Parade Planet Juni 2026: Venus Jupiter Merkurius Sejajar
ORBITINDONESIA.COM – Parade planet Juni 2026 kembali mengundang orang menengadah, karena Venus, Jupiter, dan Merkurius tampak berjajar di langit barat setelah Magrib. Pakar Astronomi BRIN Thomas Djamaluddin menegaskan fenomena ini sudah terlihat beberapa malam terakhir dan berlanjut beberapa malam ke depan.
Istilah “parade planet” terdengar spektakuler, seolah planet-planet benar-benar berbaris rapat di ruang angkasa. Kenyataannya, yang “sejajar” adalah kesan visual dari sudut pandang Bumi, ketika planet-planet berada pada jalur ekliptika yang sama.
Kompas.com mencatat parade planet ini bisa diamati di Indonesia pada Juni 2026, terutama sesudah Matahari terbenam. Thomas menyebut posisinya “hampir satu garis dengan titik Matahari terbenam”, sehingga waktu dan arah pandang menjadi kunci.
Di Jakarta, contoh waktunya adalah Magrib sekitar pukul 17.47 WIB pada Rabu (17/6/2026). Di daerah lain, patokannya tetap sama: beberapa menit setelah Matahari tenggelam, saat langit mulai gelap tetapi ufuk barat masih terbuka.
Secara astronomi, planet-planet tampak berada pada satu lintasan karena semuanya mengorbit Matahari pada bidang yang relatif berdekatan. Ketika konfigurasi orbit membuat beberapa planet berada pada sektor langit yang sama, publik menyebutnya sebagai “planet berjajar”.
Thomas mengatakan fenomena ini dapat diamati “di seluruh dunia yang bisa melihat Matahari terbenam”. Pernyataan ini menegaskan bahwa faktor geografis utama bukan negara, melainkan kesempatan melihat ufuk barat tanpa terhalang awan atau gedung.
Urutan kecerlangan menjadi panduan praktis untuk pemula yang mencari “mana planetnya”. Venus disebut paling terang, disusul Jupiter, sementara Merkurius cenderung redup karena dekat ufuk dan mudah kalah oleh cahaya senja.
Di titik ini, cuaca menjadi variabel paling menentukan, bukan teleskop. Thomas menekankan syarat sederhana: “asalkan langit cerah”, karena awan tipis saja bisa menghapus Merkurius dari pandangan.
Fenomena ini juga menguji literasi sains publik, karena banyak orang mengira planet benar-benar membentuk garis lurus rapat. Padahal, jarak antaraplanet tetap sangat besar, dan “barisan” hanya terjadi pada proyeksi pandang dari Bumi.
Parade planet Juni 2026 seharusnya dibaca sebagai momen pendidikan sains yang murah dan massal. Ketika orang bisa melihat Venus, Jupiter, dan Merkurius dengan mata telanjang, rasa ingin tahu muncul tanpa perlu tiket observatorium.
Namun, bahasa populer sering memelihara sensasionalisme, karena kata “parade” mudah disalahpahami sebagai peristiwa langka yang mengubah tatanan kosmik. Tantangannya adalah mengubah “heboh sesaat” menjadi kebiasaan mengamati, bertanya, lalu memahami.
Di era layar, langit malam juga kalah oleh polusi cahaya dan rutinitas kota. Fenomena seperti ini mengingatkan bahwa sains tidak selalu berada di laboratorium, tetapi juga di ufuk barat beberapa menit setelah Magrib.
Kutipan Thomas yang ringkas justru menampar ekspektasi berlebihan: ini bisa dilihat “sejak beberapa malam lalu sampai beberapa malam berikutnya”. Artinya, keindahan langit tidak selalu menuntut momen tunggal, tetapi kesediaan kita meluangkan waktu.
Untuk menyaksikan parade planet, langkahnya sederhana: cari ufuk barat yang lapang sesaat setelah Matahari terbenam, lalu cari Venus yang paling terang. Setelah itu, ikuti garis ekliptika untuk menemukan Jupiter, dan coba tangkap Merkurius yang redup dekat horizon.
Fenomena ini tidak mengubah hidup secara magis, tetapi bisa mengubah cara kita memandang semesta secara rasional. Barangkali pertanyaan yang tersisa adalah ini: jika tiga planet saja mampu membuat kita berhenti sejenak, apa lagi yang selama ini luput karena kita terlalu sibuk menunduk? (Orbit dari berbagai sumber, 22 Juni 2026)