Songer Yang dan Seni Slowness: Memori Keluarga dalam Material Culture

Our Culture Mag

Our Culture Mag

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Songer Yang, seniman visual lintas medium, memakai material culture untuk menguji satu hal yang sering kita abaikan: bagaimana benda rumah tangga menyimpan memori keluarga dan duka yang tak terucap. Di tengah budaya serba cepat, ia memilih seni slowness lewat ritual kerja tangan yang repetitif, seolah memaksa dunia berhenti sejenak dan mendengar suara rumah.

Dalam era hyper-acceleration dan instant gratification, pengalaman emosional sering dipadatkan menjadi konten singkat dan respons cepat. Di ruang seperti itu, kehilangan kerap tidak diberi waktu, padahal duka bekerja pelan dan berlapis.

Songer Yang, lulusan BFA School of Visual Arts dan MFA Cranbrook Academy of Art, menempatkan benda domestik sebagai arsip hidup. Ia tidak memperlakukan tekstil, sendok, atau kain sebagai properti, tetapi sebagai simpul relasi antargenerasi.

Di budaya Tiongkok, meja makan sering menjadi bahasa cinta yang paling nyata, karena kasih sayang diucapkan lewat makanan. Maka hilangnya sebuah sendok masa kecil bukan kejadian remeh, melainkan putusnya “benang fisik” yang menghubungkan tubuh dengan sejarah keluarga.

Proyek “Spoon (Part 1, 2024)” dimulai dari kehilangan sendok yang dulu dipakai untuk makan telur kukus buatan sang nenek. Yang lalu bekerja bersama kakeknya, menempa tembaga dari rice cooker rusak dan peralatan rumah tangga untuk “menghidupkan” kembali benda yang hilang.

Langkah itu kemudian diperluas dalam “Spoon (Part 2, 2025)”, ketika ia menempa satu sendok tembaga dan timah setiap hari selama sebulan dari ingatan. Di titik ini, repetisi menjadi metode, dan waktu menjadi bahan baku yang sama pentingnya dengan logam.

Hasilnya mengandung paradoks yang tajam: bentuk bisa diulang tanpa batas, tetapi nilai sentimental tidak bisa disalin. Ketika sendok bertambah, ingatan justru mengabur menjadi abstraksi, dan itulah bukti bahwa memori tidak bekerja seperti mesin cetak.

Di karya soft sculpture seperti “Hair (2024)” dan “Womb (2024)”, Yang menempatkan yarn, foam, kain, dan beads sebagai arsip tubuh perempuan. Material itu terasa lembut, tetapi menyimpan ketegangan, karena ranah domestik bisa sekaligus menjadi tempat lindung dan ruang represi generasional.

Dalam “Pray (2025)”, kain yang menua dan besi berpatina tampil sebagai ritual ketahanan menghadapi duka serta kerja perawatan yang tak terlihat. Yang seolah menegaskan bahwa care bukan slogan, melainkan kerja fisik yang menguras waktu, tenaga, dan emosi.

Pilihan melambat ini relevan dengan tren luas: budaya kerja cepat dan ekonomi perhatian mendorong produksi instan, sementara praktik craft menuntut durasi. UNESCO sendiri memasukkan “traditional craftsmanship” dalam kerangka warisan budaya takbenda, karena pengetahuan tangan dan waktu adalah sesuatu yang mudah hilang ketika segalanya dipercepat.

Di sini, karya Yang tidak sekadar nostalgia, melainkan kritik halus terhadap dunia yang memuja efisiensi. Ia menunjukkan bahwa repetisi bukan pemborosan, melainkan cara membangun “arsitektur internal” bernama rumah, setahap demi setahap.

Kekuatan karya Songer Yang ada pada keberaniannya menolak romantisasi pemulihan. Ia tidak menjanjikan bahwa benda yang hilang bisa kembali utuh, dan ia juga tidak menipu penonton dengan ilusi “kembali seperti dulu”.

Yang justru memindahkan fokus dari hasil ke proses, dari objek ke ritual. Dalam logika ini, menempa sendok setiap hari bukan upaya mengganti masa lalu, melainkan cara menampung luka agar tidak tercecer.

Namun ada pertanyaan kritis yang patut diajukan: apakah “slowness” bisa menjadi kemewahan yang hanya mungkin bagi sebagian orang. Ketika banyak pekerja hidup dalam tekanan waktu, karya seperti ini sekaligus mengingatkan bahwa melambat adalah hak, bukan sekadar gaya hidup.

Di sisi lain, material culture yang ia bangun menghindari jebakan sentimentalitas murahan. Ia menempatkan benda sebagai agen yang memengaruhi hidup, dan itu selaras dengan kajian budaya material yang membaca objek sebagai pembawa relasi sosial, bukan sekadar barang.

Pada akhirnya, Yang menawarkan definisi rumah yang tidak geografis. Rumah menjadi tindakan, yaitu menyentuh, merawat, menjahit, dan mengulang, meski tubuh berada jauh dari Tiongkok.

Songer Yang menunjukkan bahwa kehilangan tidak perlu disangkal, dan pemulihan tidak harus sempurna. Yang bisa kita lakukan adalah membangun tempat singgah baru dari sisa-sisa yang ada, lewat kerja tangan yang jujur dan sabar.

Di dunia yang mengukur nilai dari kecepatan, ia mengukur makna dari durasi. Barangkali pertanyaan tersisa bagi kita sederhana namun menohok: kapan terakhir kali kita memberi waktu pada memori, sebelum ia berubah menjadi benda yang “hilang” di dalam diri? (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)