Kopilot Flydubai Dituding Bajak Pesawat, Target Tel Aviv

BBC

BBC

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kasus kopilot Flydubai yang dituduh mencoba membajak pesawat kembali menghidupkan kata kunci yang paling ditakuti industri penerbangan: terorisme udara dan skenario “seperti 9/11”. Laporan media AS dan Israel menyebut kopilot itu diduga merencanakan menabrakkan Boeing 737 MAX ke Bandara Ben Gurion atau gedung bertingkat di Tel Aviv.

Penerbangan Flydubai FZ1073 rute Dubai–Tel Aviv berubah menjadi krisis ketika kopilot menyerang kapten di kokpit. Jaksa Agung Uni Emirat Arab menyebut tindakan itu sebagai upaya “aksi terorisme”.

Menurut keterangan resmi, kapten diserang menggunakan kapak darurat yang disimpan di kokpit. Pesawat sempat menukik tajam sekitar 17.000 kaki, lalu situasi berbalik setelah penumpang melumpuhkan pelaku.

Awak lain yang kebetulan ikut sebagai penumpang kemudian mengambil alih dan mendaratkan pesawat di Arab Saudi. Insiden ini melibatkan lebih dari 170 hingga 180 penumpang, menurut berbagai laporan media.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan kopilot itu telah menjalani “indoktrinasi radikal Islamis”. Ia menilai kapten, penumpang, dan kru cadangan berhasil mencegah “bencana seperti 9/11”.

Detail paling mengkhawatirkan bukan hanya serangan di kokpit, melainkan dugaan rencana setelahnya. Media Israel mengutip sumber penyelidikan yang menyebut pelaku berniat menerbangkan normal hingga masuk wilayah udara Israel dan mendapat izin mendarat di Ben Gurion.

Setelah itu, ia diduga hendak menabrakkan pesawat ke bandara atau gedung tinggi di pusat Tel Aviv. Pola ini mirip dengan logika serangan 11 September 2001: memanfaatkan pesawat sipil sebagai senjata, bukan sekadar alat sandera.

Data teknis penerbangan memperkuat indikasi adanya gangguan serius di kokpit. Pesawat sempat mengirim squawk 7700 (darurat umum) lalu berubah ke squawk 7500, kode standar untuk “gangguan melawan hukum” atau pembajakan.

Kesaksian penumpang menggambarkan kekacauan itu dalam bahasa paling sederhana: pesawat seperti rollercoaster. Almog Itali mengatakan pesawat menukik cepat 20 hingga 30 detik, stabil, lalu menukik lagi.

Di titik ini, faktor manusia menjadi penentu keselamatan lebih besar daripada teknologi. Presiden Israel Isaac Herzog menyebut Tali Manes sebagai orang pertama yang memberi peringatan, lalu beberapa penumpang masuk ke kokpit saat pintu berhasil dibuka dari dalam.

Yaniv Hayun menyatakan pelaku berusaha merusak instrumen agar pesawat tidak dapat dikendalikan. Ia mengaku mencekik pelaku, menariknya keluar, dan sempat “menarik kendali” pesawat hingga kembali mendatar.

Pertanyaan besar berikutnya adalah soal akses senjata. Kapak darurat memang lazim disimpan di kokpit untuk kondisi tertentu, tetapi penggunaannya sebagai alat serang menyorot kembali celah “insider threat” yang sulit dipagari pemeriksaan bandara.

Nama yang beredar, menurut Reuters, CNN, dan The New York Times, adalah Hamam al-Hammami, warga Oman. Namun identitas ini belum dikonfirmasi resmi, sehingga ruang spekulasi masih terbuka dan rawan dipolitisasi.

Laporan media AS juga menyebut jejak masa lalu yang relevan: saat di Oman Air, ia dikabarkan dikeluarkan dari pelatihan penerbangan karena kekhawatiran atas pandangan radikalnya. Jika benar, maka ini menimbulkan pertanyaan tentang standar berbagi informasi risiko antarindustri dan antarnegara.

Australia ikut masuk dalam rantai cerita ini. Otoritas Australia menyatakan sedang menyelidiki “keterkaitan” pelaku, sementara ABC melaporkan ia pernah belajar di Australia pada 2015–2017 dan visa pelajarnya dibatalkan pada 2019.

Ia juga disebut lulus manajemen penerbangan jarak jauh dari Buckinghamshire New University pada 2023, dan universitas menegaskan ia tidak mengambil pelatihan pilot di sana. Rangkaian data ini belum membuktikan radikalisasi, tetapi menunjukkan betapa mobilitas global membuat penelusuran latar belakang menjadi pekerjaan lintas yurisdiksi.

Kasus kopilot Flydubai ini memperlihatkan paradoks keamanan penerbangan modern. Pemeriksaan penumpang makin ketat, tetapi ancaman paling berbahaya bisa datang dari orang yang sudah dipercaya berada di depan, di balik pintu kokpit.

Narasi “lone wolf” juga perlu dibaca hati-hati. Menyebut pelaku bertindak sendiri memang menenangkan publik, tetapi sering kali mengaburkan ekosistem ideologi, jejaring digital, dan proses radikalisasi yang tidak selalu memerlukan komando organisasi.

Pernyataan politik yang membandingkan insiden ini dengan 9/11 efektif membangun urgensi, tetapi juga berisiko mempercepat vonis sebelum investigasi tuntas. Dalam kasus lintas negara seperti ini, akurasi harus mengalahkan kebutuhan cepat untuk menyimpulkan motif.

Yang paling penting, keberanian penumpang dan kru cadangan memang patut dihormati, tetapi tidak boleh dijadikan “solusi”. Sistem keselamatan tidak boleh bergantung pada heroisme spontan, melainkan pada pencegahan dini, evaluasi psikologis, dan protokol kokpit yang adaptif.

Penyelidikan UEA menjanjikan pengungkapan kronologi, motif, dan kemungkinan keterkaitan pihak lain, lalu hasilnya akan diumumkan setelah selesai. Publik berhak menuntut transparansi tanpa mengorbankan ketelitian, karena satu kesimpulan keliru bisa menstigma komunitas dan menyesatkan kebijakan.

Insiden pembajakan Flydubai menuju Tel Aviv ini mengingatkan bahwa keamanan bukan hanya soal pagar bandara, tetapi juga soal kepercayaan pada orang yang memegang kendali. Pertanyaannya kini sederhana namun berat: apakah industri dan negara-negara siap mengakui bahwa ancaman terbesar kadang datang dari dalam, lalu memperbaiki sistem sebelum tragedi benar-benar terjadi.

(Orbit dari berbagai sumber, 7 Oktober 2026)