BMKG Ungkap Arus Selat Sunda, Jenazah ABK Terdampar di Enggano
ORBITINDONESIA.COM – BMKG menjelaskan bagaimana arus Selat Sunda dan Samudra Hindia dapat membawa jenazah ABK kapal rombongan jurnalis hilang Gunung Anak Krakatau hingga Pulau Enggano, Bengkulu. Jarak temuan yang disebut sekitar 345 kilometer itu memantik duka, sekaligus pertanyaan tentang keselamatan liputan bencana di laut terbuka.
Peristiwa bermula pada 7 September 2026, saat lima jurnalis dan tiga kru kapal dilaporkan hilang ketika hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Pencarian berlangsung beberapa hari, namun akhirnya operasi SAR dihentikan ketika belum semua korban ditemukan.
Pada 12 September 2026, jasad pria tanpa identitas ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, lalu dievakuasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Temuan ini menjadi simpul baru dalam rangkaian tragedi, karena lokasinya jauh dari titik terakhir kapal terdeteksi.
Kepala BMKG Wilayah II, Ana Oktavia Setiowati, menyebut arus di perairan Selat Sunda Barat Pandeglang konsisten mengarah ke barat selama dukungan cuaca operasi SAR sejak 10 September 2026. Kecepatan arus maksimum disebut mencapai 1,5 m/s, atau sekitar 5,4 km/jam.
BMKG juga menegaskan bahwa setelah keluar dari Selat Sunda dan memasuki Samudra Hindia, arus laut cenderung mengarah ke barat laut. Arah ini mencakup jalur menuju perairan Bengkulu, sehingga indikator oseanografi menguatkan kemungkinan jenazah terbawa hingga Enggano.
Data jarak yang beredar turut memberi gambaran kerasnya skala perpindahan di laut lepas. Mengacu pengukuran garis lurus via Google Earth, Pulau Enggano berjarak sekitar 345,05 kilometer dari Pulau Sebesi, titik terakhir kapal disebut terdeteksi.
Secara matematis, arus 5,4 km/jam dapat menempuh 129,6 km per hari jika konstan, meski kenyataannya dipengaruhi gelombang, angin, dan pusaran lokal. Itu berarti jarak 345 km bisa tercapai dalam beberapa hari, terutama bila arus dominan dan tidak ada hambatan signifikan.
Namun laut tidak bekerja seperti garis lurus pada peta digital. Drift benda atau jenazah ditentukan juga oleh windage, kepadatan, pasang surut, serta interaksi arus permukaan dan arus bawah yang bisa berubah tiap jam.
Di titik inilah informasi BMKG menjadi penting, bukan sekadar penjelasan pasca-kejadian. Dalam operasi SAR, pemodelan arus dan prakiraan cuaca seharusnya menjadi dasar pembaruan area pencarian, termasuk prediksi kemungkinan terdampar di pesisir tertentu.
Penjelasan BMKG tentang arus Selat Sunda hingga Samudra Hindia memberi logika ilmiah yang menenangkan, tetapi juga menyiratkan kenyataan pahit: laut dapat “menghapus jejak” dengan cepat. Ketika korban bisa berpindah ratusan kilometer, peluang penemuan tepat waktu menurun drastis.
Tragedi ini juga memantulkan risiko struktural dalam liputan bencana, terutama di wilayah maritim yang dinamis. Dorongan mengejar momen erupsi dan kebutuhan publik akan informasi sering berhadap-hadapan dengan kesiapan kapal, prosedur keselamatan, dan disiplin keputusan untuk mundur.
Publik patut menuntut evaluasi yang lebih terbuka, bukan sekadar kronologi dan belasungkawa. Standar kelayakan kapal, kelengkapan pelampung, alat komunikasi, pelacakan posisi, serta protokol go/no-go berbasis cuaca harus menjadi percakapan utama, bukan catatan kaki.
Daftar delapan orang yang hilang mengingatkan bahwa di balik istilah “ABK” atau “rombongan jurnalis” ada keluarga yang menunggu kepastian. Tes DNA dan identifikasi forensik menjadi jembatan terakhir agar duka tidak menggantung sebagai kabar simpang siur.
Kasus jenazah ABK yang diduga terbawa arus hingga Pulau Enggano menunjukkan betapa kuatnya arus Selat Sunda dan betapa luasnya Samudra Hindia dalam menentukan nasib pencarian. Ilmu arus laut membantu menjelaskan “bagaimana”, tetapi tidak otomatis menjawab “mengapa” risiko bisa sedemikian besar.
Jika berita ini menyisakan satu pelajaran, itu adalah kebutuhan menempatkan keselamatan sebagai prasyarat liputan, bukan opsi yang dinegosiasikan oleh tenggat dan eksklusivitas. Pertanyaannya kini, apakah tragedi ini akan menjadi pemicu perbaikan nyata, atau hanya akan berlalu sebagai angka jarak di peta digital.
(Orbit dari berbagai sumber, 27 September 2026)