Rokhmin Dahuri: Kontras Prabowo Subianto dan Javier Milei
Rokhmin Dahuri, Guru Besar Emiritus IPB University, Bogor/Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004/Komisi IV DPR RI.
OpiniOleh Rokhmin Dahuri
ORBITINDONESIA.COM - Di atas kertas, Republik Argentina adalah tanah impian bagi kedaulatan pangan. Negara dengan luas wilayah 1,5 kali Indonesia berpenduduk 46 juta jiwa ini, secara alamiah mestinya menjadi lumbung pangan global.
Hamparan padang rumput Pampas yang sangat luas melegitimasi posisinya sebagai produsen utama gandum, jagung, hingga daging sapi kualitas tinggi dunia. Namun, sejarah mencatat ironi yang sadis: Argentina terjerembap ke dalam krisis pangan yang akut.
Ini adalah paradoks yang nyata dan menyakitkan Negeri Tango. Kelangkaan bahan pokok sempat merajalela. Antrean rakyat memanjang demi sepotong roti. Harga pangan meroket, menyulut instabilitas politik hebat -- meruntuhkan rezim demi rezim.
Akar dari segala krisis ini bukan pada alamnya yang ingkar janji. Melainkan pada kanker korupsi yang sistemis serta struktur birokrasi yang gemuk, lamban, dan manja.
Dari tanah Negeri Ronaldo ini, dunia membaca manusia dan alam butuh kerja sama positif. Bahwa berkah alam sebaik apa pun, secemerlang apa pun, tak ada gunanya bila tidak dikelola dengan baik dan kreatif oleh manusia.
Seperti Argentina, negeri dengan bentang alam sangat luas dan subur itu -- ternyata miskin dan lumpuh karena tata kelola yang buruk dari pemerintahnya. Itulah gambaran negeri Lionel Messi sebelum kehadiran Presiden Javier Milei.
Gergaji di Panggung Kampanye
Bayangkan, di tahun 2023 ada seorang calon presiden membawa gergaji mesin ke atas panggung kampanye -- sebuah simbol untuk memotong segala jenis gangguan yang menghambat kemajuan Negeri Tango. Ulah capres Javier Milei itu membuat publik geger. Apa yang terjadi bila sang capres aneh itu jadi presiden?
Melihat ulah sang capres, hampir setiap ekonom konvensional saat itu mencapnya sebagai orang gila yang akan menghancurkan Argentina. Tapi, dengan gayanya yang unik, Javier Milei justru menang dalam Pilpres 29 November 2023.
Menarik. Presiden baru Argentina itu segera merespons pengeritiknya yang tajam. Milei menolak tuduhan gila dari oposisi dengan cara yang gila pula.
Bayangkan! Dalam hitungan bulan setelah dilantik jadi orang nomor satu di Argentina, pria berambut acak-acakan ini justru berhasil membungkam keraguan publik atas janji kampanyenya yang gila tadi.
Milei membuktikan apa yang semula dianggap mustahil oleh pengamat politik, ekonomi, dan oposisi -- berhasil memulihkan ekonomi negeri miskin yang nyaris ambruk itu. Caranya fantastis: merampingkan kabinet dan memangkas ribuan jabatan untuk menghemat APBN. Kontras dengan apa yang terjadi di Indonesia era Presiden Prabowo Subianto yang menggemukkan kabinet dan memperbanyak posisi jabatan.
Milei sudah sangat muak dengan mesin kekuasaan yang tambun, lambat, korup, dan tidak efisien selama ini. Sikapnya yang radikal itu, membuat media dan lawan politik Milei menjulukinya El Loco -- orang gila.
Sementara orang-orang di dalam sistem pemerintahan lama menertawakannya. Mereka yakin, sang presiden baru akan gagal total mereformasi ekonomi dalam waktu singkat.
Semua pihak, dari pengamat domestik hingga lembaga donor internasional mengira reformasi radikal yang Milei tawarkan akan langsung membunuh sisa-sisa perekonomian Negeri Tango. Namun, Milei memiliki garis pemikiran yang radikal, sama sekali berbeda dengan pemikiran ekonom konvensional.
Jawaban Milei atas kritik nyinyir itu tidak berupa retorika atau janji-janji manis. Melainkan aksi ekstrem yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah modern Argentina. Hanya dalam waktu satu bulan menjabat, Milei menerapkan apa yang disebut para analis sebagai terapi kejut (shock therapy) perekonomian.
Terapi Kejut El Loco
Saat pertama kali menginjakkan kaki di istana kepresidenan Casa Rosada pada akhir 2023, Milei mewarisi Argentina yang sudah megap-megap di tepi jurang kehancuran ekonomi. Negara ini terperangkap dalam lingkaran setan defisit fiskal kronis: hiperinflasi tahunan selangit, 211,4 persen.
Lalu apa tindakan El Loco menghadapi kondisi ekonomi genting ini? Sungguh mengagetkan! El Loco memangkas 37.000 hingga 50.000 pekerjaan di sektor publik dan membubarkan separuh dari seluruh kementerian yang ada. Dari 18 kementerian menjadi hanya 8 saja!
Kementerian yang dianggap Milei hanya sebagai beban anggaran dan ladang subur birokrat korup, didepak tanpa kompromi. Kementerian Kebudayaan, Kementerian Perempuan, Gender, dan Keberagaman, Kementerian Lingkungan Hidup, hingga Kementerian Pendidikan dan Tenaga Kerja -- dilebur ke dalam struktur yang jauh lebih ringkas di bawah Kementerian Modal Manusi serta Kementerian Keamanan Nasional. Ribuan lembar catatan regulasi rumit yang selama ini menghambat investasi dan memeras rakyat, dirobek dalam sekejap.
Hasil dari tindakan gila El Loco mengejutkan para pengamat ekonomi yang semula sinis. Laju inflasi bulanan yang sempat melonjak liar di angka 25,5 persen pada Desember 2023 berhasil ditekan secara drastis hingga menyentuh kisaran 2,1 hingga 2,7 persen saja di pertengahan tahun berikutnya. Secara tahunan, inflasi Argentina langsung merosot tajam sebesar 94 poin menjadi 117,8 persen pada penutupan tahun pertama pemerintahannya.
Puncaknya, untuk pertama kalinya sejak tahun 2008, Argentina di bawah kepemimpinan Milei berhasil mencatatkan surplus anggaran nasional fiskal berturut-turut. Di tahun pertama kepresidenannya, Argentina membukukan surplus finansial sebesar 1,76 triliun peso. Pencapaian surplus fiskal ini menjadi tamparan keras bagi teori-teori ekonomi konvensional yang menyebut bahwa pemotongan anggaran drastis hanya akan melahirkan kekacauan sosial
Pelajaran paling berharga dari langkah berani Milei adalah satu hal: asumsi bahwa birokrasi gemuk yang lamban dan kusut tidak bisa dipangkas, ternyata salah besar. Milei membuktikan bahwa sistem birokrasi gemuk -- seperti Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo yang lamban dan boros -- dapat dirampingkan hanya dalam waktu 30 hari tanpa menimbulkan anarki.
Keberhasilan "diet birokrasi" di Buenos Aires ini menjadi tamparan keras sekaligus cermin retak bagi situasi domestik di Indonesia. Ketika Argentina bergerak cepat menuju efisiensi ekstrem dengan menyisakan hanya 8 kementerian demi menyelamatkan uang rakyat, Indonesia justru bergerak ke arah sebaliknya. Di bawah Kabinet Merah Putih, struktur birokrasi di Jakarta kian membengkak secara masif.
Melalui rangkaian restrukturisasi birokrasi dan penambahan kementerian, pos jabatan di kabinet Presiden Prabowo Subianto membubung tinggi. Hingga mencapai 106 posisi jabatan yang terdiri atas 49 kementerian (termasuk 8 kementerian koordinator) serta 57 jabatan wakil menteri.
Fenomena birokrasi tambun ini memicu kekhawatiran besar, karena muncul risiko tumpang tindih kewenangan, lambatnya pengambilan keputusan, hingga tingginya beban keuangan. Jelas, butuh dana besar hanya untuk membiayai belanja pegawai dan operasional berjibun pejabat tersebut.
Aksi radikal Milei memberikan pesan implisit yang tajam bagi dinamika politik di tanah air: bahwa postur pemerintahan yang gemuk tidak berkorelasi lurus dengan efektivitas kinerja. Sebaliknya, penambahan pos jabatan kerap menjadi instrumen akomodasi politik -- ketimbang instrumen untuk solusi krisis ekonomi.
Dampak Global dan Inspirasi Efisiensi
Kini, apa yang terjadi di Buenos Aires bukan lagi sekadar cerita keajaiban Negeri Messi. Semangat efisiensi model El Loco mulai menyebar ke seluruh dunia.
Di belahan bumi utara, misalnya, tokoh bisnis seperti Elon Musk bersama tim efisiensi organisasinya, diam-diam mempelajari setiap langkah yang diambil El Loco. Bos Tesla ini terpukau oleh sistem penghitungan regulasi yang dihapus oleh Milei. Pendiri SpaceX itu berencana membawa model efisiensi El Loco ke Washington.
Pesan Milei untuk para pemimpin negeri yang menghadapi krisis keuangan sangat tegas: Rampingkan birokrasi. Tingkatkan efisiensi hingga batas maksimum. Jangan pernah menyisakan ruang sedikit pun bagi hak-hak istimewa para pejabat.
Dunia kini tersadar bahwa memperbaiki sistem yang rusak tidak selalu membutuhkan waktu puluhan tahun atau kompromi politik yang tiada henti. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian nyata untuk bertindak. Keberanian untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.
Kegilaan Presiden Javier Milei kini menjadi blueprint baru bagi tata kelola negara modern. Ia membuktikan bahwa kehormatan, kedaulatan, dan pembangunan sebuah bangsa harus dimulai dari keberanian merombak dirinya sendiri -- bukan tunduk pada tekanan asing dan mengikuti kehendak politisi yang haus kekuasaan dan uang.
*Rokhmin Dahuri, Guru Besar Emiritus IPB University, Bogor/Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004/Komisi IV DPR RI. ***