Argentina vs Benin: Perpisahan Lionel Messi Tak Sekadar Seremonial

detiksport

detiksport

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Laga Argentina vs Benin di Estadio Monumental bukan sekadar uji coba, melainkan panggung perpisahan Lionel Messi yang menyedot emosi publik. Namun Benin menolak menjadi figuran, dan kiper Marcel Dandjinou terang-terangan menantang Messi tanpa basa-basi.

Argentina menjamu Benin pada Rabu (7/10) pukul 06.00 WIB di Buenos Aires dalam laga uji coba yang dibingkai sebagai salam terakhir Messi bersama Tim Tango. Narasi “perpisahan” membuat pertandingan semacam ini sering berubah menjadi acara penghormatan, bukan kompetisi yang seimbang.

Di titik itulah Benin merasa perlu memasang garis tegas. Dandjinou menyebut laga ini “kesempatan sekali seumur hidup”, tetapi ia menolak timnya datang sebagai turis yang hanya melengkapi panggung.

Dalam sepak bola modern, laga testimonial atau laga perpisahan sering memproduksi dua hal sekaligus: nostalgia dan komersialisasi. Stadion penuh, sorotan kamera intens, dan ekspektasi publik mengarah pada satu momen ikonik, biasanya gol sang bintang.

Benin membaca arus itu, lalu memilih melawan arusnya. “Kami di sini untuk membela Benin… kami di sini untuk bermain dan berkompetisi,” kata Dandjinou kepada beIN Sports, sebuah pernyataan yang menegaskan martabat tim kecil di tengah pesta besar.

Secara teknis, Argentina tetap unggulan telak karena kualitas individu dan struktur permainan yang mapan. Tetapi dalam laga uji coba, intensitas kerap ditentukan oleh motivasi, dan Benin justru punya motivasi yang unik: menunjukkan bahwa penghormatan tidak identik dengan menyerah.

Pernyataan Dandjinou soal penalti di menit akhir adalah simbol paling jelas. “Bahkan jika ada penalti, dan Messi eksekutornya, saya akan berusaha menepisnya,” ujarnya, menempatkan profesionalisme di atas romantisme.

Di sisi lain, Argentina menghadapi isu yang lebih besar dari satu pertandingan, yakni transisi pasca-Messi. Media dan publik sudah mulai membicarakan “Argentina harus bisa hidup tanpa Messi”, dan laga seperti ini menjadi semacam latihan psikologis untuk menerima kenyataan itu.

Jika Messi memang berada di panggung terakhir, maka yang diuji bukan hanya Benin yang bertahan, melainkan Argentina yang harus tetap meyakinkan tanpa bergantung pada satu sosok. Di ruang itulah laga uji coba berubah fungsi, dari hiburan menjadi cermin masa depan.

Menariknya, justru Benin yang menawarkan pelajaran tentang cara menghormati legenda. Mereka tidak menyanjung dengan cara melemah, melainkan dengan cara bermain sungguh-sungguh, karena kompetisi adalah bentuk penghormatan paling jujur dalam olahraga.

Pesta perpisahan sering menggoda sepak bola untuk menjadi teater yang terlalu rapi. Dandjinou merusak kerapian itu, dan di situlah emosinya menjadi lebih otentik, karena Messi tidak diberi “kado”, ia diminta membuktikan.

Ada kritik halus yang patut dibaca di balik ucapannya: publik kerap menginginkan akhir yang indah, sementara sepak bola sejatinya tidak berutang pada skenario. Jika Messi mencetak gol, itu harus lahir dari kualitas, bukan dari kelonggaran yang disepakati diam-diam.

Sudut pandang ini juga menantang cara kita memandang tim kecil. Benin tidak sekadar pelengkap jadwal FIFA, melainkan negara dengan harga diri, dan satu duel melawan Messi bisa menjadi bahan bakar identitas bagi generasi pemain berikutnya.

Argentina vs Benin menunjukkan bahwa perpisahan Lionel Messi bisa tetap sakral tanpa harus dibuat lunak. Benin datang membawa satu pesan sederhana: hormat tidak berarti memberi jalan.

Jika sepak bola adalah ruang untuk menguji kebenaran, maka kebenaran terakhir Messi seharusnya lahir dari perlawanan, bukan dari kesepakatan. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan “apakah Messi mencetak gol”, melainkan “apakah kita masih membiarkan sepak bola jujur, bahkan di malam perpisahan.” (Orbit dari berbagai sumber, 9 Oktober 2026)