bagian penting dari tradisi tersebut.
Mereka tidak hanya menerjemahkan istilah Islam ke dalam bahasa Cina. Mereka juga berdialog dengan tradisi Konfusianisme, Buddhisme, dan Taoisme untuk menemukan bahasa intelektual yang memungkinkan Islam dipahami dalam konteks kebudayaan Cina.
Di sinilah kita menemukan salah satu pelajaran paling menarik dari sejarah Islam di Cina. Muslim Cina tidak sekadar membawa Islam ke Cina. Mereka belajar bagaimana Islam dapat berbicara kepada Cina.
Han Kitab karena itu dapat dilihat sebagai contoh bagaimana identitas keagamaan dapat berdialog dengan kebudayaan tanpa harus kehilangan prinsip dasarnya.
Belajar dari kebudayaan lain tidak selalu berarti kehilangan identitas.
Sebaliknya, dengan memahami dunia lain secara lebih mendalam, kita justru dapat memahami diri sendiri dengan lebih dewasa.
Ketika Cina Menghormati Nabi Muhammad SAW
Salah satu jejak sejarah hubungan Islam dan Cina adalah sebuah teks yang dikenal sebagai Baizizan atau Pujian Seratus Aksara Cina yang dibuat oleh kaisar Hongwu (1368-1398) pendiri dinasti Ming. Teks tersebut berisi pujian agung terhadap Nabi Muhammad SAW dan Islam>
Naskah salinan puisi ini sempat diperintahkan untuk dipajang di beberapa masjid yang dibangun dimasa pemerintahannya, seperti di Nanjing, Fujian, Guangdong dan Yunan.
Bayangkan perjalanan sejarahnya: seorang Nabi yang lahir di Makkah ribuan kilometer jauhnya dari Cina akhirnya menjadi subjek pujian dalam bahasa dan kebudayaan Cina.
Inilah salah satu keajaiban perjumpaan peradaban: sesuatu yang lahir di satu tempat dapat menemukan makna di tempat yang sangat jauh.
Cheng Ho: Muslim Cina Menemui Dunia
Jika Han Kitab menunjukkan Islam yang berbicara dalam bahasa Cina, Zheng He atau Cheng Ho menunjukkan seorang Muslim Cina yang membawa Cina berhadapan dengan dunia.
Zheng He lahir pada 1371 di Yunnan dari keluarga Muslim. Setelah penaklukan Yunnan oleh pasukan Ming pada 1381, ia mengalami masa sulit sebagai tawanan, kemudian menjadi kasim istana dan akhirnya dipercaya memimpin armada besar Dinasti Ming.
Pada pelayaran pertamanya pada 1405, armadanya dicatat terdiri atas 317 kapal dan lebih dari 27.000 orang. Di dalamnya terdapat pelaut, tentara, penerjemah, ahli astronomi, tenaga medis, dan pejabat diplomatik.
Armada itu bergerak melalui Asia Tenggara, India, Samudra Hindia, Arabia, hingga Afrika Timur. Seorang Muslim Cina berada di pusat salah satu proyek maritim terbesar dalam sejarah Cina.
Jika ungkapan “Tuntutlah ilmu sampai Negeri Cina” menggambarkan seorang Muslim yang berani pergi jauh mencari ilmu, Cheng Ho menunjukkan gambaran sebaliknya: seorang Muslim dari Cina berlayar menemui dunia.
Mengapa Cina Mampu Bangkit?
Cina bukan bangsa yang selalu berada di puncak. Ia mengalami perang, pergantian dinasti, invasi, konflik internal, dan tekanan besar dari kekuatan Barat pada abad ke-19.
Namun ada sesuatu yang bertahan lebih lama daripada dinasti: penghargaan terhadap pendidikan, kerja keras, administrasi, dan kemampuan belajar.
Sistem ujian kekaisaran selama berabad-abad menjadikan pendidikan sebagai salah satu jalan penting menuju kedudukan sosial dan pemerintahan.
Ketika Cina memasuki era modern, tradisi tersebut bertemu dengan pendidikan massal, industrialisasi, penelitian, teknologi, dan investasi besar dalam sumber daya manusia.
Yang paling menarik, Cina memiliki kemampuan untuk belajar dari bangsa lain tanpa berhenti menjadi Cina. Ia mempelajari teknologi Barat, mengembangkan industri, membangun universitas, memperluas riset, lalu secara bertahap menciptakan teknologi sendiri.
Inilah salah satu pelajaran terbesar bagi umat Islam: bangsa yang berhenti belajar akan hidup dari kejayaan masa lalu; bangsa yang terus belajar memiliki kesempatan menciptakan masa depan.
Dari Jalur Sutra ke Belt and Road Initiative (BRI)
Pada 2013, Xi Jinping memperkenalkan gagasan 21st-Century Maritime Silk Road di Indonesia, yang kemudian menjadi bagian dari Belt and Road Initiative.
Kita tidak perlu menyamakan BRI dengan Jalur Sutra kuno. Tetapi ada kesinambungan gagasan yang menarik: konektivitas tetap menjadi salah satu sumber kekuatan Cina dalam berhubungan dengan dunia.
Dahulu sutra bergerak melalui karavan dan kapal. Kini barang bergerak melalui pelabuhan, kereta api, jalan raya, pesawat, dan pusat logistik.
Bahkan sesuatu yang lebih pengting daripada barang, kini bergerak dalam hitungan detik: data dan pengetahuan.
Dunia menjadi semakin terhubung. Dan bersama keterhubungan itu, ilmu pengetahuan juga semakin mudah bergerak.
“Negeri Cina” di Era AI
Dahulu seseorang harus menempuh ribuan kilometer untuk mencari ilmu. Sekarang seorang anak muda di Jakarta dapat belajar dari universitas di Amerika, Cina, Eropa, India, atau negara mana pun tanpa meninggalkan rumah.
Internet telah mengubah geografi pengetahuan.
Kecerdasan buatan bahkan membawa perubahan yang lebih besar lagi.
AI dapat membatu menerjemahkan bahasa, mencari informasi, menganalisa data, merangkum buku, membandingkan berbagai sumber yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Karena itu, “Tuntutlah ilmu sampai Negeri Cina” pada zaman AI tidak lagi terutama berarti menempuh jarak geografis. Ia berarti keberanian intelektual untuk belajar dari seluruh dunia tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis terhadap setiap informasi.
Dari Iqra' Menuju Amal Saleh
Pada akhirnya, seluruh perjalanan ini harus kembali kepada Al-Qur'an. Wahyu pertama dimulai dengan Iqra' - bacalah!
Namun Al-Qur'an tidak menjadikan ilmu sebagai tujuan terakhir. Ilmu harus melahirkan kesadaran, dan kesadaran harus melahirkan amal.
Pada penutup Surah Al-Kahfi, Allah brfirman: "Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi [18]: 110).
Ayat ini memberikan arah kepada seluruh pencarian ilmu. Ilmu memberi manusia kekuatan, tetapi amal saleh menentukan ke mana kekuatan itu diarahkan.
Di sinilah perjalanan dari Jalur Sutra menuju AI menemukan makna spiritualnya.
Kita belajar dari Cina, Yunani, Persia, India, Barat, dan seluruh dunia bukan untuk kehilangan identitas, tetapi untuk memperluas kemampuan manusia dalam melakukan kebaikan.
Dulu yang jauh adalah Cina. Kini hampir seluruh ilmu pengetahuan dunia berada di depan mata, bahkan di ujung jari.
Yang jauh bukan lagi Cina, melainkan kemauan kita untuk belajar.
Dalam perspektif Islam, ilmu adalah jalan menuju amal saleh, dan amal saleh adalah jalan pengabdian kepada Allah.***
Daftar Pustaka:
1. Lipman, Jonathan N. Islamic Thought in China. Edinburgh: Edinburgh University Press, 2016. Buku ini secara khusus membahas perkembangan pemikiran Islam di Cina dan menempatkan Muslim Cina dalam sejarah intelektual Cina yang lebih luas.
2. Murata, Sachiko. The First Islamic Classic in Chinese: Wang Daiyu’s Real Commentary on the True Teaching. Albany: State University of New York Press, 2017. Buku ini penting untuk memahami bagaimana Wang Daiyu menggunakan bahasa dan kategori intelektual Cina dalam menjelaskan teologi, tasawuf, dan etika Islam.
3. Petersen, Kristian. Interpreting Islam in China: Pilgrimage, Scripture, and Language in the Han Kitab. New York: Oxford University Press, 2017. Karya akademik penting mengenai tradisi Han Kitab dan pemikiran Wang Daiyu, Liu Zhi, serta Ma Dexin.
4. Tan Ta Sen. Cheng Ho: Penyebar Islam dari China ke Nusantara. Jakarta: Penerbit Kompas, 2018. Buku ini berguna untuk melihat hubungan Cheng Ho, Muslim Cina, dan perkembangan hubungan Cina dengan dunia Islam di Asia Tenggara.
Jakarta, 14 Agustus 2026.
(Pengantar Diskusi Ba'da Sholat Subuh, Jumat 14 Agustus 2026 Masjid Baitul Muhajirin - Pondok Kelapa JakartaTimur)
*Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin Jakarta Timur.